BABI HUTAN ENDEMIK JAWA
BABI HUTAN
Mammalia
Mammalia darat asli dari Jawa terdiri dari 137 jenis (Sody 1989, Kitchener dan maryanto, 1993, R. Melis)
Tingkat endemisme mammalia Jawa ternyata cukup tinggi, dengan 22 (16%) mammalia Jawa. Semua jenis binatang ditemukan di Jawa Barat, kecuali 2 jenis.
Mammalia dibedakan dari binatang lain berdasarkan beberapa ciri khusus. Semua jenis (kecuali beberapa di Australia dan Papua Nugini) melahirkan dan menyusui anaknya. Kebanyakan mammalia laut rambutnya jarang dan tidak mencolok. Semua jenis berdarah panas dan hampir semuanya memiliki ciri anatomi tubuh bagian dalam yang umum. Kebanyakan jenis memiliki empat tungkai, dua di belakang dan dua di depan, berupa sayap atau lengan.
Identifikasi Mammalia
Ukuran merupakan ciri yang sangat penting untuk membedakan sebagian besar mammalia. Banyak mammalia besar dapat diidentifikasi dari jauh, tetapi jenis yang lebih kecil sering harus ditangkap untuk diamati dari dekat.
Bangsa / Ordo Artiodactyla
Ungulata berteracak genap adalah mammalia terrestrial dengan 2 jari berteracak fungsional dan dua jari semu kecil pada masing-masing kaki. Jari-jari semu terletak di atas jari-jari utama, kecuali pada babi terlihat dalam jejak kaki hanya di atas tanah lembek atau lumpur. Sebagian besar hanya memakan bahan tumbuhan. Lambungnya agak besar dan rumit dengan dua atau tiga ruang pada babi. Hampir semua Artiodactyla diklasifikasikan sebagai ruminantia, kecuali babi.
Untuk mendukung populasi Artiodactyla yang besar, tumbuhan tidak harus berproduktivitas tinggi, tetapi juga cukup bebas dari seyawa beracun dan tersedia bagi binatang tidak lebih dari satu atau dua meter di atas permukaan tanah.
Suku-suku Artiodactyl terdiri dari:
Tragulidae (Pelanduk)
Cervidae (Rusa dan Kijang)
Bovidae (Kambing, Sapi, dan Kerbau)
Suidae (Babi)
Suidae
Tidak seperti Artiodactyl lainnya, nbabi mempunyai gigi seri pada rahang atas dan bersifat omnifora, termasuk memakan binatang lainnya.
Jenis-jenis babi di Indonesia
Babi berjenggot (Sus barbatus), dengan distribusi dari Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan
Babi Ternak (Sus domesticus/ Sus scrofa), dengan distribusi tersebar di seluruh dunia
Pengenalan Jejak Kaki
Pada saat tidak terlihat, keberadaan beberapa tipe mammalia dapat diverifikasi melalui jejak kakinya di atas tanah atau pasir. Bagi mammalia darat yang besar identifikasi sering hanya dapat dilakukan melalui pemerikasaan jejak kakinya.
Ungulata berkuku genap, jari-jari semu biasanya terlihat jelas pada jejak babi.
Jejak dari Sus barbatus
Sus verrucosus (Babi hutan) termasuk jenis endemik Jawa (Barat, Tengah, Timur) ditemukan di daerah dataran rendah di daratan utama (Jawa), Madura, dan Bawean.
Babi Hutan Jawa endemik Sus verrucosus mirip dengan babi hutan liar atau Babi hutan Alang-alang (Sus Scrofa), hanya berbeda dalam hal ukuran, bentuk, warna dan ukuran, bentuk, warna dan ekologinya.
Umum terdapat di seluruh kawasan beriklim sedang dan daerah-daerah tropis. Perbedaannya yaitu adanya tiga pasang kutil pada wajah babi hutan jantan dewasa yaitu pada sudut rahangnya, di bawah mata dan pada moncongnya
Babi Hutan berkelana dalam kelompok kecil, terdiri dari 4-6 ekor, sedangkan Babi Alang-alang kadang-kadang yang ukurannya sepuluh kali lebih besar.
Babi Hutan betina dewasa jauh lebih kecil daripada yang jantan (kurang dari setengah berat badan babi jantan). Sedangkan pada Babi Alang-alang, betina mempunyai berat sampai 85% berat babi jantannya (Bartels 1942: Groves, 1981)
Babi Hutan tidak terdapat pada ketinggian >800 m, habitat yang disukai oleh Babi Hutan adalah dataran rendah dengan vegetasi sekunder yang luas, terutama tumbuhan jati di daerah Jawa Tengah, dimana terdapat campuran pohon-pohon dengan umur pertumbuhan yang berbeda dan tanah berumput dengan semak-semak belukar atau hutan yang terganggu berat.
Seperti kondisi floranya, fauna Jawa jauh lebih miskin daripada Pulau-pulau Sunda Besar lainnya yang lebih besar, tetapi tingkat endemismenya relatif tinggi.
Pustaka
Payne, J., Francis CM., Phillips, Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mammalia di Kalimantan, Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam. The Sabah Society dan Wildlife Conservation Society.
Babi Hutan Jawa endemik Sus verrucosus
it is true that some time indonesian also call babi or we can call indonesian as babi hutan.
Menarik Mang Deri.. terlebih jika tulisannya dilengkapi dengan poto. Terima kasih.
Alhamdulillah…
Iya nih, kebetulan lagi ngulik2 wordpressnya juga biar bisa nambah2in fotonya…
Hatur nuhun mang jods..
fotonya Babi Kutil ini bisa dilihat di: