Deri Ramdhani’s Weblog


Burung-burung Kota Bandung (Ekspedisi Kutilang)

Executive Summary


Berdasarkan survey yang telah dilakukan BICONS dan data Ramdhani 2006, telah tercatat 86 jenis
burung yang menghuni Kota Bandung. Survey dilakukan di beberapa lokasi yang memiliki kelimpahan
burung yang tinggi, dan dilakukan di tiga tipe habitat burung antara lain: Taman kota, Lahan basah,
dan Ladang/kebun.
Hasilnya adalah:

  1. Terdapat 13 jenis burung endemik (15,12 %) yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa atau di Indonesia saja,
  2. Tercatat 15 jenis burung migran (17,44 %) yang melakukan perpindahan dari Wilayah Utara bumi pada musim dingin ke wilayah selatan bumi, dan kembali lagi ke utara pada musim panas.
  3. Terdapat 24 jenis burung (27,91 %) yang memiliki status dilindungi berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia, Apendiks CITES (Convention on Trade in Endangered Species of wild fauna and flora), dan IUCN (International Union for Conservation of Nature)

Dari 86 jenis burung yang tercatat, sebagian besar ditemukan di tipe habitat taman kota, yaitu 57
jenis burung (66,28 %) seperti di taman lingkungan, jalur hijau jalan, dan tempat pemakamam umum.
Hal ini menandakan jenis burung yang ditemukan di Bandung sangat tergantung dengan pepohonan
(arboreal) baik sebagai tempat untuk berkembangbiak, berlindung, dan mencari makan.
Lahan basah di Bandung menyediakan habitat bagi 41 jenis burung (47,67 %), lahan basah tersebut
berupa sawah, kolam atau sungai. Sedikitnya ditemukan 8 jenis (9,30 %) burung yang dikategorikan
sebagai burung air (kelompok burung yang mencari makannya tergantung pada keberadaan air).
Keberadaan lahan basah di Kota Bandung semakin terancam oleh pembangunan, dimana sebagian
besar terdapat di wilayah Bandung Timur dan Selatan yang memiliki tingkat perubahan fungsi lahan
yang tinggi.
Tipe habitat ladang/kebun yang terdapat di Bandung Utara dan Timur merupakan habitat yang baik
bagi beberapa jenis burung tertentu, seperti kelompok burung semak. Pada habitat tersebut tercatat
38 jenis burung (44,19 %) yang menghuni ladang dan kebun.
Kota Bandung menyediakan sumber makanan yang melimpah bagi burung. Sebagian besar (61 jenis
burung atau 70,93 %) sumber makanannya berupa serangga (insektivor). Dengan demikian burung
merupakan predator yang efektif yang berfungsi sebagai pengendali hama serangga, baik serangga
pada pohon, tanah, maupun serangga yang terbang di udara. Kelompok burung lainnya yang dapat
ditemukan di Kota Bandung adalah kelompok pemakan buah (frugivor 20,93 %), dan kelompok
burung pemakan biji (granivor 20,93 %). Kedua kelompok tersebut berfungsi secara alami sebagai
penyebar bibit tumbuhan yang berasal dari biji pohon tersebut. Kelompok burung yang lain berfungsi
membantu di dalam penyerbukan bunga, yaitu burung penghisap madu (nektarivor 3,49 %).
Kelompok burung air yang dapat ditemukan di kawasan lahan basah di Bandung menggantungkan
sumber makanannya pada ikan dan biota air lainnya (piscivor 13,95 %). Selain itu juga Kota Bandung
dihuni oleh kelompok burung pemangsa yang berfungsi sebagai top predator (karnivor 12,79 %).
Beberapa jenis burung pemangsa tersebut ditemukan hanya pada waktu tertentu saja yaitu pada
musim migrasi yang terjadi sekitar bulan September atau Oktober.

Keterangan status IUCN:
1. Extinct (Punah):
Species (dan taksa lain, seperti subspesies dan varietas) yang tidak ditemukan lagi di alam
2. Endangered (Genting):
Spesies yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk punah dalam waktu dekat
3. Vulnerable (Rentan):
Spesies yang genting dalam waktu dekat, karena populasinya menurun dan sebenarnya
menyusut
4. Rare (Langka):
Spesies yang mempunyai jumlah individu sedikit, seringkali disebabkan oleh sebaran geografis
yang terbatas atau kepadatan populasi yang rendah

Cucak-cucakan/The Bulbuls Family (Pycnonotidae)


Karakteristik : memiliki leher dan sayap pendek, ekor agak panjang dan paruh ramping.
Mempunyai bulu yang halus dan lembut, beberapa jenis berjambul tegak. Bulu burung jantan dan
betina mirip, kebanyakan mempunyai warna bulu yang buram dengan pola warna kuning, jingga,
hitam dan putih.
Burung cucak-cucakan terutama merupakan burung pemakan buah-buahan, walaupun mereka
juga memakan serangga. Merupakan burung yang penuh percaya diri, dengan kicauan yang ramai,
dan sangat musikal pada beberapa jenis. Cenderung hidup di pohon dan membuat sarang berbentuk
mangkuk yang tidak rapi. Tidak satu pun merupakan burung migran.
Di Sunda Besar terdapat 29 burung cucak, merbah, dan brinji.
Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Memiliki ukuran ± 20 cm, dengan kepala bertopi hitam. Pada bagian tunggir keputih-putihan
dan bagian tungging berwarna jingga kuning. Bagian dagu dan kepala atas hitam. Kerah, tunggir, dada,
dan perut putih. Sayap berwarna hitam dengan ekor berwarna coklat. Bagian iris mata berwarna
merah, sedangkan paruh dan kaki berwarna hitam. Suaranya merdu dan nyaring “cuk-cuk”, dan
“cang-kur” yang diulang cepat.
Penyebaran burung ini secara global mulai dari Cina selatan, Asia tenggara (kecuali
Semenanjung Malaysia) dan Jawa. Diintroduksi ke Sumatera dan Sulawesi selatan, juga baru-baru ini
mencapai Kalimantan selatan. Sedangkan penyebaran lokalnya sampai Sumatera, Jawa dan Bali. Di
Jawa dan Bali, merupakan salah satu jenis yang tersebar paling luas dan umum, sampai ketinggian
sekitar 1.600 mdpl.
Burung ini memiliki kebiasaan hidup dalam kelompok yang aktif dan ribut, sering berbaur
dengan jenis cucak lain. Lebih menyukai pepohonan terbuka atau habitat bersemak, di pinggir hutan,
tumbuhan sekunder, taman, dan pekarangan, atau bahkan kota besar seperti halnya di Kota Bandung.

Di Kota Bandung burung ini hidup di taman-taman kota dan pekarangan yang ditumbuhi oleh
pepohonan berbiji yang menjadi sumber makanannya.
Status perlindungan jenis burung ini tidak termasuk ke dalam burung yang dilindungi. Akan
tetapi burung ini dijadikan sebagai simbol fauna Kota Bandung yang disandingkan dengan
Patrakomala (Caessalpinia pulcherima) sebagai simbol floranya
Populasi dan Distribusi Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Dari sekitar 36 lokasi yang disurvey, tidak seluruhnya ruang terbuka hijau yang di dalamnya terdapat
burung kutilang. Hanya sekitar 27 lokasi yang tercatat adanya kutilang, dimana lokasi yang paling
besar jumlah populasinya adalah di Taman Merdeka, yaitu sekitar 26 individu atau sekitar 9,85%.

Populasi dan Distribusi Kutilang di Bandung



Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Universitas Padjadjaran

KKN yang saya rasakan sangat jauh berbeda dengan yang saya perkirakan sebelumnya. Awalnya saya mengira akan dapat merasakan hal yang sama dengan apa yang diceritakan oleh teman-teman yang mengikuti KKN di luar daerah. Tetapi hal tersebut jauh dari bayangan sebelumnya. Walaupun demikian KKN ini merupakan hal baru bagi saya, dan segala permasalahan di dalamnya menambah pengalaman dan wawasan pribadi.

Jauh hari sebelum KKN dimulai, saya sudah mempersiapkan program-program yang dapat berguna bagi diri pribadi, khususnya pengaplikasian disiplin ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan selama ± 3 tahun. Karena saya yakin ilmu yang saya dapatkan akan jauh lebih baik jika diamalkan dan diaplikasikan, apalagi untuk masyarakat umum. Persepsi KKN bagi saya pribadi adalah suatu momentum dimana kita sebagai mahasiswa penyambung lidah rakyat dapat sepenuhnya mengabdi pada masyarakat secara optimal menurut kemampuan kita. Saya yang dibesarkan di masyarakat, yang selama ± 2 tahun aktif di salah satu LSM pelestari lingkungan, dan bergelut di bidang ilmu Biologi yang erat kaitannya dengan ekologi lingkungan dan kemasyarakatan merasa tertantang dengan adanya KKN ini. Di sinilah saya akan berkreasi, di sinilah saya akan berkarya, dan di sini pula saya akan bekerjasama dengan rekan-rekan seperjuangan yang notabene-nya berasal dari berbagai disiplin ilmu dari jurusan dan fakultas se-Unpad.

Program kerja yang saya buat untuk KKN setelah dikonsultasikan dengan teman-teman di LSM yaitu mengambil tema: peningkatan kesadaran masyarakat terhadap fungsi flora dan fauna sebagai komponen lingkungan hidup agar tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Adapun perumusan masalahnya dilatarbelakangi oleh semakin maraknya permasalahan di masyarakat mengenai: 1). Pengkoleksian binatang liar di rumah; 2). Kurangnya kesadaran terhadap alam (flora & fauna) beserta lingkungan; 3) Terjadinya berbagai dampak negatif dari poin 1 & 2, seperti halnya: rusaknya alam beserta isinya, dsb. Oleh karena itu diperlukannya suatu pemilihan alternatif pemecahan masalah seperti program penyadartahuan terhadap masyarakat secara lisan maupun tulisan melalui berbagai media yang ada. Adapun metode yang rencananya akan saya pakai adalah metode PRA (Participatory Rural Appraisal).

Akan tetapi rencana besar saya layu sebelum berkembang, dikarenakan banyak faktor, seperti teman-teman di kelompok yang hanya menginginkan program kerja yang tidak terlalu rumit dan mudah untuk dilaksanakan. Memang didalam hati saya merasa kecewa, tetapi saya juga tidak dapat memaksakan program saya yang satu ini, karena ternyata untuk mewujudkan semuanya kita harus memiliki kesamaan visi dan misi.

Kendati demikian, usulan program saya yang lain dapat diterima oleh kelompok, walaupun program tersebut agak sederhana dan sama dengan programnya kelurahan dan kecamatan, program tersebut adalah penghijauan.

Adapun pelaksanaan program penghijauan mengalami berbagai masalah. Pada awalnya kami mempersiapkan bibit-bibit tanaman yang berasal dari pencangkokan tanaman yang berada di depan kelurahan tepatnya di depan sekretariat Karang Taruna, anggota yang terlibat antara lain: saya sendiri, Yuli K, Reni & Rina, Widiayu, Andieva, Dody, Ika, Sendy, Ella, dan Firman. Pencangkokan yang kami lakukan ternyata tidak sesuai dengan yang kami harapkan, hasilnya tidak dapat menghasilkan bibit tanaman yang baru. Setelah beberapa minggu kemudian kami ditawari oleh pihak Kecamatan Regol untuk membuat proposal pengajuan penghijauan di wilayah Cigereleng. Pihak kecamatan menjamin akan menyediakan bibit-bibit tanaman yang kemudian akan kita tanam di tiap-tiap RW. Akhirnya proposal pun kami buat dan kami usulkan, akan tetapi pihak kecamatan berkelit, katanya “bibit-bibit yang ada bagusnya berasal dari masyarakat, agar masyarakat memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap tanaman tersebut, dan kami hanya akan menyediakan bibit apabila terdapat sisa-sisa lubang yang belum ditanami oleh masyarakat”. Begitulah yang dikatakan beliau, walaupun ada perasaan kecewa saya tidak menyerah untuk menyediakan bibit tanaman secara swadaya. Pengusulan proposal ke masyarakat sangatlah berat, karena biasanya masyarakat sulit untuk diminta sumbangsih berupa dana/barang.

Akhirnya waktunya tiba, sepulang kuliah saya langsung pergi ke Arboretum Jurusan Biologi tempat ditanamnya berbagai macam tanaman untuk keperluan laboratorium alam, di sana saya mengambil beberapa bibit pohon johar (Cassia siamea) yang tumbuh liar, setelah itu saya membawanya ke kelurahan untuk kami tanam di depan Lapangan Voli dan di pekarangan kelurahan. Setelah sampai di sana teman-teman langsung menyambut dan mulai membantu menanam bibit tersebut. Mereka yang turut serta antara lain Kemas, Mevi, Andieva, Yovita, Dody, Sendy, dan Bapak Dadang Sopiyana selaku Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Cigereleng.

Sebagai tanaman pelengkapnya, saya, Kemas, dan Andieva membeli tanaman hias yang lokasinya berada di Tegal Lega. Kami membeli tanaman hias sebanyak 11 buah karena dana yang ada sangat terbatas. Tanaman hias itu sekarang berada di ruangan sekretariat KKN Cigereleng yang rencananya akan diserahkan kepada pihak kelurahan.

Program-program kegiatan yang lain seperti pendataan PKL dan Penyuluhan Narkoba telah berhasil kita lakukan. Penanggung jawab program ini adalah Popon. Pada program pendataan PKL saya yang langsung terjun ke jalan ditemani oleh Dody dan motornya berhasil mendata ± 12 orang PKL, dan jumlah tersebut mencapai rekor jika dibandingkan dengan pendataan yang dilakukan rekan-rekan yang lain. Selain hasil yang dapat kita dapatkan berupa data-data biografi mengenai para PKL saya juga dapat melatih diri dan meningkatkan kemampuan saya di bidang wawancara, dan yang tak kalah pentingnya kita dapat mengenal lebih jauh tentang kehidupan saudara-saudara kita yang tengah berjuang dalam kehidupan yang begitu kompleks ini. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari pendataan PKL tersebut, contohnya adalah saya menjadi kenal dan akrab dengan para PKL yang mangkal di depan jalan BKR tepatnya di depan TK Dian Kencana, dan ternyata ada seorang PKL yang pernah mengenyam bangku kuliahan seperti kita, dan usaha dagangnya itu kini ditekuninya karena sulitnya untuk mencari pekerjaan. Hal seperti itulah yang pernah membuat saya patah arang, apakah saya akan seperti itu juga??. Tapi hal tersebut juga yang selalu menjadi cambuk agar saya tidak menyia-nyiakan kuliah dan berusaha menjadi lulusan yang siap mental dan memiliki wawasan dan pengalaman yang luas.

Program kami yang menurut saya sukses adalah program penyuluhan narkoba yang diselenggarakan di SMUN 11 Bandung, SMA tersebut adalah almamater saya, oleh karena itu suatu kebanggaan tersendiri ketika kami mengadakan program tersebut di sana. Karena selain dapat bersilaturahmi dengan guru-guru SMA, saya juga dapat mengetahui kemajuan almamater saya sendiri yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Teman-teman yang ikut terlibat dalam kegiatan ini adalah, saya sendiri, Andieva sebagai penanggungjawab program, Yuli, Kemas, Reni&Rina, Mevi, Rudi, Harpend, Dody, Ika, Nina, Reny, Sendy, dan Ella.

Kegiatan ini cukup berjalan lancar walaupun ada beberapa masalah yang akhirnya dapat diselesaikan, seperti pengiriman surat yang seharusnya ditujukan untuk Bapak Kapolsek Regol ternyata undangan tersebut ditujukan bagi ketua Granat, dan akhirnya saya yang kena diberi pengarahan Pak Polisi, dan memang hal tersebut kesalahan dari pengetikan. Kemudian ketika berjalannya acara spanduk yang terselip lambang sponsor MacDonald mengalami hambatan untuk dipasang, karena tempat untuk penyuluhan berada di Masjid yang biasanya menolak produk-produk seperti MacDonald. Tapi akhirnya karena melihat kemaslahatan, spanduk tersebut dapat dipasang.

Dan masih banyak cerita-cerita lain mengenai KKNM di Kelurahan Cigereleng, dan apabila diceritakan semuanya saya yakin akan menghabiskan ratusan lembar. Dan saya percaya walaupun Bu Dian sangat jarang mengontrol kami karena kesibukannya, tapi nun jauh di sana Beliau selalu mengiringi kami dengan doa sehingga program demi program dapat kita jalankan sesuai dengan harapan kita.


Burung-burung di Kawasan PATUHA Ciwidey (Kawah Putih dan Ranca Upas)

Burung-burung di Kawasan PATUHA Ciwidey (Kawah Putih dan Ranca Upas)

Oleh: Deri Ramdhani


Kawasan Pegunungan di Ciwidey yang terletak di sebelah selatan kota Bandung memiliki kelimpahan burung yang cukup beranekaragam. Keberadaan burung tersebut tidak terlepas dari kondisi habitat kawasan tersebut yang masih terjaga. Beberapa titik di kawasan Ciwidey merupakan ekosistem hutan alami, dan sebagian lagi sudah menjadi perkebunan dan pemukiman. Dua diantaranya yang masih memiliki ekosistem hutan adalah kawasan Kawah Putih dan Ranca Upas. Kedua kawasan tersebut merupakan kawasan wisata yang kini dikelola oleh Perhutani.

Kawah Putih dan Ranca Upas merupakan habitat bagi 103 jenis burung, baik jenis yang penetap ataupun jenis burung pengunjung dari Bumi Utara. Sedikitnya tercatat 10 jenis burung pengunjung (migran) yang terdapat di kawasan ini. Burung migran tersebut dapat teramati pada bulan-bulan tertentu yaitu dari bulan Oktober sampai bulan Maret. Salah satunya adalah burung Bubut-pacar jambul (Clamator coromandus) yang berukuran cukup besar dari kelompok Cuculidae. Selain itu terdapat burung kecil jenis Sikatan mugimaki (Ficedula mugimaki) yang berkunjung di kawasan ini.
Selain jenis migran, terdapat juga jenis burung endemik atau burung yang hanya terdapat di Pulau Jawa atau di Indonesia saja. Tak kurang dari 32 jenis burung yang endemik tercatat di kawasan ini. Dari 103 jenis burung yang ditemukan, 21 jenis termasuk burung-burung yang dilindungi, baik oleh Peraturan Pemerintah RI, Konvensi Perdagangan Internasional (Apendiks CITES), maupun Peraturan Konservasi Internasional (IUCN). Empat jenis burung yang ditemukan di kawasan ini masuk ke dalam kategori IUCN, antara lain: burung Cica matahari (Crocias albonotatus) dan Sikatan dada-merah (Ficedula dumetoria) yang memiliki status Near Threatened (hampir punah). Sedangkan dua jenis berikutnya memiliki status Endangered (terancam), yaitu: Luntur harimau (Harpectes reindwartii), dan Elang jawa (Spizaetus bartelsi) yang diidentikkan sebagai lambang Negara Indonesia.

Burung-burung yang ada di Kawasan Patuha dsk (Kawah putih dan Ranca upas)

No   Nama Jenis                  Nama Lokal          Distribusi     Status Perlindungan

1. Acrocephalus orientalis Kerakbasi besar     M
2. Aethopyga eximia Burung-madu gunung     E        A, D, E
3. Aethopyga mystacalis Burung-madu jawa    E A, E
4. Alcippe pyrrhoptera Wergan jawa        E D, E
5. Alophoixus bres Empuloh janggut
6 Amandava amandava    Pipit benggala
7 Amaurornis phoenicurus    Kareo padi
8 Arachnothera longirostra   Pijantung kecil      A, E
9 Arborophila javanica   Puyuh-gonggong jawa     E
10 Artamus leucorhynchus    Kekep Babi
11 Brachypteryx leucophrys    Cingcoang coklat
12 Brachypteryx montana   Cingcoang biru
13 Centropus bengalensis   Bubut alang-alang
14 Cettia vulcania    Ceret gunung
15 Chloropsis cochinchinensis    Cica-daun Sayap-biru
16 Cinclidium diana    Berkecet biru-tua     E
17 Clamator coromandus    Bubut pacar jambul     M
18 Collocalia linchi    Walet linci
19 Coracina larvata    Kepudang-sungu gunung     E
20 Crocias albonotatus    Cica matahari             E               D, E, NT
21 Cuculus saturatus    Kangkok ranting
22 Cuculus sepulcralis    Wiwik uncuing
23 Culicicapa ceylonensis    Sikatan kepala-abu
24 Dendrocopus macei    Caladi ulam
25 Dicaeum trochileum    Cabai jawa            E
26 Dicaeum sanguinolentum Cabai gunung               E
27 Dicrurus leucophaeus    Srigunting kelabu
28 Dicrurus remifer    Srigunting bukit
29 Ducula lacernulata    Pergam punggung-hitam               E
30 Enicurus leschenaulti    Meninting besar
31 Enicurus velatus    Meniniting kecil                           E
32 Erythrura hyperythra    Bondol-hijau dada-merah
33 Eumyias indigo    Sikatan ninon                            E
34 Falco moluccensis   Alap-alap sapi                 E             B, E, II
35 Ficedula dumetoria   Sikatan dada-merah                     NT
36 Ficedula hyperythra    Sikatan bodoh
37 Ficedula mugimaki    Sikatan mugimaki        M
38 Ficedula westermanni    Sikatan belang
39 Gallus varius    Ayam-hutan hijau             E
40 Halcyon cyanoventris    Cekakak jawa               E                 A, E
41 Harpactes reinwardtii    Luntur harimau         E              A, EN
42 Hemipus hirundinaceus   Jingjing batu
43 Hirundo striolata   Layang-layang loreng
44 Hirundo tahitica    Layang-layang batu
45 Ictinaetus malayensis    Elang hitam                       B, E, II
46 Ixobrychus cinnamomeus    Bambangan merah
47 Lanius schach    Bentet kelabu
48 Lanius tigrinus    Bentet loreng                        M
49 Lonchura leucogastroides    Bondol jawa           E
50 Lonchura punctulata     Bondol peking
51 Lophozosterops javanicus     Opior jawa              E          D
52 Macronous flavicollis    Ciung-air jawa          E
53 Macropygia ruficeps    Uncal kouran
54 Malacocincla sepiarium     Pelanduk semak
55 Megalaima armillaris     Takur tohtor                 E            D, E
56 Megalurus palustris    Cica-koreng jawa
57 Motacilla cinerea    Kicuit batu                  M
58 Napothera epilepidota    Berencet berkening
59 Nectarinia jugularis    Burung-madu sriganti                 A, E
60 Oriolus chinensis    Kepudang kuduk-hitam
61 Orthotomus cuculatus    Cinenen gunung
62 Orthotomus sepium    Cinenen jawa                    E
63 Parus major     Gelatik-batu kelabu
64 Passer montanus    Burung Gereja Erasia
65 Pericrocotus miniatus     Sepah gunung E
66 Pernis ptylorynchus       Sikep madu asia                    M B, E, II
67 Phaenicophaeus curvirostris    Kadalan birah
68 Phylloscopus borealis     Cikrak kutub             M
69 Phylloscopus trivirgatus      Cikrak daun
70 Picus miniaceus     Pelatuk merah
71 Pnoepyga pusilla     Berencet kerdil
72 Pomatorhinus montanus     Cica-kopi Melayu
73 Prinia familiaris     Perenjak jawa                    E
74 Prinia inornata    Perenjak padi
75 Prinia polychroa     Perenjak coklat
76 Psaltria exilis     Cerecet jawa                           E             D
77 Pteruthius aenobarbus    Ciu kunyit
78 Pteruthius flaviscapis Ciu besar
79 Ptilinopus porphyreus Walik Kepala-ungu                   E
80 Pycnonotus aurigaster Cucak kutilang
81 Pycnonotus bimaculatus     Cucak gunung                  E
82 Pycnonotus goiavier     Merbah Cerukcuk
83 Reindwardtipicus validus     Pelatuk kundang
84 Rhinomyias olivacea     Sikatan-rimba dada-coklat
85 Rhipidura phoenicura    Kipasan ekor merah             E       D, E
86 Scolopax saturata     Berkik-gunung merah
87 Seicercus grammiceps     Cikrak muda               E
88 Sitta azurea     Munguk loreng
89 Spilornis cheela     Elang ular bido                        B, E, II
90 Spizaetus bartelsi     Elang jawa              E               B, E, EN, II
91 Spizaetus cirrhatus     Elang brontok                       B, E, II
92 Stachyris melanothorax     Tepus pipi perak          E           D, E
93 Stachyris thoracica      Tepus leher-putih             E                D
94 Streptopelia chinensis     Tekukur biasa
95 Sturnus sturninus     Jalak cina                    M
96 Tesia superciliaris     Tesia jawa                E
97 Treron oxyura     Punai salung
98 Tringa hypoleucos      Trinil pantai               M
99 Turnix suscitator      Gemak loreng
100 Zoothera dauma     Anis Sisik
101 Zoothera sibirica     Anis Siberia              M
102 Zosterops montanus     Kacamata gunung
103 Zosterops palpebrosus     Kacamata biasa

Sumber: Data Primer Bird Conservation Society 2008 dan Ramdhani 2006

Keterangan:
Peraturan Pemerintah RI
A = Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931
B = SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970
C = SK. Mentan No.66/kpts/um/2/1973
D = SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979
E = Peraturan Pemerintah No 7 th 1999
II = Apendiks CITES II
IUCN
EN = Endangered (terancam)
NT = Near Threatened (hampir punah)
Distribusi
M = Migran
E = Endemik Jawa/Indonesia

Kawasan Kawah Putih dan Ranca Upas memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Masing-masing memiliki ciri khas yang sulit ditemukan di tempat yang lain. Kawah Putih merupakan kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha, sedangkan Ranca Upas berada di bawahnya yang menjadi tempat bermuaranya sebagian air dari gunung-gunung yang ada disekitarnya. Kedua kawasan tersebut terletak pada suatu bentangan Gunung Patuha. Patuha sendiri berasal dari nama Pak Tua, dan masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh, dengan ketinggian 2.434 m dpl, dengan kisaran suhu 8-22°C, dan curah hujan 3740-4050 mm/th. Sedangkan Ranca upas berasal dari kata ranca yang artinya rawa, dan upas yang berarti serdadu Belanda. Dulunya dijadikan sarana tempat latihan militer tentara Belanda, dan beberapa titik di lokasi tersebut sampai kini dijadikan lokasi berlatih beberapa kesatuan militer tentara RI.
Ranca upas memiliki keunikan tersendiri, karena merupakan lahan basah yang berada di dataran tinggi, sehingga beberapa tumbuhan rawa hanya dapat ditemukan di sini. Oleh karena itu beberapa jenis burung air pegunungan tercatat menggunakan kawasan ini sebagai habitatnya. Salah satu diantaranya adalah burung Berkik-gunung merah (Scolopax saturata) yang hanya dapat ditemukan pada ekosistem lahan basah di pegunungan antara ketinggian 1200-2800 m dpl. Selain itu tercatat pula jenis burung air migran dari Bumi Utara, yaitu Trinil pantai (Tringa hypoleucos) yang biasanya ditemukan dalam kelompoknya di sekitar rawa-rawa Ranca upas.
Hutan alam di sekitar kawasan Gunung Patuha ditumbuhi oleh jenis pohon khas kawasan pegunungan, seperti Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argentea), Ki hujan (Engelhardia spicata), Huru (Litsea angurata), Ki huut (Glochidion obscorum), Hiur (Lithocarpus sundaicus), Pasang (Quercus sp.), Ki endog (Ilex pleiobrachiata), dsb. Selain tumbuhan alami, kawasan ini juga ditanami pohon produksi yang kini sudah tidak diambil kayunya, seperti pohon Kayu putih (Eucalyptus sp.), Pinus (Pinus merkusii), dan Akasia (Acasia decurens) yang biasanya mengelilingi area hutan alam. Selain itu terdapat juga hutan homogen jenis Rasamala (Altingia excelsa) tepatnya di sekitar bumi perkemahan Ranca upas yang berdekatan dengan tempat penangkaran rusa (Cervus timorensis).
Sedangkan fauna yang dapat ditemukan di kawasan ini antara lain aneka jenis primata seperti Lutung Jawa (Trachypithecus auratus sondaicus), Surili (Presbytis comata), dan mamalia lainnya seperti babi hutan (Sus vittatus), Ajag atau anjing hutan (Cuon alpinus), Mencek (Muntiacus muntjak), Jelarang (Ratufa bicolor), Kucing hutan (Felis bengalensis), Macan tutul (Panthera pardus pardus), Macan kumbang (Panthera pardus melas), serta berbagai jenis fauna lainnya.

Begitu kayanya hutan pegunungan di kawasan ini, sehingga kawasan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kita berharap kawasan ini dapat terus lestari, setidaknya luasan area hutannya tidak menyusut ataupun rusak di dalamnya yang dapat mengakibatkan berkurangnya species dan hilangnya keanekaragaman hayati lainnya. Sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang telah diberikanNya dengan beribadah hanya kepadaNya, yaitu dengan cara menjaga dan melestarikan kekayaan alam di negeri ini sebagai titipan Illahi.

Alhamdulillah….


Inilah Demokrasi, Apakah Anda mau Meninggalkannya?

Kepada mereka yang masih beranggapan bahwa perbedaan pendapat tentang demokrasi adalah perbedaan pendapat dalam ranah wasa’il dan furu’iyyah (cabang agama), tidak menyentuh ranah ushul (pokok agama) dan i’tiqad (keyakinan)….

Kepada para da’i tambal sulam, koleksi dan penggabungan (manhaj dan ideologi)….

Kepada mereka yang masih tidak mengetahui hakekat demokrasi….

Kepada mereka yang mencampuradukkan –secara dusta– demokrasi dengan syura dan Islam….

Kepada mereka yang memandang bahwa demokrasi adalah solusi terbaik untuk menjawab problematika Islam dan kaum muslimin…

Kepada mereka yang mempropagandakan dan menyerukan demokrasi, kemudian setelah itu mengaku dirinya seorang muslim…

Kepada mereka semua kami katakan, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka tidak boleh ada kepemimpinan yang lebih tinggi dari kedudukan rakyat, dan tidak ada kehendak yang boleh mengatasinya lagi, meskipun itu kehendak Allah. Bahkan dalam pandangan demokrasi dan kaum demokrat, kehendak Allah dianggap sepi dan tidak ada nilainya sama sekali.

Demokrasi adalah suatu sistem yang menjadikan sumber perundang-undangan, penghalalan dan pengharaman sesuatu adalah rakyat, bukan Allah. Hal itu dilakukan dengan cara mengadakan pemilihan umum yang berfungsi untuk memilih wakil-wakil mereka di parleman (lembaga legislatif).

Hal ini berarti bahwa yang dipertuhan, yang disembah dan yang ditaati –dalam hal perundang-undangan– adalah manusia, bukan Allah. Ini adalah tindakan yang menyimpang, bahkan membatalkan prinsip Islam dan tauhid. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa sikap demikian merusakkan tauhid

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. dia Telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. (Yusuf:40)

dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan (al-Kahfi:26)

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (asy-Syura:21)

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (an-Nisa’:59)

Allah menetapkan, bahwa di antara konsekuensi iman adalah mengembalikan persoalan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni dengan mengacu kepada al-Qur’an dan as-Sunnah

Demokrasi adalah, sebuah sistem yang berprinsip pada kebebasan berkeyakinan dan beragama. Seseorang –dalam pandangan demokrasi– boleh berkeyakinan apa saja yang ia maui, bebas memilih agama apa saja yang ia inginkan. Ia bebas menentukan apa yang ia inginkan, dan seandainya ia menginginkan untuk keluar dari Islam berganti agama lain, atau menjadi seorang atheis, maka tiada masalah dan ia tidak boleh dipermasalahkan.

Adapun hukum Islam berlawanan dengan hal itu. Hukum Islam tunduk kepada ketentuan yang telah disabdakan Rasulullah saw.

Demokrasi adalah sistem yang berprinsip pada kebebasan berpendapat dan bertindak, apapun bentuk pendapat dan tindakannya, meskipun mencaci maki Allah dan Rasul-Nya serta merusak agama, karena demokrasi tidak mengenal sesuatu yang suci sehingga haram mengkritiknya atau membahasnya panjang lebar. Dan apapun bentuk pengingkaran terhadap kebebasan berarti pengingkaran terhadap sistem demokrasi. Dan itu berarti menghancurkan kebebasan yang suci, dalam pandangan demokrasi dan kaum demokrat.

Inilah hakekat kekufuran terhadap Allah, karena di dalam Islam tidak ada kebebasan untuk mengungkapkan kata-kata kufur dan syirik, tidak ada kebebasan untuk hal yang merusak dan tidak membawa maslahat, tidak ada kebebasan untuk hal yang menghancurkan dan tidak membangun, serta tidak ada kebebasan untuk memecah belah tidak membangun persatuan.

Demokrasi adalah sistem sekular dengan segala cabangnya, di mana ia dibangun di atas pemisahan agama dari kehidupan dan kenegaraan. Allah dalam pandangan demokrasi hanya diposisikan di pojok surau dan masjid saja, adapun wilayah-wilayah selain itu, baik dalam wilayah politik, ekonomi, sosial dan lain-lain maka wilayah itu bukan milik agama, wilayah itu semua adalah milik rakyat. Bahkan rakyat berhak menentukan suatu kebijaksanaan untuk dimasukkan ke dalam masjid, meskipun hal itu sebenarnya mengandung kemadlaratan

Itulah hukum untuk semua bentuk demokrasi sekularisme yang memisahkan antara agama dengan negara dan politik, serta semua urusan hidup manusia, meskipun lisannya menyatakan bahwa dirinya adalah muslim dan mukmin.

Demokrasi adaah sistem yang berpijak pada prinsip kebebasan individual, maka seseorang –menurut ajaran demokrasi– berhak melakukan apa saja yang diinginkannya, termasuk melakukan tindakan yang mungkar, keji maupun yang merusak, tanpa boleh diawasi.

Bila kaum Ibahiyah (permisivisme) sepanjang sejarah dianggap sebagai kelompok-kelompok kafir zindik, lalu apa hukum demokrasi jika bukan itu juga..??

Demokrasi adalah sistem yang menjadikan pilihan rakyat sebagai orang yang berhak memimpin suatu bangsa, meskipun yang dipilih itu adalah orang kafir, zindik ataupun murtad dari agama Allah.

Demokrasi didirikan di atas prinsip kebebasan membentuk berserikat dan organisasi, baik berupa organisasi politik (partai) maupun organisasi non politik. Dalam demokrasi bebas berserikat tanpa mempedulikan fikrah dan manhaj yang menadi dasar (asas) organisasi itu. Dengan begitu, setiap kumpulan dan setiap organisasi bebas sebebas-bebasnya untuk menyebarkan kekufuran, kebatilan dan pemikiran yang merusak di seluruh penjuru negeri.

Hal ini dalam pandangan syara’ adalah penerimaan dengan suka rela akan keabsahan dan kebebasan melakukan tindakan kekufuran, kesyirikan, kemurtadan dan kerusakan. Sikap ini bertentangan dengan kewajiban untuk memerangi kekufuran dan kemungkaran, sebagai bentuk dari nahi munkar.


Bencana Alam sebagai Efek dari Pengkhianatan Manusia

Merdunya kicauan burung, segarnya udara yang kita hirup, jernihnya air yang mengalir di sungai sangat sulit kita temui di lingkungan kita. Bagi masyarakat Kota Bandung pemandangan tersebut merupakan hal yang sangat langka, pun dengan masyarakat di pedesaan yang saat ini mengalami krisis yang sama. Kerusakan lingkungan yang terjadi merupakan sebuah efek kontinyuitas dari adanya perusakan atau penghilangan suatu komponen yang terdapat di alam ini.
Contoh saja ketika satwa liar seperti macan diburu oleh manusia maka tidak ada lagi binatang buas di hutan, sehingga manusia akan dengan leluasa mengambil segala sesuatu yang berada di hutan termasuk menebang pohon. Dan ketika sudah tidak ada lagi pohon di gunung maka malapetaka yang lain segera menyusul. Di musim kemarau manusia sangat sulit mendapatkan air bersih, tidak hanya di kota, di desa pun demikian. Sulitnya mendapatkan air bawah tanah merupakan dampak dari hilangnya pepohonan dan juga eksploitasi sumur artesis oleh sekelompok manusia, sehingga persediaan air tanah semakin menipis. Tidak hanya itu, air permukaan yang mengalir di sungai-sungai kini tak lebih dari aliran limbah berbahaya dan beracun yang siap membunuh semua biota air dan mahluk hidup yang tergantung dengan adanya air. Ketika musim penghujan tiba, aliran itu berubah menjadi malapetaka yang berbeda. Sungai yang meluap seakan-akan menjadi tamu tak diundang yang masuk ke dalam setiap rumah. Di beberapa tempat, luapan sungai dapat memporakporandakan rumah dan bangunan lainnya, tidak sedikit korban nyawa dan harta karena malapetaka tersebut. Di pegunungan kejadian longsor merupakan berita yang biasa didengar manakala musim penghujan tiba. Dan pada abad ini kita mengenal bencana alam yang paling mendunia, yaitu adanya pemanasan global (global warming) yang memiliki efek kontinyuitas yang sangat tinggi.
Hal demikian merupakan salah satu contoh musibah yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Tuhan Pencipta langit dan bumi dalam hal ini telah memperingatkan:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali”. (Ar Ruum, 30:41)

Musibah bencana alam yang terjadi adalah ulah tangan manusia sendiri sebagai akibat dari keserakahan dan kerakusan manusia. Selain itu sebab yang paling fatal adalah ketika manusia sudah tidak taat lagi kepada aturan-aturan yang diturunkan Sang Pencipta, mereka tidak sekalipun mengindahkannya, bahkan cenderung menutupi dan mengganti aturan yang telah diperintahkan oleh Sang Pencipta kepada mahlukNya. Sehingga musibah terjadi di segala bidang kehidupan, bukan saja bencana alam, musibah dalam bidang lainnya dari mulai bidang sosial, ekonomi, politik, sampai budaya adalah sebagai akibat kelalaian manusia terhadap aturan tersebut. Betapa tidak, pada hakikatnya manusia diturunkan ke bumi adalah sebagai wakil dari Sang Pencipta (mandataris Allah/khalifah).
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqoroh 2:30)

Tuhan telah memberikan amanah kepada manusia untuk menjadi wakilNya di muka bumi ini. Hal ini adalah amanah yang terbesar yang telah diberikan Tuhan kepada manusia, walaupun pada dasarnya manusia adalah mahluk yang membuat kerusakan, akan tetapi manusia lah yang dipilih Tuhan untuk menjadi khalifahNya. Manusia akan mampu menjaga amanah ini apabila mereka hanya tunduk, patuh dan taat kepada aturan yang Tuhan turunkan, apabila manusia menutupi (kafir) terhadap aturan-aturan itu maka akan terjadi kerusakan di segala bidang, tidak saja bencana alam melainkan kerusakan di seluruh alam raya ini.
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Al Anfaal 8:73)

Ayat-ayat di atas merupakan peringatan kepada kita sebagai manusia agar kembali kepada aturanNya. Apabila manusia kafir terhadap aturanNya maka kerusakan itu akan semakin besar seperti yang terjadi sekarang ini. Dan pastinya, jikalau kita masih dalam kondisi kafir (menutupi) aturanNya maka kerusakan yang lebih besar akan segera terjadi. Padahal telah jelas perintah yang diturunkan kepada manusia, hanya saja kita tidak menerapkannya, dan menggantinya dengan aturan yang dibuat oleh manusia sendiri. Hal tersebut merupakan sebuah pengkhianatan terhadap amanah yang telah diperintahkan oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu efek kontinyuitas dari berbagai musibah ini tidak dapat manusia hentikan sebelum manusia kembali kepada peraturan yang paling hakiki.


Fauna Pulau Bintan

Fauna Pulau Bintan

Fauna yang berada di alam merupakan komponen ekosistem yang memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Di alam, satwa liar ada yang berfungsi sebagai pemangsa, sebagai penyerbuk, penyebar biji, dan bahkan sebagai pemberantas hama pertanian.  Disamping itu, satwa liar juga berfungsi sebagai indikator perubahan lingkungan, dimana dampak perubahan lingkungan berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku di luar kebiasaan, perubahan populasi, perubahan komposisi jenis atau bahkan hilangnya suatu jenis. Khusus untuk jenis-jenis burung juga dapat digunakan sebagai bio-monitor) perubahan lingkungan, polusi (pestisida, logam berat, pencemaran udara, kontaminasi radio aktif, dll.) dan perubahan kualitas air. Sehingga keberadaan jenis-jenis liar di suatu kawasan adalah penting di dokumentasikan untuk tujuan-tujuan tertentu, termasuk sebagai bahan masukan penting untuk pengelolaan kawasan. Yang dapat mengancam kelestarian satwa-satwa di alam diantaranya adalah perburuan dan kerusakan habitat (konversi lahan, fragmentasi dan alterasi habitat).

 

a) Burung

Burung merupakan salah satu kelompok terbesar vertebrata yang banyak dikenal, diperkirakan ada sekitar 8.600 jenis burung yang tersebar di dunia (MacKinnon, 1995). Mereka menempati setiap tipe habitat mulai dari khatulistiwa sampai daerah kutub.  Pulau Bintan  yang memiliki beragam tipe ekosistem dari ekosistem pesisir termasuk hutan mangrove yang masih relatif luas sampai ekosistem  hutan dataran kering, merupakan habitat ideal bagi  beragam jenis burung untuk menetap, mencari makan dan berkembangbiak.

Pengamatan burung dilakukan dengan metode jelajah,  yaitu menggunakan  teknik penghitungan Point Count (titik hitung). Radius pengamatan sekitar 50 meter dengan waktu pengamatan 20 menit di setiap titik hitung. Dari hasil pengamatan tersebut, teridentifikasi sebanyak 62  jenis burung (Tabel 3.18 ).

 

Tabel 3.18.  Kelimpahan Jenis Burung di Sepanjang Rencana

Jalur  SUTT 70 kV Pulau Bintan.

No

Nama Ilmiah

Nama Lokal

KR

FR

INP

1

Collocalia linchi

Walet linci

6,74

3,74

10,48

2

Pycnonotus goiavier

Merbah cerukcuk

5,97

3,74

9,71

3

Pycnonotus aurigaster

Cucak kutilang

5,20

3,27

8,47

4

Passer montanus

Gereja erasia

5,59

2,80

8,39

5

Zosterops palpebrosus

Kacamata biasa

4,82

2,34

7,15

6

Lonchura leucogastroides

Bondol jawa

3,85

2,80

6,66

7

Apus affinis

Kapinis rumah

3,85

2,34

6,19

8

Hirundo striolata

Layang-layang loreng

3,08

2,80

5,89

9

Hirundo tahitica

Layang-layang batu

2,89

2,80

5,69

10

Dicaeum trochileum

Cabai Jawa

2,89

2,34

5,23

11

Cuculus sepulcralis

Wiwik uncuing

2,31

2,34

4,65

12

Cacomanthis merulinus

Wiwik kelabu

1,73

2,80

4,54

13

Lonchura punctulata

Bondol peking

2,12

2,34

4,46

14

Ardea purpurea

Cangak merah

1,93

2,34

4,26

15

Orthotomus ruficeps

Cinenen kelabu

2,31

1,87

4,18

16

Streptopelia chinensis

Tekukur biasa

1,73

2,34

4,07

17

Ardeola speciosa

Blekok sawah

1,73

2,34

4,07

18   

Nycticorax nycticorax

Kowak-malam kelabu

1,73

1,87

3,60

19

Geopelia striata

Perkutut

1,73

1,87

3,60

20

Egretta alba

Kuntul besar

1,73

1,87

3,60

21

Pernis ptylorhynchus

Sikep-madu Asia

2,12

1,40

3,52

22

Ardea cinerea

Cangak abu

2,12

1,40

3,52

23

Egretta garzetta

Kuntul kecil

1,93

1,40

3,33

24

Cuculus saturatus

Kangkok ranting

1,35

1,87

3,22

25

Ixobrychus cinnamomeus

Bambangan merah

1,16

1,87

3,03

26

Bubulcus ibis

Kuntul kerbau

1,54

1,40

2,94

27

Arachnotera longirostra

Pijantung kecil

0,96

1,87

2,83

28

Seicercus grammiceps

Cikrak muda

0,96

1,87

2,83

29

Caprimulgus pulchellus

Cabak gunung

1,35

1,40

2,75

30

Anthreptes malacensis

Burung-madu Kelapa

1,16

1,40

2,56

       Tabel 3.18 (Lanjutan)

31

Merops viridis

Kirik-kirik biru

1,16

1,40

2,56

32

Enicurus leschenaulti

Meninting besar

1,16

1,40

2,56

33

Dicaeum concolor

Cabai polos

0,96

1,40

2,37

34

Dendrocopus macei

Caladi ulam

0,96

1,40

2,37

35

Lanius schach

Bentet kelabu

0,96

1,40

2,37

36

Nectarinia jugularis

Burung-madu sriganti

0,96

1,40

2,37

37

Ictinaetus malayensis

Elang hitam

0,96

1,40

2,37

38

Nectarinia sperata

Burung-madu pengantin

0,96

1,40

2,37

39

Turnix suscitator

Gemak loreng

0,96

1,40

2,37

40

Accipiter soloensis

Elang-alap Cina

0,77

1,40

2,17

41

Halcyon pileata

Cekakak cina

0,77

1,40

2,17

42

Malacocincla sepiarium

Pelanduk semak

0,77

1,40

2,17

43

Todirhampus chloris

Cekakak sungai

0,77

1,40

2,17

44

Accipiter gularis

Elang-alap Nipon

0,58

1,40

1,98

45

Streptopelia bitorquata

Dederuk jawa

0,77

0,93

1,71

46

Aethopyga siparaja

Burung-madu Sepahraja

0,77

0,93

1,71

47

Amaurornis phoenicurus

Kareo padi

0,58

0,93

1,51

48

Eumyas indigo

Sikatan Ninon

0,58

0,93

1,51

49

Motacilla cinerea

Kicuit batu

0,58

0,93

1,51

50

Acridotheres tristis

Kerak ungu

0,58

0,93

1,51

51

Ducula aenea

Pergam hijau

0,58

0,93

1,51

52

Megalurus palustris

Cica-koreng Jawa

0,58

0,93

1,51

53

Haliaeetus leucogaster

Elang Laut Perut Putih

0,39

0,93

1,32

54

Corvus macrorhyncus

Gagak kampung

0,39

0,93

1,32

55

Dicrurus paradiseus

Srigunting batu

0,39

0,93

1,32

56

Egretta sacra

Kuntul Karang

0,58

0,47

1,05

57

Treron fulvicollis

Punai bakau

0,58

0,47

1,05

58

Ficedula westermanni

Sikatan belang

0,39

0,47

0,85

59

Haliastur Indus

Elang bondol

0,39

0,47

0,85

60

Loriculus galgulus

Serindit melayu

0,19

0,47

0,66

61

Pelargopsis capensis

Pekaka emas

0,19

0,47

0,66

 

62

Gracula religiosa

Tiong emas

0,19

0,47

0,66

 

 

 

 

100,00

100,00

200,00

 

  Sumber: Data Primer, 2007

  Keterangan :

  KR     = Kelimpahan Relatif

  FR      = Frekuensi Relatif

  INP    = Indeks Nilai penting 

Berdasarkan hasil analisis tersebut, diketahui jenis burung di lokasi studi yang dikategorikan dominan adalah jenis walet linchi (Collocalia linchi)  dengan nilai INP  sebesar 10,48%, merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) INP 9,71 %, cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) INP 8,47, Gereja Erasia (Passer montanus) INP 8,39 % dan Kaca mata biasa (Zosterops palpebrosus) INP  7,15 %.  Besarnya nilai INP   jenis-jenis  burung dominan  tersebut karena sebagian besar merupakan pemakan serangga kecil, buah-buahan serta nektar yang terdapat cukup berlimpah di sepanjang rencana jalur SUTT 70 kV, ketersediaan pakan sangat mendukung kehidupan jenis-jenis burung tersebut.

·       Status Perlindungan dan burung endemik

Status perlindungan yang dimaksud adalah mengacu pada perundang-undangan Nasional yaitu UU No. 5 Tahun 1990; tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931, SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970, SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979   dan PP No. 7 tahun 1999; tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selain itu digunakan pula nilai Apendiks CITES II serta IUCN. Sedangkan untuk distribusi dan aktifitas jenis burung digolongkan menjadi jenis burung migran dan burung penetap. Dan jenis burung endemik dibedakan berdasarkan daerah tempat hidup jenis jenis burung tersebut yang biasanya berdasarkan pulau, yaitu masing-masing jenis burung endemik Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok dan Timor.

Mengacu pada sistem perundang-undangan  serta peraturan internasional tersebut, dari hasil pengamatan  terdapat  20 jenis  burung  yang dilindungi (Tabel 3.19).

Sedangkan untuk burung endemik, di kawasan tersebut dijumpai sebanyak 6 jenis burung endemik, yaitu 1 jenis endemik Sumatera-Jawa, 2 Jenis endemik Sumatera-Kalimantan, 1 jenis endemik Sumatera-Jawa-Bali, 2 jenis endemik Sumatera-Kalimantan-Jawa-Bali-Lombok.

Berdasarkan distribusi dan aktifitas jenis burung, terdapat 5 jenis burung migran.

Dengan dijumpainya jenis-jenis burung yang dilindungi dan jenis yang endemik, menunjukkan bahwa wilayah Pulau Bintan  memiliki nilai yang penting bagi pelestarian burung.

 

Tabel 3.19. Jenis-Jenis Burung Endemik dan Dilindungi di Wilayah Studi

No

Jenis Burung

Nama Lokal

Distribusi

Status Perlindungan

1

Accipiter gularis

Elang-alap Nipon

M

B, D, II

2

Accipiter soloensis

Elang-alap Cina

M

B, D, II

3

Acridotheres tristis

Kerak ungu

SK

 

4

Aethopyga siparaja

Burung-madu Sepahraja

 

A, D

5

Anthreptes malacensis

Burung-madu Kelapa

 

A, D

6

Arachnotera longirostra

Pijantung kecil

 

A, D

7

Caprimulgus pulchellus

Cabak gunung

SJ

NT

8

Dicaeum trochileum

Cabai Jawa

SKJBL

 

9

Egretta alba

Kuntul besar

 

A, C, D

10

Egretta garzetta

Kuntul kecil

 

A, C, D

11

Egretta sacra

Kuntul Karang

 

A, C, D

12

Gracula religiosa

Tiong emas

 

II

13

Halcyon pileata

Cekakak cina

M

A, D

14

Haliaeetus leucogaster

Elang Laut Perut Putih

 

B, D, II

      Tabel 3.19 (Lanjutan)

15

Haliastur Indus

Elang bondol

 

B, D, II

16

Ictinaetus malayensis

Elang hitam

 

B, D, II

17

Lonchura leucogastroides

Bondol jawa

SKJBL

 

18

Loriculus galgulus

Serindit melayu

 

II

19

Motacilla cinerea

Kicuit batu

M

 

20

Nectarinia jugularis

Burung-madu sriganti

 

A, D

21

Nectarinia sperata

Burung-madu pengantin

 

A, D

22

Pelargopsis capensis

Pekaka emas

 

A, D

23

Pernis ptylorhynchus

Sikep-madu Asia

M

B, D, II

24

Seicercus grammiceps

Cikrak muda

SJB

 

25

Todirhampus chloris

Cekakak sungai

 

A, D

26

Treron fulvicollis

Punai bakau

SK

 

      Sumber: Data Primer, 2007

 

Keterangan :

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

 

Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931

A

SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970

B

SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979

C

Peraturan Pemerintah No 7 th 1999

D

Apendiks CITES II

II

IUCN

 

Endangered (terancam)

EN

Near Threatened (hampir punah)

NT

Distribusi & Aktivitas

 

Migran

M

Endemik:

 

Sumatera

S

Kalimantan

K

Jawa

J

Bali

B

Lombok

L

Timor

T

 

b) Mamalia

Berdasarkan hasil survey (pengamatan langsung dan wawancara dengan masyarakat setempat), di wilayah Kabupaten Bintan  terdapat sedikitnya  11 jenis satwa mamalia liar (Tabel 3.20). Dari 11 jenis tersebut, lima jenis yang teramati secara langsung, 1 jenis diketahui dari feses dan sisanya (lima jenis) berdasarkan informasi dari masyarakat setempat.

 

Tabel  3.20. Jenis Mamalia di Wilayah Studi

No

Nama Ilmiah

Nama Lokal

Keterangan

Status

1

Calosciurus sp.

Bajing

I; L (3 ekor)

 

2

Hystrix javanica

Landak

I

D

3

Macaca fascicularis

Monyet Ekor Panjang

L (4 ekor)

 

4

Manis javanicus

Landak

I

 

5

Muntiacus muntjak

Kijang

I

D

6

Paradoxurus hermaproditus

Musang

I; Feses

D

7

Petaurista petaurista

Bajing terbang/Tando

I; L (1 ekor)

D

8

Pterapus vampyrus

Kelelawar

L

 

9

Sus scrofa

Babi hutan

I

 

10

Tupaia sp.

Tupai

I; L (1 ekor)

 

11

Tragulus javanicus

Pelanduk

I

D

Sumber: Data Primer, 2007

Keterangan :      I  = Informasi masyarakat

                        L  = Pengamatan langsung di lapangan

                        D = Dilindungi

Terdapat lima jenis mamalia yang dilindungi berdasarkan peraturan perundangan. Keberadaan jenis-jenis yang dilindungi tersebut memiliki peranan penting bagi keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut. Kawasan Pulau Bintan yang memiliki ekosistem yang beragam sangat mendukung kehidupan satwa-satwa liar tersebut.  

c) Reptilia dan Amfibia

Jenis-jenis reptilia yang umum ditemukan di wilayah studi yaitu Kadal (Mabouia multifasciata), dan beberapa jenis ular diantaranya ular kobra (Naja sp.) dan ular hijau (Ahaetulla prasina). Sedangkan jenis reptilia yang dilindungi adalah buaya muara (Crocodilus porosus). Jenis-jenis amfibia yang umum terdapat di wilayah studi ialah katak (Rana sp.) dan kodok buduk (Bufo melanosticus).

 

 


Burung & Dasar-dasar Birdwatching


 

Definisi Ornithologi

 

Ornithologi berasal dari bahasaYunani yaitu Ornith yang berarti burung dan logos yang berarti ilmu. Namaornith dipergunakan bagi kelompok hewan classis Aves (aves = burung, bahasalatin). Ornithologi yaitu suatu ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenaiburung, seperti: fisiologi, morfologi, behaviour, ekologi, dsb.

Burung atau hewan dibagi menjadi2 jenis menurut waktu beraktivitas, yaitu:

  1. Diurnal (aktif pada siang hari). Sebagian besar burung aktif pada siang hari, biasanya pada jam-jam tertentu burung melakukan istirahat.
  2. Nokturnal (aktif pada malam hari), biasanya pada kelompok Strigiformes (burung hantu)

Ciri-ciri burung:

a.    Sebagian besar tubuhnyaditutupi bulu

b.    Terdapat 2 pasanganggota badan, 1 pasang anterior menjadi sayap, dan 1 pasang posterior menjadikaki untuk berjalan/mengais (Galliformes & Ciconiiformes), mencakar(Falconiformes & Strigiformes) atau berenang dengan selaput pada jari kaki(Pelecaniformes & Anseriiformes). Masing-masing kaki memiliki 4 jari kaki.

c.     Rangkanya halus, kuat,dibentuk dari tulang sejati. Mulutnya merupakan suatu tonjolan berupa paruh(dari zat tanduk), tidak ada gigi, leher yang fleksibel.

d.    Jantung terdiri dari 4ruang (2 atrium dan ventrikel yang terpisah)

e.    Respirasi oleh paru-parudan berhubungan dengan kantung-kantung udara.

 

Bentuk tubuh burung umumnyaseperti “spindle shape” (seperti gelendong benang yang kedua ujungnyamelancip). Kelebihan bentuk tersebut adalah untuk memudahkan burung ketikamenembus udara saat terbang, atau ketika menembus air pada waktu berenang.

Warna bulu burungbermacam-macam. Burung-burung dari daerah yang kering warnanya cenderung kewarna yang pucat, sedangkan pada daerah-daerah yang lembab warnanya lebihgelap. Pada umumnya burung jantan warnanya lebih cemerlng dari burung betina.

Sayap pada burung digunakanuntuk terbang, tapi pada beberapa burung air (pinguin) dimodifikasi untukmenggerakan badannya di dalam air, sayapnya telah berdegenerasi sehingga tidakdapat terbang, ekornya dipergunakan untuk mengemudi dan keseimbangan badan.

Distribusi burung terdapat mulaidari permukaan laut sampai dengan di pegunungan yang ketinggiannya > 20.000kaki (Mount Everest, Himalaya). Setiap species mendiami suatu daerah geografistertentu dan habitat tertentu pula. Burung albatros tinggal di lautan yangterbuka kecuali apabila sedang bersarang, burung camar terdapat di sepanjangpantai, kelompok Anseriiformes di temukan di daerah yang berawa-rawa, burungpelatuk dan kelompok Bucerotidae mempergunakan pohon sebagai tempat tinggalnya,burung pemburu pada umumnya hidup soliter, kelompok Passeriformes umumnya hidupberkelompok.

 

Manfaat burung di alam bagikehidupan diantaranya (fungsi ekologis burung):

  1. Berperan dalam proses ekologi (sebagai penyeimbang rantai makanan dalam ekosistem)
  2. Membantu penyerbukan tanaman, khususnya tanaman yang mempunyai perbedaan antara posisi benang sari dan putik.
  3. Sebagai predator hama (serangga, tikus, dsb.)
  4. Penyebar/agen bagi beberapa jenis tumbuhan dalam mendistribusikan bijinya
  5. Sebagai bahan penelitian, pendidikan lingkungan, dan objek wisata (ekoturism).

Manfaat burung yang ditangkarkan bagi manusia (fungsiekonomis burung):

  1. Memiliki nilai estetika: kicauan yang bervariasi, bulu yang indah, atau kecepatan terbang untuk diperlombakan
  2. Memiliki nilai ekonomi: sarang, telur, daging, bulu, kotoran, tanduk (casque), binatang awetan, dan industri pembuatan sangkar, pakan, dsb.

 

Ornithologi

Mengapa ornithologi lebih berkembang pertamakali dibandingkan ilmu lain?

  1. Jumlah spesies burung yang lebih melimpah dan terdapat di berbagai habitat
  2. Keanekaragaman yang banyak (warna, ukuran, perilaku, dsb)
  3. Cukup ramah untuk diamati

Sehingga dijadikan ilmu yang sangat membantu ilmulain, dalam hal indikator-indikator “early warning” peringatan dini dari lingkungan.

 

Birdwatching

Definisi: Pengamatan terhadap burung yang dilakukandi alam terbuka, aspek yang diamati mulai dari identifikasi jenis berdasarkanmorfologi, identifikasi lewat suara, behaviour, populasi, distribusi, dsb.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketikamelakukan bird watching

  1. Perlengkapan:
    1. buku catatan
    2. alat tulis (pensil)
    3. buku panduan pengenalan jenis burung (Field Guide)
    4. teropong (binokuler/monokuler)
    5. kamera
    6. tape recorder
  2. Metode pengamatan burung
    1. jalan mengendap-endap
    2. mencari tempat yang baik untuk bersembunyi
    3. menggunakan atribut/pakaian yang tidak mencolok
    4. tidak melakukan kegiatan yang dapat mengganggu burung
    5. tidak melepaskan binokuler sampai deskripsi jenis burung dapat tergambarkan ketika melakukan identifikasi
    6. membuat sketsa burung yang terlihat dan mendeskripsikan ciri-cirinya
  3. Catatan yang biasa dicantumkan
    1. nama pengamat
    2. waktu dan tanggal pengamatan
    3. lokasi pengamatan
    4. jenis habitat dan tipe vegetasi yang digunakan
    5. cuaca
    6. jumlah burung yang ditemukan
    7. aktivitas
    8. jarak burung dengan pengamat
    9. dan sebagainya, tergantung dari penelitian yang dilakukan

Metode penghitungan Populasi Burung

  1. Absolut
    1. Capture – recapture
    2. Teritorry mapping
    3. Time mapping
  2. Relatif/index
    1. IPA (Indices Pontuel d’Abondances)
    2. Point Count (PC)
    3. Teknik Transek  


Avifauna / burung kawasan Gunung Patuha, Gunung Tilu, Ciwidey dsk.

No Nama Lokal Spesies
1 Alap-alap sapi Falco mollucensis
2 Ayam hutan merah Gallus gallus varius
3 Anis Siberia Zoothera sibirica
4 Anis Sisik Zoothera sp.
5 Anis Merah Zoothera citrina
6 Cica matahari Crocias albonotatus
7 Cica-kopi melayu Pomatorhinus sp.
8 Elang brontok Spizaetus cirrhatus
9 Elang hitam Ictinaetus malayensis
10 Elang jawa Spizaetus bartelsi
11 Elang-ular bido Spilornis cheela
12 Gelatik batu Parus major
13 Kacamata biasa Zosterops palpebrosus
14 Kacamata gunung Zosterops montanus
15 Kipasan merah Rhipidura phoenicura
16 Perenjak jawa Prinia faniliaris
17 Sepah gunung Pericrocotus miniatus
18 Sikatan belang Ficedula westermanni
19 Cucak gunung Pycnonotus bimaculatus
20 Srigunting kelabu Dicrurus leucophaeus
21 Walet linci Collocalia linchi
22 Ceret gunung Cettia vulcania
23 Cica koreng jawa Megalurus palustris
24 Bentet kelabu Lanius schach
25 Tesia jawa Tessia superciliaris
26 Kicuit batu Motacilla cinerea
27 Berencet kerdil Pnoepyga pusilla
28 Burung gereja erasia Passer montanus
29 Burung Madu sriganti Nectarinia jugularis
30 Cikrak daun Phylloscopus trivirgatus
31 Cinenen jawa Orthotomus sepium
32 Cikrak muda Seicercus grammiceps
33 Wergan jawa Alcippe pyrhoptera
34 Sikatan dada-merah Ficedula dumetoria
35 Sikatan kepala-abu Cullicicapa ceylonensis
36 Burung madu jawa Aethopyga eximia
37 Sikatan emas Ficedula zantopyga
38 Sikatan mugimaki Ficedula mugimaki
39 Sikatan-rimba dada-coklat Rhynomias olivaceaea
40 Opior jawa Lophozosterops javanicus
41 Jalak cina Sturnus sturninus
42 Sikatan bodoh Ficedula hyperythra
43 Tekukur biasa Streptopelia chinensis
44 Kangkok ranting Cuculus saturatus
45 Cingcoang coklat Brachypterix leucophrys
46 Cabai gunung Dicaeum sanguinolentum
47 Tepus pipi-perak Stachyris melanothorax
48 Sikatan ninon Eumyas indigo
49 Tepus leher-putih Stachyris thoracica
50 Pelatuk kundang Reindwardtipicus validus
51 Uncal kouran Macropygia ruficeps
52 Puyuh gonggong jawa Arborophila javanica
53 Wiwik uncuing Cuculus sepulcralis
54 Cinenen gunung Orthotomus cuculatus
55 Cikrak bambu Phylloscopus borealis
56 Walik kepala ungu Ptilinopus porphyreus
57 Layang-layang batu Hirundo tahitica
58 Kerakbasi besar Acrocephalus orientalis
59 Bubut pacar jambul Clamator coromandus

Avifauna / burung Kota Bandung

No. Nama Jenis Nama Lokal
1 Accipiter gularis Elang-alap Nipon
2 Accipiter soloensis Elang-alap cina
3 Acridoters javanicus Kerak kerbau
4 Acridotheres tristis Kerak ungu
5 Aethopyga siparaja Burung madu Sepahraja
6 Aegithina tiphia Cipoh kacat
7 Anthreptes malaccensis Burung madu kelapa
8 Aplonis panayensis Geri besar
9 Apus affinis Kapinis rumah
10 Ardeola speciosa Blekok sawah
11 Cacomantis merulinus Wiwik kelabu
12 Caprimulgus affinis Cabak kota
13 Cisticola juncidis Cici padi
14 Collocalia linchi Walet sapi
15 Columba livia Merpati
16 Copsychus saularis Kucica kampung
17 Corvus macrorhynchos Gagak kampung
18 Cuculus sepulcralis Wiwik uncuing
19 Delychon dasypus Layang-layang rumah
20 Dendrocopus canicapillus Caladi kelabu
21 Dendrocopus macei Caladi ulam
22 Dicaeum trochileum Cabe jawa
23 Falco moluccensis Alap-alap sapi
24 Ficedula zanthopygia Sikatan emas
25 Geopelia striata Perkutut
26 Gerygone sulphurea Rametuk laut
27 Gracula religiosa Beo
28 Halcyon cyanoventris Cekakak jawa
29 Hirundo rustica Layang-layang asia
30 Hirundo striolata Layang-layang pasir
31 Hirundo tahitica Layang-layang batu
32 Ictinaetus malayensis Elang hitam
33 Ixobrychus cinnamomeus Kokokan merah
34 Lanius cristatus Bentet coklat
35 Lanius schach Bentet kelabu
36 Lanius tigrinus Bentet loreng
37 Lonchura leucogastroides Bondol jawa
38 Lonchura punctulata Bondol peking
39 Loriculus galgulus Serindit melayu
40 Loriculus pusilus Serindit jawa
41 Megalaima haemacaphala Ungkut-ungkut
42 Muscicapa dauurica latirostris Sikatan bubik
43 Nectarinia jugularis Madu sriganti
44 Nycticorax nycticorax Kowak-malam kelabu
45 Orthotomus ruficeps Cinenen kelabu
46 Orthotomus sepium Cinenen jawa
47 Orthotomus sutorius Cinenen pisang
48 Padda oryzipora Gelatik jawa
49 Parus major Gelatik batu
50 Passer montanus Burung gereja erasia
51 Pernis ptilorhynchus Sikep-madu Asia
52 Phylloscopus borealis Cikrak kutub
53 Phylloscopus coronatus cikrak  mahkota
54 Phylloscopus trivirgatus Cikrak daun
55 Pomatorhinus montanus Cica-kopi Melayu
56 Pteruthius aenobarbus Ciu kunyit
57 Prinia familiaris Perenjak jawa
58 Psittaculla alexandri Betet biasa
59 Pycnonotus aurigaster Kutilang
60 Streptopelia chinensis Tekukur biasa
61 Sturnus contra Jalak suren
62 Sturnus melanopterus Jalak putih
63 Sturnus sturninus Jalak cina
64 Surniculus lugubris Kedasi hitam
65 Treron griseicauda Punai penganten
66 Treron vernans Punai leher merah
67 Tyto alba Serak jawa
68 Zosterops palpebrosus Kacamata biasa
69 Spizaetus cirrhatus Elang brontok
70 Ficedula hyperythra Sikatan bodoh
71 Fregata minor Cikalang kecil
Total

Avifauna / burung kawasan DAS Citarum bagian hulu, dsk.

No Jenis Burung
1 Abroscopus superciliaris
2 Accipiter soloensis
3 Accipiter trivirgatus
4 Acridotheres javanicus
5 Aethopyga eximia
6 Aethopyga mystacalis
7 Alcedo coerulescens
8 Alcedo meninting
9 Alophoixus bres
10 Aplonis minor
11 Ardeola speciosa
12 Artamus leucorhynchus
13 Brachyptreyx leucophrys
14 Brachyptreyx montana
15 Bubulcus ibis
16 Cacomantis merulinus
17 Cettia vulcania
18 Ceyx rufidorsa
19 Cisticola exilis
20 Cisticola juncidis
21 Collocalia esculenta linchi
22 Collocalia vulcanorum
23 Copsychus saularis
24 Coracina larvata
25 Coturnix chinensis
26 Cuculus saturatus
27 Cuculus sepulcralis
28 Culicicapa ceylonensis
29 Cyornis unicolor
30 Dendrocopus macei
31 Dicaeum concolor
32 Dicaeum sanguinolentum
33 Dicaeum trochileum
34 Dicrurus leucophaeus
35 Dicrurus macrocercus
36 Eumyas indigo
37 Falco moluccensis
38 Falco subbuteo
39 Ficedula dumetoria
40 Ficedula hyperythra
41 Ficedula westermanni
42 Halcyon cyanoventris
43 Halcyon pileata
44 Halcyon smyrnensis
45 Hemipus hirudinaceus
46 Hirundo rustica
47 Hirundo striolata
48 Hirundo tahitica
49 Ictinaetus malayensis
50 Ixobrychus cinnamomeus
51 Lanius schach
52 Lonchura leucogastroides
53 Lonchura punctulata
54 Lophozosterops javanicus
55 Macropygia emiliana
56 Malacocincla sepiarium
57 Megalaima armillaris
58 Megalurus palustris
59 Motacilla cinerea
60 Motacilla flava
61 Muscicapa dauurica latirostris
62 Nectarinia jugularis
63 Oriolus chinensis
64 Orthotomus cuculatus
65 Orthotomus sepium
66 Orthotomus sutorius
67 Parus major
68 Passer montanus
69 Pavo muticus
70 Pericrocotus miniatus
71 Phyloscopus borealis
72 Phyloscopus trivirgatus
73 Pnoepyga pusilla
74 Porzana paykulii
75 Prinia familiaris
76 Prinia inornata
77 Prinia polychroa
78 Psaltria exilis
79 Pteruthius aenobarbus
80 Ptilinopus porphyreus
81 Pycnonotus aurigaster
82 Pycnonotus bimaculatus
83 Pycnonotus goiavier
84 Pycnonotus simplex
85 Rhinomyas olivacea
86 Rhipidura phoenicura
87 Saxicola caprata
88 Seicercus grammiceps
89 Seicercus montis
90 Sitta azurea
91 Spilornis cheela
92 Spizaetus cirrhatus
93 Stachyris melanothorax
94 Streptopelia chinensis
95 Tephrodornis gularis
96 Tesia superciliaris
97 Todirhamphus chloris
98 Turdus obscurus
99 Turnix suscitator
100 Turnix sylvatica
101 Zosterops montanus
102 Zosterops palpebrosus