Skip to content

Bedana Abdi Alloh jeung Abdi Syaitan

Mei 16, 2011

Abdi Alloh mah teu sieun ku sagalana, boro-boro kaleungiteun harta jeung banda, leungit nyawa ge Abdi Alloh mah teu sieun. Tegesna lamun manusa geus jadi Abdi Alloh dimana nyinghareupan parentah ti Alloh keur kapentingan bersama umat manusa tara oyag bulu salambar, boro-boro leungit harta leungit nyawa ge teu sieuneun sabab Abdi Alloh boga kayakinan, paehna moal rugi surga buruhna, kajeun aya seuneu naraka teu oyag bulu salambar da naraka na ge moal ngegel kana kulitna. Atuh lamun Abdi Alloh teu sieun paeh mah, Abdi Alloh teh sok hayang paeh??? tah didieu kaliruna…

Lamun aya jalema sok menta paeh eta teh lain Abdi Alloh tapi Abdi Syetan, naon sababna? Dimana hayang paeh pasti embungeun hirup, dimana embung hirup nolak kana amanah ti Alloh, padahal hirup lain meunang pesen, tapi amanah ti Alloh pikeun kumawula ka Anjeunanana.

Conto, sok aya geningan jelema anu gering lila teuing tuluy ngomongna “Aduh Gusti ari kieu-kieu teuing teh mugiya abdi enggal dipundut weh…” Abdi syaitan eta teh.

Conto nu lain mah aya anu nepikeun ka ngagantung maneh. Jadi lamun aya jelema nu sok hayang paeh lain Abdi Alloh, tapi Abdi Syaitan, da ari Abdi Alloh mah teu sieun paeh tapi tara hayang paeh.

Atuh ari tara hayang paeh mah Abdi Alloh teh sok hayang kana hirup??

Tah didieu bedana, lamun aya jelema anu kokomoan kana hirup eta teh lain Abdi Alloh, tapi Abdi Syaitan, da ari Abdi Alloh mah tara kokomoan kana hirup. Naha ari anu kokomoan kana hirup disebut Abdi Syaitan, naon sababna?? Dimana jelema kokomoan kana hirup eta teh embungeun paeh, dimana embungeun paeh manehna tara tanggung jawab.

Abdi Alloh mah sanggup hirup – rela paeh… Pangna sanggup hirup, sabab hirup lain meunang pesen tapi amanah ti Alloh.

Pangna rela paeh, sabab boga kayakinan paehna moal rugi surga buruhna, kajeun aya seuneu naraka teu oyag bulu salambar sabab naraka-na ge moal ngegel kana kulitna. Standar Abdi Alloh mah, teu sieun ku naon-naon, asal Alloh weh nu nitahna.

#dicutat tina ceramah sunda Alm. KH. AF. Ghazali#

CERITA DI BALIK LOMBA PENGAMATAN BURUNG TINGKAT NASIONAL ”UJUNG PANGKAH WATER BIRD WATCHING RACE 2008”

April 24, 2010

Cerita ini berawal ketika kami “Biconers” melakukan evaluasi event Hari Bumi “Dago Walking Day “ di Sasana Budaya Ganesha ITB. Ketika itu kami membahas mengenai acara yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan ke depannya seperti memperingati Hari Cinta Satwa Puspa Nasional dimana salah satu acaranya akan diisi oleh lomba pengamatan burung (bird race) yang rencananya akan diselenggarakan sekitar bulan November 2008. Seiring dengan rencana kegiatan tersebut kami pun sepakat untuk memulai menginformasikan dan mempromosikannya melalui pendelegasian anggota BICONS pada kegiatan bird race yang diadakan oleh Himabio ITS – Surabaya yang akan berlangsung dari tanggal 25 – 27 April 2008. Singkat cerita terbentuklah satu tim Bicons yang terdiri dari tiga orang anggota Bicons yaitu Puput, Ima dan saya sendiri.

Dengan diiringi oleh doa dan restu dari biconers yang lain kami pun berangkat pada hari Kamis tanggal 24 April 2008 diantarkan oleh koordinator Bicons Kang Tedi menuju Stasion Bandung. Kami berangkat menuju Surabaya menggunakan Kereta Api Mutiara Selatan sekitar pukul 5 sore bersama dengan tim dari Himbio Unpad yang waktu itu mengirimkan 2 tim…

Ketika di perjalanan kami belajar dan berdiskusi mengenai burung air (water bird), karena bagi kami sebagai orang Bandung yang kesehariannya tinggal di gunung dan jauh dari laut, burung air adalah sesuatu yang selalu menjadi “tantangan” untuk diamati. Beberapa jenis burung air pun sempat terlihat dan menjadi bahan untuk berdiskusi pada saat kereta melewati areal persawahan Gedebage dan Rancaekek. Dua jenis diantaranya adalah jenis yang cukup umum ditemukan, yaitu Blekok sawah (Ardeola speciosa) dan Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) yang sering terlihat terbang membentuk formasi huruf V pada saat sore hari.

Kereta pun berlalu meninggalkan burung-burung dan kota Bandung menuju ke arah timur menjauhi matahari yang waktu itu tenggelam di ufuk barat…

Banyak kota kami lewati dan beberapa kota kami singgahi karena kereta yang kami tumpangi memang harus singgah di kota tersebut. Kroya, Gombong, Kebumen, Yogyakarta, Solobalapan, Madiun, Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojokerto…

14 jam berlalu tibalah kami di Stasion Gubeng yang merupakan salah satu stasion besar di Kota Surabaya. Setibanya di sana kami disambut oleh kawan kami yang bernama Asih yang baru lulus dari Universitas Airlangga. Kami kenal dengannya lewat event bird race yang biasa kami ikuti. Dia pun ikut dan mengantarkan kami sampai ke kampus ITS. Di sana kami disambut oleh panitia bird race ITS.

Perjalanan yang jauh dan suhu Surabaya yang panas membuat kami semua menanyakan hal yang sama pada panitia, “Mba mba… kamar mandinya dimana yah?”. Sambil mengantri kamar mandi, kami pun bersosialisasi dengan para peserta yang lain. Jumlah total peserta adalah 22 tim terdiri dari organisasi mahasiswa, LSM, kelompok pecinta burung, dan satu tim dari SMA. Peserta yang hadir waktu itu yang paling jauh berasal dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan peserta yang berasal dari luar Jawa adalah Himabio Universitas Udayana Bali.

Sekitar pukul 13.00 kami bersama peserta lainnya mengikuti technical meeting dan pembukaan acara yang dibuka oleh Dekan FMIPA ITS dengan acara simbolik pelepasan beberapa ekor burung Bondol peking (Lonchura punctulata).

Lokasi perlombaan dibagi menjadi tiga lokasi yaitu Kampus ITS, Pertambakan Ujung Pangkah Gresik, dan Muara Sungai Bengawan Solo Gresik.

Tepat pada pukul 15.00 perlombaan pun dimulai di lokasi yang pertama yaitu Kampus ITS. Para peserta tampak mempersiapkan senjatanya masing-masing, mereka bergegas menuju lokasi yang diperkirakan menjadi habitat burung yang paling melimpah. Dengan binokuler yang menggantung di leher dan tiang tripod yang terpasang berikut monokulernya telah disiapkan untuk membidik sasaran buruan burung-burung kawasan Kampus ITS, dan perlombaan pun dimulai… the battle has begun… Biconers!!!..let’s beat them all!!!…

Kawasan kampus ITS dihuni oleh 56 jenis burung, data tersebut didapatkan dari salah seorang teman kami yang selalu melakukan pengamatan burung kampus secara rutin. Akan tetapi pada sore itu kami hanya dapat menemukan 28 jenis saja, yaitu jenis yang biasanya umum terlihat dan terdapat di Bandung juga. Sebagian besar burung yang berhasil kami catat ditemukan di wilayah hutan kampus. ITS memang memiliki kawasan hutan kampus yang cukup luas dengan komposisi vegetasi yang beranekaragam. Beberapa bagian lahannya dijadikan tambak atau tempat pemancingan, sedangkan sebagian lagi ditanami pohon-pohon pelindung jalan, pohon buah, tanaman budidaya, dan ada yang dibiarkan liar sehingga ditumbuhi semak-semak dan tumbuhan air lainnya. Kondisi demikian menjadikan beberapa jenis burung air seperti Kareo padi (Amarournis phoenicurus) dan burung semak seperti Kerakbasi kecil (Acrocephalus stentoreus) dan juga keluarga burung Perenjak (Prinia spp.) jumlahnya melimpah di kawasan tersebut.

Pengamatan pun berakhir ketika menjelang maghrib, para peserta mengumpulkan hasil pengamatan yang ditulis pada buku notes kepada panitia. Peraturan perlombaan pengamatan burung di ITS ini melarang peserta membawa buku panduan burung (field guide), sehingga apabila peserta menemukan satu jenis burung maka peserta diharuskan membuat sketsa beserta deskripsinya pada buku kecil yang telah dibagikan untuk meyakinkan tim juri bahwa peserta betul-betul telah melihat jenis tersebut, dan yang lebih penting lagi adalah agar peserta terbiasa dengan pengamatan burung yang baik dan benar.

Sekitar pukul 20.00 para peserta berangkat menuju lokasi pengamatan selanjutnya yaitu di Muara Sungai Bengawan Solo atau disebut dengan Delta Solo atau Ujung Pangkah yang terletak di kabupaten Gresik. Lokasi tersebut merupakan kawasan yang menjadi daerah penting bagi burung (important bird area/IBA) terutama burung air, yaitu berdasarkan publikasi dari BirdLife International tentang kawasan penting bagi burung di dunia. Waktu tempuh untuk menuju lokasi tersebut kurang lebih 2 jam dari kampus ITS. Kami menempuhnya menggunakan bis yang disediakan oleh panitia. Sesampainya di sana kami langsung mendirikan tenda di dekat pemukiman masyarakat dan letaknya tak jauh dari kantor nelayan yang biasanya dijadikan sebagai tempat pelelangan ikan.

