Skip to content

A Little Notes about Bird Banding Hirundo rustica

Januari 9, 2008

A Little Notes about Bird Banding

By Deri Ramdhani, S.Si

Biological Student Association – Padjadjaran University 2001

 

Migrasi

– definisi migrasi: perpindahan burung dari satu tempat perkembangbiakan menuju ke tempat persinggahannya atau sebaliknya

– penyebab burung melakukan migrasi: iklim yang ekstrem, adanya hibernasi dari spesies yang menjadi mangsa burung,

– tipe-tipe migrasi

 

Burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica)

 

Morphometrik dan Bird Banding

 

Pemanasan global ditengarai memiliki efek merugikan bagi burung-burung yang bermigrasi dengan jarak tempuh jauh, baik dari maupun ke Eropa, karena burung tsb tidak ingin terjebak musim kering di daerah yg dilaluinya dan daerah yg dulunya tempat berkembang biak suhunya menjadi lebih panas. Di lain pihak, burung yang bermigrasi ke tempat yang tidak terlalu jauh justru mendapat semacam keuntungan dengan perubahan iklim ini, karena suhu yang lebih hangat.

Mengapa melakukan pencincinan (banding) pada burung? Data pencincinan burung akan berguna bagi penelitian dan pengelolaan suatu proyek. Pencincinan dapat membantu di dalam:

a. mempelajari penyebaran dan migrasi

b. perilaku dan struktur sosial

c. masa hidup

d. kesuksesan reproduksi dan pertumbuhan populasi (dengan cara membandingkan antara jumlah burung yg dimarking periode I dengan rasio jumlah burung marking dan unmarking yg tertangkap kembali pada periode II).

e. Daya survival dan produktivitas. Program MAPS (Monitoring Avian Productivity and Survivorship) adalah penelitian kooperatif dari Institut for Bird Population and Banders di Amerika Utara. Mereka membandingkan data pencincinan burung yang normal dengan burung yang harus berjuang terhadap lingkungan yang tercemar olah minyak atau bahan berbahaya lain.

f. Penelitian toksikologi dan penyakit. Burung dapat menjadi vektor penyakit yang menyerang manusia, termasuk encephalitis dan penyakit Lyme. Makanya biar safety kita harus memakai sarung tangan dan masker

 

Setiap pencincin (bander) akan mengirimkan data banding-nya pada central bird banding laboratory. Ketika burung yang bercincin tertangkap kita akan mendapatkan laporan di daerah mana burung tersebut ditangkap, setelah itu kita dapat merekonstruksi arah pergerakan burung tersebut.

 

 

 

PENCINCINAN DAN MORPHOMETRIK BURUNG

 

Penangkapan burung. Ada beberapa macam metode dan peralatan yang digunakan untuk menangkap burung, seperti: jaring meriam (cannon net), sahab (clap net), perangkap jatuh (drops trap), bubu (walk-in traps), dan ngobor. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penangkapan burung:

a. Pemilihan lokasi penangkapan: berdasarkan survei awal bahwa lokasi tersebut digunakan sebagai stopover-point/roosting site (tempat persinggahan/tenggeran).

b. Waktu penangkapan: karena burung tersebut merupakan burung diurnal, jadi penangkapan dilakukan pada malam hari saat mereka sedang istirahat, akan tetapi pemasangan jaring sebaiknya dilakukan saat senja dan harus dipastikan pemasangan selesai sebelum gelap. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa meyakinkan bahwa pemasangan telah dilakukan secara sempurna

c. Pemasangan jaring kabut (mist net):

– alat ini digunakan oleh para pemburu di Jepang sekitar 3 abad yang lalu, di Indonesia umum digunakan di daerah Cirebon untuk menangkap burung air yang dikonsumsi

– mist net untuk hirundo terbuat dari benang nilon tipis berwarna gelap memiliki ukuran mata jala 1,5 inci jika ditarik diagonal dengan ukuran panjang 6 x 2,5 meter dan memiliki 4 buah kantung. Kantung tersebut memanjang sepanjang jaring dan membentuk “ruangan” yang berfungsi untuk “menyimpan” burung yang tertangkap, sehingga tidak akan lepas