Pada pagi harinya setelah sholat shubuh dan melakukan sarapan, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi pengamatan yang kedua yaitu di areal pertambakan Ujung Pangkah. Kami berjalan menyusuri tegalan-tegalan di pinggiran tambak sambil mengarahkan teropong yang menjadi senjata andalan kami. Iringan burung kuntul (Egretta spp.) yang berwarna putih menyambut kehadiran kami, diselingi dengan riuhnya suara Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) dan Kapasan kemiri (Lalage nigra) juga tak ketinggalan merdunya kicauan Cipoh kacat (Aegithina tiphia) menambah semaraknya perlombaan itu. Sesekali terlihat kelompok burung Dara-laut dari jenis Chlidonias spp. dan Sterna spp. terbang melintasi para peserta lomba pengamatan. Burung Cekakak sungai (Todirhampus chloris) yang hampir mirip dengan saudaranya Cekakak suci (Todirhampus sanctus) membuat kami sedikit berlama-lama mengamati, karena perbedaannya yang tipis pada warna perutnya, dimana pada Cekakak suci warnanya lebih kuning dan kusam, juga ukurannya yang lebih kecil. Menurut literatur, jenis tersebut migran selama musim dingin dari Australia, yaitu bulan April sampai September.

Saat mentari mulai naik dan udara semakin panas kami pun berteduh di bawah pohon bakau-bakau Rhizophora spp. dan Avicennia spp. sambil mengamati kelompok bebek yang sedang berenang dan sesekali terlihat menyelam mencari mangsa pada tambak ikan tepat di depan tempat kami sedang berteduh. Rupanya yang kami lihat adalah jenis Itik alis-putih (Anas querquedulla), dan jenis bebek lainnya yaitu Belibis batu (Dendrocygna javanica) terlihat sedang berkejaran satu sama lain. Tak jauh dari lokasi tersebut terdapat sarang-sarang kelompok Kuntul (Egretta spp) yang tersusun pada kanopi pohon-pohon bakau yang letaknya berada di tengah-tengah tambak. Tercatat diantaranya jenis Kuntul besar (Egretta alba), Kuntul kecil (Egretta garzetta), Kuntul perak (Egretta intermedia), dan keluarga Kuntul lainnya. Beberapa jenis burung air lainnya juga tercatat pada tempat yang sama, seperti jenis Kokokan laut (Butorides striatus), kelompok Bambangan dari mulai Bambangan merah (Ixobrychus cinnamomeus), Bambangan coklat (Ixobrychus eurhythmus), sampai Bambangan kuning (Ixobrychus sinensis) dan tak ketinggalan juga si Kowak-malam kelabu (Nycticorax nycticorax) yang sekarang menjadi burung air khas Kota Bandung, burung yang kini menjadi maskot Sunday Bird Watching-nya Bicons.

Selain burung air, kami juga mencatat jenis-jenis yang lain, diantaranya Raja-udang Biru (Alcedo coerulescens) yang terlihat sedang terbang melesat menyambar ikan dari pohon yang menjadi tenggerannya, dimana pohon tersebut dihuni juga oleh Kekep babi (Artamus leucorhynchus) yang bertengger pada puncak pohon kering tersebut. Beberapa meter dari sana terlihat burung Kipasan belang (Rhipidura javanica) yang sedang mengejar burung Kacamata jawa (Zosterops flavus), tampaknya dia merasa terganggu karena sarangnya di dekati oleh burung tersebut.

Beberapa jenis burung tercatat terbang tinggi melintasi areal pertambakan, satu diantaranya adalah jenis Gagang-bayam timur (Himantophus leucocephalus) yang bentuk tubuh dan kakinya memanjang dengan warna dominan putih dan warna hitam pada tubuh bagian belakang. Jenis burung lainnya adalah Cangak laut (Ardea sumatrana) yang arah terbangnya tampak menuju laut, kemudian beberapa menit setelahnya tampak tiga ekor Gagak hutan (Corvus enca) terbang dari arah yang berlawanan. Pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris) dan Pecuk-padi kecil (Phalacrocorax niger) berhasil kami identifikasi, sangat tipis memang perbedaan diantara keduanya, yaitu pada paruh yang berwarna kuning pada Pecuk-padi kecil dan warna hitam pada Pecuk-padi hitam.

Pengamatan waktu itu berakhir saat mentari tepat di atas kepala kita, dan seluruh peserta kembali menuju basecamp untuk melanjutkan pengamatan di lokasi yang ketiga.

Lokasi pengamatan selanjutnya adalah Muara Sungai Bengawan Solo yang dapat ditempuh dengan menggunakan perahu. Siang itu sebanyak 22 tim ditambah dengan panitia dan juri berangkat menuju muara sungai dengan menggunakan lima perahu nelayan.

Para peserta mulai melakukan pengamatan di sepanjang perjalanan dari atas perahu. Agak sulit memang pengamatan yang kami lakukan, karena perahu tidak bisa diam dan selalu terombang-ambing oleh gelombang ombak yang menghantam perahu. Kendati demikian, kami harus tetap berkonsentrasi penuh mengamati lingkungan sekitarnya, siapa tahu saja ada jenis burung yang belum tercatat oleh kami.

Tanpa terasa ke-empat perahu yang lainnya sudah jauh meninggalkan perahu yang kami tumpangi. Mungkin karena kekuatan motornya yang berbeda dengan ke-empat perahu tersebut akhirnya kami tertinggal jauh di belakang. Kami sedikit kecewa dengan keadaan tersebut, akan tetapi kami juga tidak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa memaksimalkan pengamatan dengan menyisir tepian sungai menggunakan teropong kami. Dan hasilnya cukup memuaskan, kami berhasil mencatat jenis-jenis baru, seperti sepasang Bubut besar (Centropus sinensis) yang terlihat terbang pada semak-semak di tepi sungai, dan tak jauh dari sana terlihat Kirik-kirik biru (Merops viridis) yang bertengger bersama kelompoknya di ranting-ranting pohon yang kering. Beberapa jenis burung terlihat menyebrangi sungai, tercatat diantaranya adalah Bambangan hitam (Dupetor flavicollis), Tiong batu (Eurystomus orientalis) dan Gemak loreng (Turnix suscitator).

Setelah beberapa jam berlalu akhirnya perahu sampai di lokasi yang dituju. Rupanya kami harus menunggu surutnya air laut untuk melihat hamparan lumpur (mudflat) pada tepi mangrove yang biasanya dijadikan tempat mencari makan yang paling disukai oleh berbagai jenis burung air.

Saat air laut surut mudflat pun terbentuk, lalu tiba-tiba datanglah rombongan burung air menyerbu lokasi tersebut. Mereka tertarik dengan mudflat karena menyediakan berbagai macam sumber makanan yang disukai, seperti ikan dan berbagai jenis invertebrata berupa kepiting, cacing, mollusca, dan udang-udangan. Selain kelompok burung air seperti Kuntul (Egretta spp.) dan keluarga Ardeidae lainnya, mudflat juga disukai oleh kelompok burung pantai migran (shore birds) yang waktu itu tercatat beberapa jenis, diantaranya dari kelompok Gajahan (Numenius spp.), Trinil (Tringa spp.), dan Biru-laut ekor-blorok (Limosa lapponica). Hadir juga kelompok burung laut (sea birds) dari keluarga Dara-laut (Sternidae) dan Camar (Laridae) yang ikut memeriahkan “pesta laut” waktu itu.

Pengamatan pun berakhir ketika penglihatan pada teropong kami sudah tak jelas lagi, dan ternyata mentari perlahan mulai menenggelamkan diri di ufuk barat. Padahal kami masih belum puas menyaksikan kemeriahan “pesta laut” para “pembelah angkasa” yang jarang sekali kami temui.

Menarik memang, kawasan tersebut kaya akan burung air dan burung liar lainnya. Bagi beberapa peserta, perjalanan tersebut memberikan kesan yang mendalam akan keindahan panorama dan burung-burungnya, pun bagi beberapa peserta lainnya yang tidak terbiasa dengan perjalanan air seperti itu, mereka merasakan pusing dan masuk angin setelah mengalami panas terik di siang harinya dan angin laut yang cukup besar disertai gelombang ombak yang menggoyang-goyang perahu di sepanjang perjalanan.

Pada malam harinya peserta berkumpul di kantor nelayan untuk mengikuti kuis sebagai tambahan poin penilaian tim juri, dan sebelumnya lembar pengamatan beserta buku notes dikumpulkan ke panitia. Setelah kuis selesai acara dilanjutkan dengan sosialisasi, dan tidak lupa kami menyampaikan informasi dan mempromosikan bahwa Bicons akan mengadakan lomba pengamatan burung di Bandung sekitar bulan November.

Setelah acara tersebut kami pun beristirahat untuk mempersiapkan acara keesokan harinya.

Pada Esok harinya peserta mengikuti kegiatan penanaman mangrove di sempadan Bengawan Solo, dan penanaman pohon Ketapang di sepanjang pinggiran sungai Bengawan Solo. Kegiatan tersebut layak ditiru, karena selain dapat memperbaiki habitat burung, penanaman pohon juga penting sebagai penyerap karbon dan pencegah global warming yang menjadi tema dari kegiatan perlombaan ini.

Setelah kegiatan tersebut selesai, peserta kembali dikumpulkan di kantor nelayan untuk mengikuti acara penutupan sekaligus pengumuman pemenang perlombaan. Acara diakhiri dengan pidato yang disampaikan oleh Camat Ujung Pangkah dan Ketua Nelayan Ujung Pangkah mengenai pentingnya menjaga kawasan mangrove sebagai habitat ikan dan burung air.

Kemudian pengumuman pemenang dibacakan oleh perwakilan juri dari Wetlands International Indonesia Program yaitu Kang Ferry Hasudungan, dan berikut susunan pemenang perlombaan:

  • Juara 1 diraih oleh BICONS
  • Juara 2 diraih oleh KPB Nycticorax Universitas Negeri Jakarta
  • Juara 3 diraih oleh Tim 2 KSSL Universitas Gadjah Mada
  • Juara Kawasan Ujung Pangkah Kab. Gresik diraih oleh BICONS
  • Juara Kawasan Kampus ITS Surabaya diraih oleh KSSL Tim 1 UGM

Untuk species kunci pada perlombaan ini adalah:

  1. Tikusan alis putih / White-browed Crake (Porzana cinerea)
  2. Bambangan hitam / Black Bittern (Dupetor flavicollis)
  3. Pecuk padi kecil / Little Cormorant (Phalacrocorax niger)

Dimana dua diantaranya berhasil kami catat keberadaannya.

Prestasi ini merupakan anugerah yang tak ternilai bagi kami yang diberikan Allah SWT, Alhamdulillah…

Ucapan terima kasih kami sampaikan pada pengurus Bicons atas kepercayaan yang telah diberikan, terima kasih juga buat kawan-kawan Biconers atas do’a dan dukungannya. Sebenarnya bagi kami ada yang jauh lebih penting dari sekedar berlomba, yaitu bersilaturahmi dengan komunitas pengamat burung se-Indonesia sehingga kami bisa berbagi pengalaman dan informasi mengenai kegiatan yang dilakukan di daerahnya masing-masing. Semoga Allah SWT meridhoi kegiatan ini, amin.

<Deri Ramdhani>

Avifauna (Burung) di Padalarang dan sekitarnya (Fokus Lokasi : Gua Pawon – Gunung Masigit)

April 24, 2010

Avifauna (Burung) di Padalarang dan sekitarnya

(Fokus Lokasi : Gua Pawon – Gunung Masigit)


Oleh : Deri Ramdhani


Waktu itu di pagi hari kami berenam yang tergabung dalam komunitas pengamat burung BICONS (Birds Conservation Society) berencana melakukan perjalanan ke Gua Pawon untuk melakukan pengamatan di kawasan yang terkenal sebagai salah satu situs sejarah dimana ditemukannya fosil manusia purba yang menghuni Gua tersebut. Kawasan ini terletak di sebelah barat Kota Bandung, tepatnya berada di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Perjalanan ke lokasi menyita waktu kurang lebih satu jam dengan mengunakan motor melewati Kota Cimahi dan Kota Padalarang menuju ke arah Cianjur. Semakin mendekati ke lokasi terlihat beberapa truk besar yang hilir mudik mengangkut batuan dari bukit-bukit yang tampak semakin terkikis. Truk-truk tersebut berumur puluhan tahun dan sering disebut dengan nama “bayawak” karena memang memiliki moncong yang khas.

Keluar dari jalan raya Padalarang kami mulai memasuki jalan menuju kawasan Gua Pawon. Jalan inilah yang digunakan sebagai jalur transportasi truk “bayawak” dari dan menuju lahan tambang galian C yang terdapat di bukit-bukit yang salah satunya bernama Gunung Masigit. Kawasan ini merupakan kawasan karst yang terbentuk dari cekungan danau Bandung purba selama jutaan tahun yang lampau. Tipe vegetasi di kawasan ini didominasi oleh vegetasi semak, karena lapisan tanah yang tipis yang hanya terdapat di permukaan saja, selebihnya berupa batuan kapur atau dikenal dengan karst.

Beberapa jenis tumbuhan dari kelompok semak yang jumlahnya melimpah adalah jenis Kipait (Tithonia diversifolia), Kirinyuh (Eupathorium odoratum), Babadotan (Ageratum conyzoides), Widelia (Wedelia triloba), Jarong (Stachytarpheta jamaicensis), kembang telang (Clitoria ternatea), dan beberapa jenis rumput (cyperaceae). Berlimpahnya rumput dan beberapa jenis semak di kawasan ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai pakan ternak. Selain itu beberapa jenis satwa liar juga tampak memanfaatkan semak-semak tersebut sebagai tempat bersarang, mencari makan, dan tempat berlindung. Mammalia kecil yang hidup di habitat tersebut seperti jenis tikus ladang (Rattus sp.), Musang (Paradoxiurus hermaproditus), dan Bajing (Tupaia sp.). Sedangkan untuk jenis burung semak yang tercatat adalah Bubut alang-alang (Centropus bengalensis), Cici padi (Cisticola juncidis), Bentet kelabu (Lanius schach), Cinenen jawa (Orthotomus sepium), Cinenen pisang (Orthotomus sutorius), Perenjak jawa (Prinia familiaris), Gemak loreng (Turnix suscitator), dan dua jenis burung pipit, yaitu Bondol jawa (Lonchura leucogatroides), dan Bondol peking (Lonchura punctulata).

Sedangkan di lahan yang sedikit landai masyarakat setempat menanaminya dengan tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian, yang diselingi beberapa tanaman kayu seperti Albasiah (Albizzia sp.), Pisang (Musa paradisiaca), Cebreng, dan bibit pohon Mahoni (Swietenia mahagoni). Pada habitat pepohonan ini beberapa jenis burung arboreal dapat ditemukan, seperti  Burung pelatuk dari jenis Caladi ulam (Dendrocopus macei) dan Caladi tilik (Picoides moluccensis), selain itu burung kosmopolit arboreal dari jenis Cabe jawa (Dicaeum trochileum), burung Madu sriganti (Nectarinia jugularis), dan Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus) menambah keanekaragaman burung di kawasan Gua Pawon ini.

Luasnya semak-semak yang terdapat di kawasan ini turut mengundang kelompok burung pemangsa (raptor), yaitu jenis Alap-alap sapi (Falco molucensis) yang dapat dengan leluasa berburu dari tenggerannya atau mengintai ketika sedang terbang melayang (soaring). Pada malam harinya giliran kelompok burung nokturnal yang melakukan perburuan, dua jenis diantaranya adalah Serak jawa (Tyto alba) yang gemar berburu mammalia kecil atau burung, dan Cabak kota (Caprimulgus affinis) yang berburu serangga malam. Cabak kota biasanya bersarang dan beristirahat pada siang hari di lantai tanah yang tertutupi oleh semak-semak. Sedangkan Serak jawa atau koreak bersarang dan beristirahat pada siang hari di atap bangunan atau di gua-gua.

Adalah Gua Pawon yang kini dijadikan situs bersejarah ditemukannya fosil manusia Bandung Purba. Di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit yang terbentuk dari proses pengendapan mineral oleh tetesan air dalam jangka waktu yang lama. Lorong gua yang gelap dan lembab menjadikan habitat yang cukup nyaman bagi beberapa satwa liar seperti mammalia terbang dari kelompok kelelawar yang hidup bergantungan pada atap-atap gua. Terlihat juga beberapa sarang burung dari kelompok burung walet atau burung layang-layang, yaitu dari jenis Walet linci (Collocalia linchi), Kapinis rumah (Apus affinis), Layang-layang batu (Hirundo tahitica), dan Layang-layang loreng (Hirundo striolata), mereka menggantung dan bersarang pada dinding dan atap gua. Berdasarkan wawancara terhadap penduduk sekitar, beberapa tahun yang lalu masih dapat ditemukan jenis Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), namun sekarang ini tampaknya sudah menghilang keberadaannya.

Adanya eksploitasi yang berjalan sangat cepat terhadap habitat kawasan Gua Pawon turut mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati khas kawasan karst atau tepatnya kawasan Gua Pawon. Gangguan habitat yang paling besar adanya penambangan batu yang dari tahun ke tahun areal tambangnya semakin meluas, sehingga mempersempit habitat satwa liar. Selain hilangnya habitat satwa liar, dampak dari kegiatan tambang Galian C tersebut adalah hilangnya sarana penelitian sejarah berupa situs geologi yang berumur jutaan tahun.

Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena nilai keanekaragaman hayati dan geologi tidak kalah pentingnya dengan kegiatan penambangan yang mengatasnamakan pembangunan ekonomi. Dari segi keanekaragaman hayatinya yaitu spesifik pada keanekaragaman burungnya, kawasan Gua Pawon sejauh ini merupakan habitat bagi 27 jenis burung, dimana sebanyak 5 jenis diantaranya merupakan burung yang dilindungi oleh peraturan perundangan RI dan Internasional.

-Sekian-

Laporan Asian Waterbirds Census (AWC) di Bandung

April 24, 2010

Laporan Asian Waterbirds Census (AWC) di Bandung

Oleh : Deri Ramdhani

Pengamatan burung air di Bandung dilakukan di beberapa tempat oleh para pengamat burung yang tergabung dalam komunitas pengamat burung BICONS (Birds Conservation Society). Beberapa lokasi diantaranya merupakan kawasan lahan basah seperti sawah, sehingga banyak ditemukan burung air yang menjadikan kawasan tersebut sebagai habitatnya. Akan tetapi di beberapa lokasi tidak terdapat kawasan lahan basah namun masih dapat ditemukan kelompok burung air di lokasi tersebut, seperti halnya kawasan taman kota.

Luasan lahan basah di Bandung dari tahun ke tahun semakin menyempit, dikarenakan perluasan pemukiman yang tidak mengindahkan fungsi ekologis. Sehingga dampak yang dirasakan masyarakat Bandung pun sangat banyak, dari mulai bencana banjir di musim hujan, baik banjir yang berasal dari luapan sungai maupun banjir cileuncang, sampai minimnya jumlah air yang dapat dikonsumsi ketika datangnya musim kemarau. Hal tersebut adalah beberapa contoh dari bencana sebagai akibat dari terabaikannya fungsi ekologis lahan basah di Bandung.

Burung air sebagai indikator keberadaan lahan basah pun keberadaannya kini semakin terganggu dengan perluasan wilayah pemukiman ke areal persawahan. Sebagai contoh, kurang dari empat tahun yang lalu kami masih dapat melakukan pengamatan burung air di area lahan basah tepatnya di pinggiran rel kereta api yang melintasi jalan tol Cileunyi. Di area tersebut tumbuh beberapa jenis tumbuhan air seperti Kangkung Belanda (Ipomea sp.) yang dijadikan sebagai habitat bersarang berbagai jenis burung air yang menghuni areal persawahan di Cileunyi dan sekitarnya. Namun kini habitat tersebut sudah hilang dan beralih fungsi menjadi kawasan kompleks perumahan, sehingga berbagai jenis burung air tersebut harus mencari habitat bersarang yang baru.

Terdapat enam region yang telah dilakukan survey burung air di Bandung dan sekitarnya. Berikut akan diuraikan lokasi beserta jenis burung air yang ditemukan di enam region tersebut.

A. Kawasan Bojong Soang

Jenis burung air yang ditemukan di sekitar kawasan Instalasi Pengolahan Air Limbah PDAM dan areal pesawahan Bojong Soang Bandung

Kelompok No Nama Ilmiah Nama Indonesia Nama Inggris Famili Individu Ket.
Waterfowl 1 Tachybaptus ruficollis Titihan telaga Little Grebe Podicipedidae A A 1
Wading bird 2 Bubulcus ibis Kuntul kerbau Cattle egret Ardeidae B B 2 – 5
3 Ardeola speciosa Blekok sawah Javan pond-heron Ardeidae C C 6 – 10
4 Nycticorax nycticorax Kowak-malam kelabu Black-crowned Night-heron Ardeidae C
5 Ixobrychus cinnamomeus Bambangan merah Cinnamon bittern Ardeidae C
Shore bird 6 Tringa hypoleucos Trinil pantai Common sandpiper Scolopacidae C
Others 7 Amaurornis phoenicurus Kareo padi White-breasted Waterhen Rallidae B

Survey yang dilakukan di kawasan Bojong Soang merupakan survey keanekaragaman hayati, khususnya kelompok burung. Tipe habitat di lokasi pada umumnya merupakan areal persawahan, sehingga sebanyak 4 jenis burung dari kelompok wading bird ditemukan di habitat tersebut. Untuk kelompok shore bird ditemukan jenis Trinil pantai (Tringa hypoleucos) yang diprakirakan merupakan jenis migran, karena hanya dapat ditemukan pada bulan-bulan tertentu saja. Tercatat satu jenis burung air dari kelompok Waterfowl, yaitu Titihan telaga (Tachybaptus ruficollis) yang ditemukan hanya 1 ekor. Individu ini menggunakan kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PDAM sebagai habitatnya. Berdasarkan data inventarisasi burung di Bandung, burung ini merupakan catatan baru yang menambah jumlah jenis burung di Bandung. Dimana sebelumnya pernah tercatat satu jenis burung air dari kelompok sea bird/sea gull yaitu jenis Cikalang kecil (Fregata minor) tidak jauh dari lokasi ditemukannya burung tersebut.

Kawasan Bojong Soang merupakan kawasan yang memiliki jumlah jenis dan individu burung air terbanyak. Kawasan ini ditunjang oleh lahan basah yang cukup luas dan selalu tersedia pengairan terhadap areal sawahnya. Ketika di musim hujan kawasan ini sering mengalami banjir, tepatnya lokasi yang berbatasan dengan wilayah Dayeuh kolot dan Baleendah. Berdasarkan ketinggian di atas permukaan laut, kawasan ini merupakan kawasan yang paling rendah diantara kawasan Cekungan Bandung Purba, sehingga muara dari beberapa anak sungai Citarum mengalir menuju kawasan ini.

B. Kawasan Gede Bage

Jenis burung air yang ditemukan di sekitar kawasan Gede Bage

Kelompok No Nama Ilmiah Nama Indonesia Nama Inggris Famili Individu Ket.
Wading bird 1 Bubulcus ibis Kuntul kerbau Cattle egret Ardeidae C A 5 – 10
2 Ardeola speciosa Blekok sawah Javan pond-heron Ardeidae C B 11 – 20
3 Nycticorax nycticorax Kowak-malam kelabu Black-crowned Night-heron Ardeidae B C > 30
4 Ixobrychus cinnamomeus Bambangan merah Cinnamon bittern Ardeidae A
Shore bird 5 Tringa hypoleucos Trinil pantai Common sandpiper Scolopacidae A
Others 6 Amaurornis phoenicurus Kareo padi White-breasted Waterhen Rallidae A

Jenis burung air di Kawasan Gede Bage hampir sama dengan jenis burung yang ditemukan di Kawasan Bojong Soang, hanya saja di kawasan ini tidak tercatat jenis Waterfowl Titihan telaga (Tachybaptus ruficollis), dimana di kawasan Bojong Soang tercatat menggunakan kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah milik PDAM. Selain itu di kawasan Gede Bage kami menemukan habitat bertengger (roosting site) yang bersatu dengan habitat bersarang (nesting site) dari dua jenis burung air, yaitu Blekok sawah (Ardeola speciosa) dan Kuntul kerbau (Bubulcus ibis). Habitat tersebut berupa rumpun bambu milik salah seorang tokoh masyarakat di Kampung Rancabayawak. Keberadaan burung tersebut dilindungi oleh pemilik lahan, karena pemilik lahan mengetahui fungsi dan manfaat keberadaan burung air tersebut bagi ekosistem lahan basah, sehingga masyarakat tidak ada yang berani mengganggu tempat tenggeran dan bersarang burung air ini walaupun sering tercium bau anyir dari kotoran burung karena lokasinya yang berdekatan dengan pemukiman penduduk.

C. Kawasan Taman Kota

Jenis burung air yang ditemukan di kawasan taman kota Bandung hanya ada satu jenis saja, yaitu Kowak-malam kelabu (Nycticorax nycticorax). Keberadaan burung ini di Taman Ganesha menjadi fenomenal, karena menjadi penyebab dari banyaknya kotoran yang mengotori sepanjang Jalan Ganesha di depan Kampus ITB. Burung yang konon berasal dari Kebun Binatang Bandung ini jumlah populasinya terus meningkat, puncaknya yaitu pada tahun 2007 yang mencapai lebih dari 2000 individu. Berbagai macam perlakuan terhadap keberadaan burung ini pernah dilakukan, dari mulai pemindahan induk burung, gangguan berupa suara kaleng yang digantung di dekat sarang, sampai pada insiden penembakan yang mengatasnamakan pengelola kampus. Setelah melalui berbagai media akhirnya keberadaan burung ini dapat diterima oleh pihak-pihak yang merasa terganggu dengan kehadiran burung ini.

Burung Kowak yang berada di Ganesha tersebut menghabiskan waktu istirahatnya yaitu siang hari di pohon Angsana yang berjajar sepanjang Jalan Ganesha. Ketika waktu senja tiba mereka terbang menuju area berburu, yaitu di areal yang masih terdapat sawah, kolam, dan lahan basah di sekitar Bandung. Dan ketika fajar menjelang mereka kembali ke tempat istirahatnya yaitu di jalan Ganesha ini. Jarak yang cukup jauh antara tempat berburu dan tempat istirahat bagi Kowak tidak menyebabkan mereka mencari tempat istirahat yang lebih dekat dibanding dengan jalan Ganesha. Hal tersebut dimungkinkan karena terdapatnya pepohonan tinggi  dengan kanopi luas di lokasi tersebut, sehingga menjadikan kawasan Ganesha cukup aman dan nyaman bagi keberlangsungan hidup burung ini.

D. Kawasan Jatinangor

Jenis burung air yang ditemukan di sekitar kawasan Jatinangor

Kelompok No Nama Ilmiah Nama Indonesia Nama Inggris Famili Individu Ket.
Wading bird 1 Bubulcus ibis Kuntul kerbau Cattle egret Ardeidae C A 1 – 4
2 Ardeola speciosa Blekok sawah Javan pond-heron Ardeidae C B 5 – 10
3 Nycticorax nycticorax Kowak-malam kelabu Black-crowned Night-heron Ardeidae B C > 10
4 Ixobrychus cinnamomeus Bambangan merah Cinnamon bittern Ardeidae A
Others 5 Amaurornis phoenicurus Kareo padi White-breasted Waterhen Rallidae A

Burung air yang tercatat di kawasan ini jumlah jenisnya lebih sedikit dibandingkan di tempat lainnya, hal ini dikarenakan tata guna lahan pertanian di kawasan ini didominasi oleh pertanian kering, seperti kebun dan ladang. Lokasi yang menjadi objek penelitian terdapat di kawasan kampus Jatinangor,  areal persawahan Jatinangor sampai ke kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang.

E. Kawasan Banjaran

Jenis burung air yang ditemukan di sekitar kawasan Banjaran hampir sama dengan yang ditemukan di kawasan Gedebage. Hal ini dikarenakan jenis lahan basah yang terdapat di dua lokasi tersebut memiliki kemiripan, yaitu areal persawahan dengan sistem pertanian irigasi.

F. Kawasan Ciwidey

Jenis burung air yang ditemukan di sekitar kawasan Ciwidey

Kelompok No Nama Ilmiah Nama Indonesia Nama Inggris Famili Individu Ket.
Wading bird 1 Ixobrychus cinnamomeus Bambangan merah Cinnamon bittern Ardeidae B A 1 – 2
Shore bird 2 Tringa hypoleucos Trinil pantai Common sandpiper Scolopacidae C B 3 – 5
3 Scolopax saturata Berkik-gunung merah Rufous Woodcock Scolopacidae A C > 5
Others 4 Amaurornis phoenicurus Kareo padi White-breasted Waterhen Rallidae A

Lokasi pengamatan dilakukan di kawasan lahan basah di Ciwidey yang merupakan kawasan lahan basah dataran tinggi. Tercatat satu jenis burung air dari kelompok Shore bird yang hanya dapat ditemukan di lahan basah pegunungan saja, yaitu Berkik-gunung Merah (Scolopax saturata). Jenis ini terdapat di kawasan lahan basah Rancaupas Ciwidey yang merupakan rawa yang berasal dari air pegunungan di sekitarnya. Ketika memasuki bulan September, dapat ditemukan beberapa ekor Trinil pantai (Tringa hypoleucos) yang memanfaatkan kawasan rawa Ranca Upas.

LAMPIRAN


Jumlah Jenis Burung di Seluruh Kawasan di Bandung dan Sekitarnya

No Nama Jenis Nama Lokal Distribusi Status Perlindungan
1 Abroscopus superciliaris Cikrak bambu
2 Accipiter gularis Elang-alap Nipon M B, D, II
3 Accipiter soloensis Elang-alap cina M B, D, II
4 Acridotheres javanicus Kerak kerbau E
5 Acridotheres tristis Kerak ungu
6 Acrocephalus orientalis Kerakbasi besar M
7 Aegithina tiphia Cipoh kacat
8 Aethopyga eximia Burung-madu gunung E A, D, E
9 Aethopyga mystacalis Burung-madu jawa E A, E
10 Alcedo coerulescens Raja-udang Biru E A, D
11 Alcedo meninting Raja-udang Meninting A, D
12 Alcippe pyrrhoptera Wergan jawa E D, E
13 Alophoixus bres Empuloh janggut
14 Amandava amandava Pipit benggala
15 Amaurornis phoenicurus Kareo padi
16 Anthreptes malacensis Burung-madu kelapa A, D
17 Apus affinis Kapinis rumah
18 Arachnothera longirostra Pijantung kecil A, E
19 Arborophila javanica Puyuh-gonggong jawa E
20 Ardeola speciosa Blekok sawah D
21 Artamus leucorhynchus Kekep babi
22 Brachypteryx leucophrys Cingcoang coklat
23 Brachypteryx montana Cingcoang biru
24 Bubulcus ibis Kuntul kerbau D
25 Cacomantis merulinus Wiwik kelabu
26 Caprimulgus affinis Cabak kota N
27 Centropus bengalensis Bubut alang-alang
28 Cettia vulcania Ceret gunung
29 Chloropsis cochinchinensis Cica-daun Sayap-biru
30 Cinclidium diana Berkecet biru-tua E
31 Cisticola juncidis Cici padi
32 Clamator coromandus Bubut pacar jambul M
33 Collocalia linchi Walet linci
34 Columba livia Merpati
35 Copsychus saularis Kucica kampung
36 Coracina larvata Kepudang-sungu gunung E
37 Coturnix chinensis Puyuh batu N
38 Crocias albonotatus Cica matahari E D, E, NT
39 Cuculus saturatus Kangkok ranting
40 Cuculus sepulcralis Wiwik uncuing
41 Culicicapa ceylonensis Sikatan kepala-abu
42 Dendrocopus macei Caladi ulam
43 Dendronanthus indicus Kicuit hutan M
44 Dicaeum sanguinolentum Cabai gunung E
45 Dicaeum trochileum Cabe jawa E
46 Dicrurus leucophaeus Srigunting kelabu
47 Dicrurus remifer Srigunting bukit
48 Ducula lacernulata Pergam punggung-hitam E
49 Enicurus leschenaulti Meninting besar
50 Enicurus velatus Meniniting kecil E
51 Erythrura hyperythra Bondol-hijau dada-merah
52 Eumyias indigo Sikatan ninon E
53 Eurystomus orientalis Tiong batu M
54 Falco moluccensis Alap-alap sapi E B, D, II
55 Falco peregrinus Alap-Alap kawah M B, D, II
56 Ficedula dumetoria Sikatan dada-merah NT
57 Ficedula hyperythra Sikatan bodoh
58 Ficedula mugimaki Sikatan mugimaki M
59 Ficedula westermanni Sikatan belang
60 Fregata minor Cikalang kecil M D
61 Gallus varius Ayam-hutan hijau E
62 Geopelia striata Perkutut
63 Gerygone sulphurea Rametuk laut
64 Halcyon cyanoventris Cekakak jawa E A, E
65 Harpactes reinwardtii Luntur harimau E A, EN
66 Hemipus hirundinaceus Jingjing batu
67 Hirundo rustica Layang-layang asia M
68 Hirundo striolata Layang-layang loreng
69 Hirundo tahitica Layang-layang batu
70 Ictinaetus malayensis Elang hitam B, E, II
71 Ixobrychus cinnamomeus Kokokan merah
72 Lanius cristatus Bentet coklat M
73 Lanius schach Bentet kelabu
74 Lanius tigrinus Bentet loreng M
75 Lonchura leucogastroides Bondol jawa E
76 Lonchura maja Bondol haji
77 Lonchura punctulata Bondol peking
78 Lophozosterops javanicus Opior jawa E D
79 Loriculus galgulus Serindit melayu II
80 Loriculus pusilus Serindit jawa E II, NT
81 Macronous flavicollis Ciung-air jawa E
82 Macropygia ruficeps Uncal kouran
83 Malacocincla sepiarium Pelanduk semak
84 Megalaima armillaris Takur tohtor E D, E
85 Megalaima haemacaphala Ungkut-ungkut
86 Megalurus palustris Cica-koreng jawa
87 Mirafra javanica Branjangan jawa
88 Motacilla cinerea Kicuit batu M
89 Muscicapa dauurica latirostris Sikatan bubik M
90 Napothera epilepidota Berencet berkening
91 Nectarinia jugularis Burung-madu sriganti A, E
92 Nycticorax nycticorax Kowak-malam kelabu N
93 Oriolus chinensis Kepudang kuduk-hitam
94 Orthotomus cuculatus Cinenen gunung
95 Orthotomus sepium Cinenen jawa E
96 Orthotomus sutorius Cinenen pisang
97 Otus lempiji Celepuk reban N
98 Padda oryzipora Gelatik jawa E VU, II
99 Parus major Gelatik-batu kelabu
100 Passer montanus Burung gereja erasia
101 Pellorneum pyrrogenys Pelanduk bukit
102 Pericrocotus miniatus Sepah gunung E
103 Pernis ptilorhynchus Sikep-madu Asia M B, D, II
104 Pernis ptylorynchus Sikep madu asia M B, E, II
105 Phaenicophaeus curvirostris Kadalan birah
106 Phylloscopus borealis Cikrak kutub M
107 Phylloscopus coronatus Cikrak  mahkota M
108 Phylloscopus trivirgatus Cikrak daun
109 Piccoides moluccensis Caladi tilik
110 Picus miniaceus Pelatuk merah
111 Pnoepyga pusilla Berencet kerdil
112 Pomatorhinus montanus Cica-kopi Melayu
113 Prinia familiaris Perenjak jawa E
114 Prinia inornata Perenjak padi
115 Prinia polychroa Perenjak coklat
116 Psaltria exilis Cerecet jawa E D
117 Psittaculla alexandri Betet biasa II
118 Pteruthius aenobarbus Ciu kunyit
119 Pteruthius flaviscapis Ciu besar
120 Ptilinopus porphyreus Walik Kepala-ungu E
121 Pycnonotus aurigaster Kutilang
122 Pycnonotus bimaculatus Cucak gunung E
123 Pycnonotus goiavier Merbah Cerukcuk
124 Pycnonotus melanicterus Cucak kuning
125 Reindwardtipicus validus Pelatuk kundang
126 Rhinomyias olivacea Sikatan-rimba dada-coklat
127 Rhipidura phoenicura Kipasan ekor merah E D, E
128 Scolopax saturata Berkik-gunung merah
129 Seicercus grammiceps Cikrak muda E
130 Sitta azurea Munguk loreng
131 Spilornis cheela Elang ular bido B, E, II
132 Spizaetus bartelsi Elang jawa E B, E, EN, II
133 Spizaetus cirrhatus Elang brontok B, E, II
134 Stachyris melanothorax Tepus pipi perak E D, E
135 Stachyris thoracica Tepus leher-putih E D
136 Streptopelia chinensis Tekukur biasa
137 Sturnus melanopterus Jalak putih E C, D, EN
138 Sturnus sturninus Jalak cina M
139 Tachybaptus ruficollis Titihan telaga
140 Tesia superciliaris Tesia jawa E
141 Todirhamphus chloris Cekakak sungai A, D
142 Treron griseicauda Punai penganten E
143 Treron oxyura Punai salung
144 Tringa hypoleucos Trinil pantai M
145 Turnix suscitator Gemak loreng
146 Tyto alba Serak jawa N II
147 Zoothera dauma Anis Sisik
148 Zoothera sibirica Anis Siberia M
149 Zosterops montanus Kacamata gunung
150 Zosterops palpebrosus Kacamata biasa

Keterangan:

Peraturan Pemerintah RI
Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931 A
SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970 B
SK. Mentan No.66/kpts/um/2/1973 C
SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979 D
Peraturan Pemerintah No 7 th 1999 E
Apendiks CITES II II
IUCN
Endangered (terancam) EN
Near Threatened (hampir punah) NT
Vulnerable (rentan) VU
Distribusi
Migran M
Endemik Jawa/Indonesia E
Nokturnal N

Burung-burung Kota Bandung (Ekspedisi Kutilang)

April 26, 2009

Executive Summary


Berdasarkan survey yang telah dilakukan BICONS dan data Ramdhani 2006, telah tercatat 86 jenis
burung yang menghuni Kota Bandung. Survey dilakukan di beberapa lokasi yang memiliki kelimpahan
burung yang tinggi, dan dilakukan di tiga tipe habitat burung antara lain: Taman kota, Lahan basah,
dan Ladang/kebun.
Hasilnya adalah:

  1. Terdapat 13 jenis burung endemik (15,12 %) yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa atau di Indonesia saja,
  2. Tercatat 15 jenis burung migran (17,44 %) yang melakukan perpindahan dari Wilayah Utara bumi pada musim dingin ke wilayah selatan bumi, dan kembali lagi ke utara pada musim panas.
  3. Terdapat 24 jenis burung (27,91 %) yang memiliki status dilindungi berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia, Apendiks CITES (Convention on Trade in Endangered Species of wild fauna and flora), dan IUCN (International Union for Conservation of Nature)

Dari 86 jenis burung yang tercatat, sebagian besar ditemukan di tipe habitat taman kota, yaitu 57
jenis burung (66,28 %) seperti di taman lingkungan, jalur hijau jalan, dan tempat pemakamam umum.
Hal ini menandakan jenis burung yang ditemukan di Bandung sangat tergantung dengan pepohonan
(arboreal) baik sebagai tempat untuk berkembangbiak, berlindung, dan mencari makan.
Lahan basah di Bandung menyediakan habitat bagi 41 jenis burung (47,67 %), lahan basah tersebut
berupa sawah, kolam atau sungai. Sedikitnya ditemukan 8 jenis (9,30 %) burung yang dikategorikan
sebagai burung air (kelompok burung yang mencari makannya tergantung pada keberadaan air).
Keberadaan lahan basah di Kota Bandung semakin terancam oleh pembangunan, dimana sebagian
besar terdapat di wilayah Bandung Timur dan Selatan yang memiliki tingkat perubahan fungsi lahan
yang tinggi.
Tipe habitat ladang/kebun yang terdapat di Bandung Utara dan Timur merupakan habitat yang baik
bagi beberapa jenis burung tertentu, seperti kelompok burung semak. Pada habitat tersebut tercatat
38 jenis burung (44,19 %) yang menghuni ladang dan kebun.
Kota Bandung menyediakan sumber makanan yang melimpah bagi burung. Sebagian besar (61 jenis
burung atau 70,93 %) sumber makanannya berupa serangga (insektivor). Dengan demikian burung
merupakan predator yang efektif yang berfungsi sebagai pengendali hama serangga, baik serangga
pada pohon, tanah, maupun serangga yang terbang di udara. Kelompok burung lainnya yang dapat
ditemukan di Kota Bandung adalah kelompok pemakan buah (frugivor 20,93 %), dan kelompok
burung pemakan biji (granivor 20,93 %). Kedua kelompok tersebut berfungsi secara alami sebagai
penyebar bibit tumbuhan yang berasal dari biji pohon tersebut. Kelompok burung yang lain berfungsi
membantu di dalam penyerbukan bunga, yaitu burung penghisap madu (nektarivor 3,49 %).
Kelompok burung air yang dapat ditemukan di kawasan lahan basah di Bandung menggantungkan
sumber makanannya pada ikan dan biota air lainnya (piscivor 13,95 %). Selain itu juga Kota Bandung
dihuni oleh kelompok burung pemangsa yang berfungsi sebagai top predator (karnivor 12,79 %).
Beberapa jenis burung pemangsa tersebut ditemukan hanya pada waktu tertentu saja yaitu pada
musim migrasi yang terjadi sekitar bulan September atau Oktober.

Keterangan status IUCN:
1. Extinct (Punah):
Species (dan taksa lain, seperti subspesies dan varietas) yang tidak ditemukan lagi di alam
2. Endangered (Genting):
Spesies yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk punah dalam waktu dekat
3. Vulnerable (Rentan):
Spesies yang genting dalam waktu dekat, karena populasinya menurun dan sebenarnya
menyusut
4. Rare (Langka):
Spesies yang mempunyai jumlah individu sedikit, seringkali disebabkan oleh sebaran geografis
yang terbatas atau kepadatan populasi yang rendah

Cucak-cucakan/The Bulbuls Family (Pycnonotidae)


Karakteristik : memiliki leher dan sayap pendek, ekor agak panjang dan paruh ramping.
Mempunyai bulu yang halus dan lembut, beberapa jenis berjambul tegak. Bulu burung jantan dan
betina mirip, kebanyakan mempunyai warna bulu yang buram dengan pola warna kuning, jingga,
hitam dan putih.
Burung cucak-cucakan terutama merupakan burung pemakan buah-buahan, walaupun mereka
juga memakan serangga. Merupakan burung yang penuh percaya diri, dengan kicauan yang ramai,
dan sangat musikal pada beberapa jenis. Cenderung hidup di pohon dan membuat sarang berbentuk
mangkuk yang tidak rapi. Tidak satu pun merupakan burung migran.
Di Sunda Besar terdapat 29 burung cucak, merbah, dan brinji.
Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Memiliki ukuran ± 20 cm, dengan kepala bertopi hitam. Pada bagian tunggir keputih-putihan
dan bagian tungging berwarna jingga kuning. Bagian dagu dan kepala atas hitam. Kerah, tunggir, dada,
dan perut putih. Sayap berwarna hitam dengan ekor berwarna coklat. Bagian iris mata berwarna
merah, sedangkan paruh dan kaki berwarna hitam. Suaranya merdu dan nyaring “cuk-cuk”, dan
“cang-kur” yang diulang cepat.
Penyebaran burung ini secara global mulai dari Cina selatan, Asia tenggara (kecuali
Semenanjung Malaysia) dan Jawa. Diintroduksi ke Sumatera dan Sulawesi selatan, juga baru-baru ini
mencapai Kalimantan selatan. Sedangkan penyebaran lokalnya sampai Sumatera, Jawa dan Bali. Di
Jawa dan Bali, merupakan salah satu jenis yang tersebar paling luas dan umum, sampai ketinggian
sekitar 1.600 mdpl.
Burung ini memiliki kebiasaan hidup dalam kelompok yang aktif dan ribut, sering berbaur
dengan jenis cucak lain. Lebih menyukai pepohonan terbuka atau habitat bersemak, di pinggir hutan,
tumbuhan sekunder, taman, dan pekarangan, atau bahkan kota besar seperti halnya di Kota Bandung.

Di Kota Bandung burung ini hidup di taman-taman kota dan pekarangan yang ditumbuhi oleh
pepohonan berbiji yang menjadi sumber makanannya.
Status perlindungan jenis burung ini tidak termasuk ke dalam burung yang dilindungi. Akan
tetapi burung ini dijadikan sebagai simbol fauna Kota Bandung yang disandingkan dengan
Patrakomala (Caessalpinia pulcherima) sebagai simbol floranya
Populasi dan Distribusi Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Dari sekitar 36 lokasi yang disurvey, tidak seluruhnya ruang terbuka hijau yang di dalamnya terdapat
burung kutilang. Hanya sekitar 27 lokasi yang tercatat adanya kutilang, dimana lokasi yang paling
besar jumlah populasinya adalah di Taman Merdeka, yaitu sekitar 26 individu atau sekitar 9,85%.

Populasi dan Distribusi Kutilang di Bandung

No. Nama Lokasi Jumlah individu % No. Nama Lokasi Jumlah individu

%

1 Taman Merdeka 26 9.85 15 Jl. Dago 8 3.03
2 Jl. Diponegoro 19 7.20 16 TPU Pandu 7 2.65
3 Taman Maluku 16 6.06 17 Jl. Riau 6 2.27
4 Taman UPI 16 6.06 18 TPU Sirnaraga 6 2.27
5 Taman Tegalega 15 5.68 19 TPU Babakan Ciparay 5 1.89
6 Tahura Djuanda 15 5.68 20 Taman GOR Pajajaran 5 1.89
7 Taman Pramuka 14 5.30 21 Punclut 5 1.89
8 Taman Lalulintas 14 5.30 22 Taman Kangkung 4 1.52
9 Babakan Siliwangi 13 4.92 23 Jl. Pajagalan 4 1.52
10 Taman Pendopo 12 4.55 24 TPU Ranca Cili 3 1.14
11 Jl. Supratman 12 4.55 25 TPU Astana Anyar 3 1.14
12 Taman Cilaki 10 3.79 26 TPU Cikutra 3 1.14
13 Taman Ganesha 10 3.79 27 Patal Cipadung 3 1.14
14 JL Cipaganti 10 3.79 264 100.00


Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Universitas Padjadjaran

April 26, 2009

Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Universitas Padjadjaran

KKN yang saya rasakan sangat jauh berbeda dengan yang saya perkirakan sebelumnya. Awalnya saya mengira akan dapat merasakan hal yang sama dengan apa yang diceritakan oleh teman-teman yang mengikuti KKN di luar daerah. Tetapi hal tersebut jauh dari bayangan sebelumnya. Walaupun demikian KKN ini merupakan hal baru bagi saya, dan segala permasalahan di dalamnya menambah pengalaman dan wawasan pribadi.

Jauh hari sebelum KKN dimulai, saya sudah mempersiapkan program-program yang dapat berguna bagi diri pribadi, khususnya pengaplikasian disiplin ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan selama ± 3 tahun. Karena saya yakin ilmu yang saya dapatkan akan jauh lebih baik jika diamalkan dan diaplikasikan, apalagi untuk masyarakat umum. Persepsi KKN bagi saya pribadi adalah suatu momentum dimana kita sebagai mahasiswa penyambung lidah rakyat dapat sepenuhnya mengabdi pada masyarakat secara optimal menurut kemampuan kita. Saya yang dibesarkan di masyarakat, yang selama ± 2 tahun aktif di salah satu LSM pelestari lingkungan, dan bergelut di bidang ilmu Biologi yang erat kaitannya dengan ekologi lingkungan dan kemasyarakatan merasa tertantang dengan adanya KKN ini. Di sinilah saya akan berkreasi, di sinilah saya akan berkarya, dan di sini pula saya akan bekerjasama dengan rekan-rekan seperjuangan yang notabene-nya berasal dari berbagai disiplin ilmu dari jurusan dan fakultas se-Unpad.

Program kerja yang saya buat untuk KKN setelah dikonsultasikan dengan teman-teman di LSM yaitu mengambil tema: peningkatan kesadaran masyarakat terhadap fungsi flora dan fauna sebagai komponen lingkungan hidup agar tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Adapun perumusan masalahnya dilatarbelakangi oleh semakin maraknya permasalahan di masyarakat mengenai: 1). Pengkoleksian binatang liar di rumah; 2). Kurangnya kesadaran terhadap alam (flora & fauna) beserta lingkungan; 3) Terjadinya berbagai dampak negatif dari poin 1 & 2, seperti halnya: rusaknya alam beserta isinya, dsb. Oleh karena itu diperlukannya suatu pemilihan alternatif pemecahan masalah seperti program penyadartahuan terhadap masyarakat secara lisan maupun tulisan melalui berbagai media yang ada. Adapun metode yang rencananya akan saya pakai adalah metode PRA (Participatory Rural Appraisal).

Akan tetapi rencana besar saya layu sebelum berkembang, dikarenakan banyak faktor, seperti teman-teman di kelompok yang hanya menginginkan program kerja yang tidak terlalu rumit dan mudah untuk dilaksanakan. Memang didalam hati saya merasa kecewa, tetapi saya juga tidak dapat memaksakan program saya yang satu ini, karena ternyata untuk mewujudkan semuanya kita harus memiliki kesamaan visi dan misi.

Kendati demikian, usulan program saya yang lain dapat diterima oleh kelompok, walaupun program tersebut agak sederhana dan sama dengan programnya kelurahan dan kecamatan, program tersebut adalah penghijauan.

Adapun pelaksanaan program penghijauan mengalami berbagai masalah. Pada awalnya kami mempersiapkan bibit-bibit tanaman yang berasal dari pencangkokan tanaman yang berada di depan kelurahan tepatnya di depan sekretariat Karang Taruna, anggota yang terlibat antara lain: saya sendiri, Yuli K, Reni & Rina, Widiayu, Andieva, Dody, Ika, Sendy, Ella, dan Firman. Pencangkokan yang kami lakukan ternyata tidak sesuai dengan yang kami harapkan, hasilnya tidak dapat menghasilkan bibit tanaman yang baru. Setelah beberapa minggu kemudian kami ditawari oleh pihak Kecamatan Regol untuk membuat proposal pengajuan penghijauan di wilayah Cigereleng. Pihak kecamatan menjamin akan menyediakan bibit-bibit tanaman yang kemudian akan kita tanam di tiap-tiap RW. Akhirnya proposal pun kami buat dan kami usulkan, akan tetapi pihak kecamatan berkelit, katanya “bibit-bibit yang ada bagusnya berasal dari masyarakat, agar masyarakat memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap tanaman tersebut, dan kami hanya akan menyediakan bibit apabila terdapat sisa-sisa lubang yang belum ditanami oleh masyarakat”. Begitulah yang dikatakan beliau, walaupun ada perasaan kecewa saya tidak menyerah untuk menyediakan bibit tanaman secara swadaya. Pengusulan proposal ke masyarakat sangatlah berat, karena biasanya masyarakat sulit untuk diminta sumbangsih berupa dana/barang.

Akhirnya waktunya tiba, sepulang kuliah saya langsung pergi ke Arboretum Jurusan Biologi tempat ditanamnya berbagai macam tanaman untuk keperluan laboratorium alam, di sana saya mengambil beberapa bibit pohon johar (Cassia siamea) yang tumbuh liar, setelah itu saya membawanya ke kelurahan untuk kami tanam di depan Lapangan Voli dan di pekarangan kelurahan. Setelah sampai di sana teman-teman langsung menyambut dan mulai membantu menanam bibit tersebut. Mereka yang turut serta antara lain Kemas, Mevi, Andieva, Yovita, Dody, Sendy, dan Bapak Dadang Sopiyana selaku Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Cigereleng.

Sebagai tanaman pelengkapnya, saya, Kemas, dan Andieva membeli tanaman hias yang lokasinya berada di Tegal Lega. Kami membeli tanaman hias sebanyak 11 buah karena dana yang ada sangat terbatas. Tanaman hias itu sekarang berada di ruangan sekretariat KKN Cigereleng yang rencananya akan diserahkan kepada pihak kelurahan.

Program-program kegiatan yang lain seperti pendataan PKL dan Penyuluhan Narkoba telah berhasil kita lakukan. Penanggung jawab program ini adalah Popon. Pada program pendataan PKL saya yang langsung terjun ke jalan ditemani oleh Dody dan motornya berhasil mendata ± 12 orang PKL, dan jumlah tersebut mencapai rekor jika dibandingkan dengan pendataan yang dilakukan rekan-rekan yang lain. Selain hasil yang dapat kita dapatkan berupa data-data biografi mengenai para PKL saya juga dapat melatih diri dan meningkatkan kemampuan saya di bidang wawancara, dan yang tak kalah pentingnya kita dapat mengenal lebih jauh tentang kehidupan saudara-saudara kita yang tengah berjuang dalam kehidupan yang begitu kompleks ini. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari pendataan PKL tersebut, contohnya adalah saya menjadi kenal dan akrab dengan para PKL yang mangkal di depan jalan BKR tepatnya di depan TK Dian Kencana, dan ternyata ada seorang PKL yang pernah mengenyam bangku kuliahan seperti kita, dan usaha dagangnya itu kini ditekuninya karena sulitnya untuk mencari pekerjaan. Hal seperti itulah yang pernah membuat saya patah arang, apakah saya akan seperti itu juga??. Tapi hal tersebut juga yang selalu menjadi cambuk agar saya tidak menyia-nyiakan kuliah dan berusaha menjadi lulusan yang siap mental dan memiliki wawasan dan pengalaman yang luas.

Program kami yang menurut saya sukses adalah program penyuluhan narkoba yang diselenggarakan di SMUN 11 Bandung, SMA tersebut adalah almamater saya, oleh karena itu suatu kebanggaan tersendiri ketika kami mengadakan program tersebut di sana. Karena selain dapat bersilaturahmi dengan guru-guru SMA, saya juga dapat mengetahui kemajuan almamater saya sendiri yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Teman-teman yang ikut terlibat dalam kegiatan ini adalah, saya sendiri, Andieva sebagai penanggungjawab program, Yuli, Kemas, Reni&Rina, Mevi, Rudi, Harpend, Dody, Ika, Nina, Reny, Sendy, dan Ella.

Kegiatan ini cukup berjalan lancar walaupun ada beberapa masalah yang akhirnya dapat diselesaikan, seperti pengiriman surat yang seharusnya ditujukan untuk Bapak Kapolsek Regol ternyata undangan tersebut ditujukan bagi ketua Granat, dan akhirnya saya yang kena diberi pengarahan Pak Polisi, dan memang hal tersebut kesalahan dari pengetikan. Kemudian ketika berjalannya acara spanduk yang terselip lambang sponsor MacDonald mengalami hambatan untuk dipasang, karena tempat untuk penyuluhan berada di Masjid yang biasanya menolak produk-produk seperti MacDonald. Tapi akhirnya karena melihat kemaslahatan, spanduk tersebut dapat dipasang.

Dan masih banyak cerita-cerita lain mengenai KKNM di Kelurahan Cigereleng, dan apabila diceritakan semuanya saya yakin akan menghabiskan ratusan lembar. Dan saya percaya walaupun Bu Dian sangat jarang mengontrol kami karena kesibukannya, tapi nun jauh di sana Beliau selalu mengiringi kami dengan doa sehingga program demi program dapat kita jalankan sesuai dengan harapan kita.

Burung-burung di Kawasan PATUHA Ciwidey (Kawah Putih dan Ranca Upas)

Januari 21, 2009

Burung-burung di Kawasan PATUHA Ciwidey (Kawah Putih dan Ranca Upas)

Oleh: Deri Ramdhani


Kawasan Pegunungan di Ciwidey yang terletak di sebelah selatan kota Bandung memiliki kelimpahan burung yang cukup beranekaragam. Keberadaan burung tersebut tidak terlepas dari kondisi habitat kawasan tersebut yang masih terjaga. Beberapa titik di kawasan Ciwidey merupakan ekosistem hutan alami, dan sebagian lagi sudah menjadi perkebunan dan pemukiman. Dua diantaranya yang masih memiliki ekosistem hutan adalah kawasan Kawah Putih dan Ranca Upas. Kedua kawasan tersebut merupakan kawasan wisata yang kini dikelola oleh Perhutani.

Kawah Putih dan Ranca Upas merupakan habitat bagi 103 jenis burung, baik jenis yang penetap ataupun jenis burung pengunjung dari Bumi Utara. Sedikitnya tercatat 10 jenis burung pengunjung (migran) yang terdapat di kawasan ini. Burung migran tersebut dapat teramati pada bulan-bulan tertentu yaitu dari bulan Oktober sampai bulan Maret. Salah satunya adalah burung Bubut-pacar jambul (Clamator coromandus) yang berukuran cukup besar dari kelompok Cuculidae. Selain itu terdapat burung kecil jenis Sikatan mugimaki (Ficedula mugimaki) yang berkunjung di kawasan ini.
Selain jenis migran, terdapat juga jenis burung endemik atau burung yang hanya terdapat di Pulau Jawa atau di Indonesia saja. Tak kurang dari 32 jenis burung yang endemik tercatat di kawasan ini. Dari 103 jenis burung yang ditemukan, 21 jenis termasuk burung-burung yang dilindungi, baik oleh Peraturan Pemerintah RI, Konvensi Perdagangan Internasional (Apendiks CITES), maupun Peraturan Konservasi Internasional (IUCN). Empat jenis burung yang ditemukan di kawasan ini masuk ke dalam kategori IUCN, antara lain: burung Cica matahari (Crocias albonotatus) dan Sikatan dada-merah (Ficedula dumetoria) yang memiliki status Near Threatened (hampir punah). Sedangkan dua jenis berikutnya memiliki status Endangered (terancam), yaitu: Luntur harimau (Harpectes reindwartii), dan Elang jawa (Spizaetus bartelsi) yang diidentikkan sebagai lambang Negara Indonesia.

No Nama Jenis Nama Lokal Distribusi Status Perlindungan
1 Acrocephalus orientalis Kerakbasi besar M
2 Aethopyga eximia Burung-madu gunung E A, D, E
3 Aethopyga mystacalis Burung-madu jawa E A, E
4 Alcippe pyrrhoptera Wergan jawa E D, E
5 Alophoixus bres Empuloh janggut
6 Amandava amandava Pipit benggala
7 Amaurornis phoenicurus Kareo padi
8 Arachnothera longirostra Pijantung kecil A, E
9 Arborophila javanica Puyuh-gonggong jawa E
10 Artamus leucorhynchus Kekep Babi
11 Brachypteryx leucophrys Cingcoang coklat
12 Brachypteryx montana Cingcoang biru
13 Centropus bengalensis Bubut alang-alang
14 Cettia vulcania Ceret gunung
15 Chloropsis cochinchinensis Cica-daun Sayap-biru
16 Cinclidium diana Berkecet biru-tua E
17 Clamator coromandus Bubut pacar jambul M
18 Collocalia linchi Walet linci
19 Coracina larvata Kepudang-sungu gunung E
20 Crocias albonotatus Cica matahari E D, E, NT
21 Cuculus saturatus Kangkok ranting
22 Cuculus sepulcralis Wiwik uncuing
23 Culicicapa ceylonensis Sikatan kepala-abu
24 Dendrocopus macei Caladi ulam
25 Dicaeum trochileum Cabai jawa E
26 Dicaeum sanguinolentum Cabai gunung E
27 Dicrurus leucophaeus Srigunting kelabu
28 Dicrurus remifer Srigunting bukit
29 Ducula lacernulata Pergam punggung-hitam E
30 Enicurus leschenaulti Meninting besar
31 Enicurus velatus Meniniting kecil E
32 Erythrura hyperythra Bondol-hijau dada-merah
33 Eumyias indigo Sikatan ninon E
34 Falco moluccensis Alap-alap sapi E B, E, II
35 Ficedula dumetoria Sikatan dada-merah NT
36 Ficedula hyperythra Sikatan bodoh
37 Ficedula mugimaki Sikatan mugimaki M
38 Ficedula westermanni Sikatan belang
39 Gallus varius Ayam-hutan hijau E
40 Halcyon cyanoventris Cekakak jawa E A, E
41 Harpactes reinwardtii Luntur harimau E A, EN
42 Hemipus hirundinaceus Jingjing batu
43 Hirundo striolata Layang-layang loreng
44 Hirundo tahitica Layang-layang batu
45 Ictinaetus malayensis Elang hitam B, E, II
46 Ixobrychus cinnamomeus Bambangan merah
47 Lanius schach Bentet kelabu
48 Lanius tigrinus Bentet loreng M
49 Lonchura leucogastroides Bondol jawa E
50 Lonchura punctulata Bondol peking
51 Lophozosterops javanicus Opior jawa E D
52 Macronous flavicollis Ciung-air jawa E
53 Macropygia ruficeps Uncal kouran
54 Malacocincla sepiarium Pelanduk semak
55 Megalaima armillaris Takur tohtor E D, E
56 Megalurus palustris Cica-koreng jawa
57 Motacilla cinerea Kicuit batu M
58 Napothera epilepidota Berencet berkening
59 Nectarinia jugularis Burung-madu sriganti A, E
60 Oriolus chinensis Kepudang kuduk-hitam
61 Orthotomus cuculatus Cinenen gunung
62 Orthotomus sepium Cinenen jawa E
63 Parus major Gelatik-batu kelabu
64 Passer montanus Burung Gereja Erasia
65 Pericrocotus miniatus Sepah gunung E
66 Pernis ptylorynchus Sikep madu asia M B, E, II
67 Phaenicophaeus curvirostris Kadalan birah
68 Phylloscopus borealis Cikrak kutub M
69 Phylloscopus trivirgatus Cikrak daun
70 Picus miniaceus Pelatuk merah
71 Pnoepyga pusilla Berencet kerdil
72 Pomatorhinus montanus Cica-kopi Melayu
73 Prinia familiaris Perenjak jawa E
74 Prinia inornata Perenjak padi
75 Prinia polychroa Perenjak coklat
76 Psaltria exilis Cerecet jawa E D
77 Pteruthius aenobarbus Ciu kunyit
78 Pteruthius flaviscapis Ciu besar
79 Ptilinopus porphyreus Walik Kepala-ungu E
80 Pycnonotus aurigaster Cucak kutilang
81 Pycnonotus bimaculatus Cucak gunung E
82 Pycnonotus goiavier Merbah Cerukcuk
83 Reindwardtipicus validus Pelatuk kundang
84 Rhinomyias olivacea Sikatan-rimba dada-coklat
85 Rhipidura phoenicura Kipasan ekor merah E D, E
86 Scolopax saturata Berkik-gunung merah
87 Seicercus grammiceps Cikrak muda E
88 Sitta azurea Munguk loreng
89 Spilornis cheela Elang ular bido B, E, II
90 Spizaetus bartelsi Elang jawa E B, E, EN, II
91 Spizaetus cirrhatus Elang brontok B, E, II
92 Stachyris melanothorax Tepus pipi perak E D, E
93 Stachyris thoracica Tepus leher-putih E D
94 Streptopelia chinensis Tekukur biasa
95 Sturnus sturninus Jalak cina M
96 Tesia superciliaris Tesia jawa E
97 Treron oxyura Punai salung
98 Tringa hypoleucos Trinil pantai M
99 Turnix suscitator Gemak loreng
100 Zoothera dauma Anis Sisik
101 Zoothera sibirica Anis Siberia M
102 Zosterops montanus Kacamata gunung
103 Zosterops palpebrosus Kacamata biasa

Sumber: Data Primer Bird Conservation Society 2008 dan Ramdhani 2006

Keterangan:
Peraturan Pemerintah RI
A = Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931
B = SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970
C = SK. Mentan No.66/kpts/um/2/1973
D = SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979
E = Peraturan Pemerintah No 7 th 1999
II = Apendiks CITES II
IUCN
EN = Endangered (terancam)
NT = Near Threatened (hampir punah)
Distribusi
M = Migran
E = Endemik Jawa/Indonesia

Kawasan Kawah Putih dan Ranca Upas memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Masing-masing memiliki ciri khas yang sulit ditemukan di tempat yang lain. Kawah Putih merupakan kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha, sedangkan Ranca Upas berada di bawahnya yang menjadi tempat bermuaranya sebagian air dari gunung-gunung yang ada disekitarnya. Kedua kawasan tersebut terletak pada suatu bentangan Gunung Patuha. Patuha sendiri berasal dari nama Pak Tua, dan masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh, dengan ketinggian 2.434 m dpl, dengan kisaran suhu 8-22°C, dan curah hujan 3740-4050 mm/th. Sedangkan Ranca upas berasal dari kata ranca yang artinya rawa, dan upas yang berarti serdadu Belanda. Dulunya dijadikan sarana tempat latihan militer tentara Belanda, dan beberapa titik di lokasi tersebut sampai kini dijadikan lokasi berlatih beberapa kesatuan militer tentara RI.
Ranca upas memiliki keunikan tersendiri, karena merupakan lahan basah yang berada di dataran tinggi, sehingga beberapa tumbuhan rawa hanya dapat ditemukan di sini. Oleh karena itu beberapa jenis burung air pegunungan tercatat menggunakan kawasan ini sebagai habitatnya. Salah satu diantaranya adalah burung Berkik-gunung merah (Scolopax saturata) yang hanya dapat ditemukan pada ekosistem lahan basah di pegunungan antara ketinggian 1200-2800 m dpl. Selain itu tercatat pula jenis burung air migran dari Bumi Utara, yaitu Trinil pantai (Tringa hypoleucos) yang biasanya ditemukan dalam kelompoknya di sekitar rawa-rawa Ranca upas.
Hutan alam di sekitar kawasan Gunung Patuha ditumbuhi oleh jenis pohon khas kawasan pegunungan, seperti Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argentea), Ki hujan (Engelhardia spicata), Huru (Litsea angurata), Ki huut (Glochidion obscorum), Hiur (Lithocarpus sundaicus), Pasang (Quercus sp.), Ki endog (Ilex pleiobrachiata), dsb. Selain tumbuhan alami, kawasan ini juga ditanami pohon produksi yang kini sudah tidak diambil kayunya, seperti pohon Kayu putih (Eucalyptus sp.), Pinus (Pinus merkusii), dan Akasia (Acasia decurens) yang biasanya mengelilingi area hutan alam. Selain itu terdapat juga hutan homogen jenis Rasamala (Altingia excelsa) tepatnya di sekitar bumi perkemahan Ranca upas yang berdekatan dengan tempat penangkaran rusa (Cervus timorensis).
Sedangkan fauna yang dapat ditemukan di kawasan ini antara lain aneka jenis primata seperti Lutung Jawa (Trachypithecus auratus sondaicus), Surili (Presbytis comata), dan mamalia lainnya seperti babi hutan (Sus vittatus), Ajag atau anjing hutan (Cuon alpinus), Mencek (Muntiacus muntjak), Jelarang (Ratufa bicolor), Kucing hutan (Felis bengalensis), Macan tutul (Panthera pardus pardus), Macan kumbang (Panthera pardus melas), serta berbagai jenis fauna lainnya.

Begitu kayanya hutan pegunungan di kawasan ini, sehingga kawasan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kita berharap kawasan ini dapat terus lestari, setidaknya luasan area hutannya tidak menyusut ataupun rusak di dalamnya yang dapat mengakibatkan berkurangnya species dan hilangnya keanekaragaman hayati lainnya. Sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang telah diberikanNya dengan beribadah hanya kepadaNya, yaitu dengan cara menjaga dan melestarikan kekayaan alam di negeri ini sebagai titipan Illahi.

Alhamdulillah….