– gunakan 2 buah bambu sebagai tiang untuk merentangkan mist net, 2 buah ring dan 2 utas tambang yang digunakan sebagai katrol untuk menaikkan dan menurunkan mist net. Lakukan penggulungan jaring apabila burung yang tertangkap sudah terlalu banyak

– untuk memperoleh hasil yang baik, pemasangan mist net sebaiknya dilakukan di tempat yang kurang cahaya, sehingga burung tidak bisa melihat jaring

d. Mengeluarkan burung dari mist net. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

– Pakaian dan aksesoris. Usahakan untuk tidak menggunakan pakaian berkancing, dan tidak menggunakan jam tangan atau cincin yang bisa terkait pada jaring

– Gunakan lampu kepala untuk menerangi pelaksanaannya

– Pastikan agar burung tidak tersimpan di jaring terlalu lama, karena bisa terluka oleh lilitan jaring atau dimangsa oleh predator

– Pastikan terlebih dahulu dari sisi jaring yang mana burung tersebut tertangkap. Pelepasan dilakukan pada sisi jaring dimana burung tersebut tertangkap.

– Usahakan untuk meletakkan tangan pada burung searah dengan datangnya burung, pegang burung dari ekor menuju ke arah kepala

– Balikkan burung dan pelan-pelan keluarkan bagian kaki dari jaring. Hati-hati !! kaki burung sangat halus, sehingga sangat rawan untuk bisa terpotong oleh jaring

– Keluarkan bagian ekor dan pegang burung dengan posisi normal

– Tahap tersulit dalam mengeluarkan burung adalah pada bagian sayap, karena terdapat banyak bulu dengan tangkainya. Seringkali mata jala jaring mengikat sayap dengan kuat dan berulang-ulang. Dalam kondisi ini, perlahan-lahan tekan bagian sendi antara karpal dan bulu primer kearah luar mata jala. Kalau sayap tersebut telah bebas dari ikatan, biasanya bagian tersebut dapat dengan mudah dikeluarkan dari mata jaring dengan menggesernya sepanjang sendi dan sayap. Hati-hati jangan sampai tulang-tulang di sekitarnya menjadi luka tergores oleh jaring.

– Kalau ternyata ikatan tersebut sangat kuat dan akan menyita waktu sangat banyak untuk mengeluarkannya, sehingga bisa membahayakan burung, maka jalan yang terbaik adalah memotong jaring yang mengikat tersebut dengan gunting kecil.

– Mengeluarkan bagian kepala umumnya tidak terlalu sulit, tetapi harus sangat berhati-hati pada saat melewati kelopak mata. Pada saat melewati paruh, jaring juga dapat terikat pada lidah burung.

– Agar burung yang kita tangkap tidak mengalami stress, sebelum dilakukan pencincinan, masukkan burung tersebut kedalam kantung.

 

Pencincinan (Bird banding atau Bird ringing)

e. Sejarah

Menurut Life (1980) pencincinan burung telah dimulai sejak abad pertengahan, ketika peternak burung alap-alap (falconry) memulai melakukan penandaan terhadap burung peliharaannya agar kalau hilang dan ditemukan oleh orang lain burung tersebut dapat dikembalikan lagi.

Penandaan burung secara modern pertama kali dilakukan oleh Johan Leonhard Frisch dari Berlin. Pada tahun 1740, dia mengikatkan tali penanda berwarna merah pada tungkai walet sebelum migrasi musim gugurnya.

Di Amerika, salah seorang pengamat burung yang pertama kali melakukan penandaan burung adalah John James Audubon, yang mengikatkan benang perak pada burung amatannya.

Saat ini kegiatan pencincinan telah dilakukan oleh banyak pengamat burung di seluruh dunia. Meskipun demikian, mengingat tingkat kesulitan serta kehati-hatian yang dituntut dalam kegiatan pencincinan, tidak semua orang bisa begitu saja melakukan kegiatan pencincinan. Mereka haruslah mendapatkan pelatihan yang cukup dan memperoleh ijin untuk mencincin.

f. Peralatan

– Cincin (Bands atau rings) yang terbuat dari INCOLOY (campuran bahan nikel dan kromium), karena tahan lama dan kebal terhadap pengaruh air asin dan lumpur. Tersedia berbagai macam cincin dengan ukuran diameter dan bahan yang berbeda, sesuai dengan keperluan dan jenis burung yang akan diberi cincin. Pada masing-masing cincin biasanya tercantum keterangan yang menjelaskan alamat dari organisasi yang mengeluarkan cincin tersebut serta nomor seri yang bersifat unik dan berbeda antara satu cincin dengan cincin lainnya. Apabila kita berhasil menemukan atau menangkap burung yang bercincin, maka kita sebaiknya segera memberitahukan ke alamat yang tercantum pada cincin tersebut, dengan menyebutkan nomor seri cincin tersebut, dimana ditemukan serta kapan ditemukannya. Dengan melihat catatan yang ada pada pencincin, kemudian dapat dirunut sejarah hidup dan perjalanan burung bercincin tersebut

– Tang pemasang (pliers) dan Tang pembuka (circlip pliers). Untuk pemasangan, tang memiliki lobang-lobang khusus berbagai ukuran yang dapat digunakan untuk memasang cincin dengan ukuran tertentu dan kemudian merapatkannya pada bagian kaki. Tang jenis inipun ada 2 macam, yaitu tang dengan 5 lubang cincin ukuran kecil, dan tang dengan 2 lubang cincin ukuran besar. Tang pembuka digunakan untuk membuka cincin yang salah pasang, mempunyai dua buah “tangan” yang berujung lancip dan akan membuka secara berlawanan.

– Mistar. Berukuran panjang 200 – 300 mm yang ujungnya dimodifikasi dengan memasang suatu penahan. Digunakan untuk mengukur panjang bulu ekor serta panjang sayap.

– Timbangan. Terbuat dari bahan aluminium dan dipergunakan untuk mengukur berat badan burung. Ukuran yang biasa digunakan untuk Hirundo adalah timbangan dengan berat 100 gr dengan tingkat ketelitian skala 2 gr

– Kantung burung. Ada dua jenis, yaitu kantung burung sebagai tempat penampungan sementara burung yang tertangkap, dan kantung burung yang digunakan untuk menyimpan burung pada saat penimbangan. Berat kantung tersebut ditimbang, sehingga berat burung yang sebenarnya diketahui dengan cara mengurangi berat kantung

– Jangka sorong atau Kaliper (vernier caliper). Digunakan untuk mengukur panjang paruh, kepala, dan tarsus dengan ketelitian sampai 0,1 mm atau lebih

 

g. Pemasangan cincin

– catat kode cincin yang terdiri dari nama dan alamat institusi yang mengeluarkan, serta nomor seri cincin. Nomor seri terdiri dari 2 bagian yaitu 3 angka pertama yang menunjukkan ukuran cincin dan nomor selanjutnya yang menunjukkan nomor urut burung yang tertangkap

– cara memegang burung. Jari tengah dan jari telunjuk kita diletakkan di bagian leher burung dengan halus dan mantap (jangan terlalu kencang karena bisa mengganggu pernapasan burung), badan burung diletakkan dalam genggaman tangan sehingga tidak bisa bergerak.

– Untuk keseragaman, pemasangan cincin dilakukan pada tarsus sebelah kanan. Arah cincin di bagian tarsus menghadap ke atas. Tekan cincin tersebut hingga cincin tertutup rapat.

 

Morphometrik (pengukuran bagian-bagian tubuh)

Morphometrik dapat saja dilewatkan jika kita merasa bahwa burung yang dicincin dalam kondisi kurang bagus.

Bagian-bagian yang perlu dilakukan pengukuran:

a. Penentuan umur dan jenis kelamin

Dewasa (Adult): memiliki warna bulu lebih mengkilap, pinggir tenggorokan jelas berwarna merah, terdapat batas garis biru pada dada atas berbatasan dengan perut yang berwarna putih.

 

Remaja: bulu lebih suram, tanpa pita panjang pada ekor. Remaja dibagi dua lagi sub adult dan juvenile

 

b. Panjang paruh. Pengukuran dilakukan dimulai dari ujung paruh sampai dengan pangkal paruh yang berbatasan dengan mahkota.

c. Panjang seluruh kepala. Pengukuran dilakukan mulai ujung paruh bagian atas sampai bagian belakang kepala. Tekanlah sedikit bagian dalam dari kepala sampai kemudian bisa terasa tulang batok kepala yang keras. Agar burung tidak bergerak-gerak, pegang pangkal paruh dengan jari telunjuk dan jari tengah.

d. Panjang tarsus. Diukur dengan menggunakan kaliper, dimulai dari skala terakhir pertemuan antara tarsus dengan jari sampai dengan lekukan sendi antara paha dengan tarsus.

e. Panjang bulu ekor. Diukur antara pangkal kloaka sampai bulu ekor terpanjang.

f. Panjang sayap natural. Diukur dari ujung scapula (lipatan sendi sayap) sampai bulu sayap primer terpanjang. Untuk melakukan pengukuran yang benar, tekan dengan halus dan mantap bulu-bulu sayap diatas mistar, hingga scapulanya menyentuh pembatas mistar (titik nol), kemudian bentangkan sayap hingga bulu primer terpanjang mencapai titik terjauh. Usahakan agar sayap tersebut ditekan ke bagian samping tubuh, karena jika terlalu jauh dari tubuh, maka dikhawatirkan akan menimbulkan bias pengukuran.

g. Panjang seluruh tubuh. Diukur dari ujung paruh sampai ujung ekor terpanjang, dengan cara meletakkan burung dalam keadaan terlentang di atas penggaris

h. Panjang rentang kedua sayap. Panjang sayap saat direntangkan, mulai dari ujung sayap bagian kanan sampai ujung sayap bagian kiri

i. Berat badan. Burung yang ringan biasanya menunjukan bahwa individu tersebut baru datang dari perjalanan migrasinya, dimana selama terbang individu tersebut tidak mendapatkan tambahan makanan, bahkan membakar persediaan makanan dalam lemak tubuh. Sementara itu, individu yang memiliki berat badan yang lebih berat, biasanya menunjukan bahwa burung tersebut sudah cukup lama tiba, telah memperoleh makanan,

j. Pengukuran luruhan bulu (moult). Bulu burung dapat tumbuh dan kemudian meluruh sejalan dengan umur dari individu burung. Kondisi dan luruhan bulu tersebut dikenal dengan istilah moult. Bagi individu burung, peluruhan bulu tersebut sangat penting untuk meyakinkan bahwa mereka memperoleh daya terbang yang lebih efisien, pengaturan suhu tubuh, keperluan menarik lawan jenis, serta untuk keperluan penyamaran. Bulu-bulu yang telah tua biasanya akan luruh, dan kemudian diganti dengan yang baru. Adanya fenomena perbedaan penampakan antara bulu muda dengan bulu tua inilah yang kemudian digunakan oleh para pencincin untuk memperkirakan umur dari individu burung yang bersangkutan. Pengukuran moult biasanya dilakukan pada bulu sayap primer dan bulu sayap sekunder, bulu ekor, serta bulu perut, leher dan kepala. Pada keadaan normal, bulu sayap primer dan sekunder masing-masing terdiri dari 11 bulu di sayap kiri dan kanan. Bulu yang paling luar biasanya tumbuh sangat pendek, sehingga tidak dipertimbangkan pada saat pengukuran moult. Jumlah bulu sekunder bervariasi antara 8 sampai 14 lembar, sementara bulu tersier berjumlah 5 sampai 8 lembar. Bulu ekor berjumlah 12 buah, masing-masing 6 buah dikiri dan kanan.

Nilai moult:

o Nilai 0 untuk bulu-bulu yang telah tua dan terhenti pertumbuhannya. Pada tahap ini dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu sangat tua untuk bulu-bulu yang ujung benderanya sangat rusak dan berwarna sangat kusam; tua untuk bulu yang ujung benderanya rusak dan warna kusam serta agak tua untuk yang ujung benderanya agak rusak dan warnanya agak kusam.

o Nilai 1 untuk bulu-bulu yang hilang, baik karena proses alami atau karena tercabut, serta untuk bulu-bulu yang baru tumbuh tangkainya dan masih berbentuk tonjolan kecil.

o Nilai 2 untuk bulu-bulu yang pertumbuhannya antara tonjolan dan 1/3 dari bulu normal.

o Nilai 3 untuk bulu-bulu yang pertumbuhannya antara 1/3 dan 2/3 dari bulu normal.

o Nilai 4 untuk bulu-bulu yang pertumbuhannya antara 2/3 sampai tumbuh penuh.

o Nilai 5 atau “N” untuk bulu-bulu yang pertumbuhannya telah penuh, tidak ada kerusakan pada ujung bendera bulu dan berwarna mengkilat.

 

k. Skala bulu ekor

 

Pelepasan burung

Pelepasan burung dilakukan setelah burung tersebut diberi cincin. Burung yang akan dilepaskan sebaiknya diletakan di daerah lapang. Usahakan mereka terhindar dari cahaya lampu yang dapat menyilaukan matanya dan mengacaukan navigasi burung; vegetasi rapat yang bisa menghalangi pandangan mereka untuk lepas landas, wilayah berair, serta harus jauh dari wilayah dimana banyak orang berlalu lalang, juga harus dihindarkan dari pemangsa, seperti tikus. Burung yang baru dicincin biasanya masih dalam keadaan stress sehingga tidak bisa langsung terbang. Dalam kondisi demikian, mereka sangat rentan untuk dimangsa oleh pemangsa.

Iklan
5 Komentar leave one →
  1. Februari 4, 2008 6:58 pm

    saya tertarik dengan cara pengangkapan burung yang anda lakukan,

    saya juga pernah melakukan penangkapan burung untuk tujuan penelitian skripsi di kampus, akan tetapi belum pernah berhasil,

    kalo boleh saya tahu secara detail bagaimana cara tangkap burung yang baik dan benar??

    salam

    husnu

  2. Februari 20, 2008 3:11 am

    Salam Bang Husnu…

    Penangkapan burung yang biasa kami lakukan adalah pada burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica) yang bagian besarnya telah saya ulas pada artikel di atas…
    Untuk peralatan yang digunakan kami menggunakan jala kabut (mist net) yang dipasang dengan tinggi melebihi tempat tenggerannya (idealnya).
    Apabila burung sudah tertangkap, Usahakan jangan terlalu lama burung tersebut berada dalam jaring, segera lakukan pengukuran bagian2 tubuh burung atapun pencincinan. Jika kondisi burung tersebut sudah terlihat stress, segera lepasliarkan, karena keselamatan burung adalah yang paling utama

  3. kurnia permalink
    Agustus 5, 2008 8:14 am

    Saya tertarik dgn tata cara melakukan pencincinan. Apakah cara pelabelan pada cincin adalah hal yang prosuderal yang harus ada pada cincin yg digunakan?.Dan peraturan ini siapa yang buat kalo boleh tau….
    Karena banyak sekali praktek yg terjadi saat ini yg memberikan cincin tanpa identitas yg jelas.

  4. Oktober 6, 2008 2:21 am

    Dear Kurnia..

    Berhubung kita berada di wilayah Indonesia, jadi peraturan2 mengenai kebijakan hal2 tersebut ada pada scientific authority yaitu LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) atau Ditjen PHKA, atau LSM seperti Birdlife international, atau Wetlands International.
    Yang pernah saya dan kawan2 di bandung lakukan adalah pencincinan burung layang2 asia, dimana cincin yg kami dapatkan berasal dari Yamashina Institute for Ornithology Jepang.

    WASSALAM

  5. Oktober 6, 2009 5:09 am

    Salam kenal, bisa info link, dimana saya bisa memesan cincin untuk burung?

    trims…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: