Skip to content

the New Record in Jatinangor

Januari 9, 2008

the New Record in Jatinangor

 

 

Bulan ini adalah bulan Oktober, bulannya para pengunjung musim dingin yang singgah di belahan bumi bagian selatan seperti di wilayah kita, Indonesia. Setiap tahunnya Indonesia dikunjungi oleh jutaan individu burung dari berbagai jenis burung migran. Perjalanan migrasi burung telah menjadi objek pengamatan yang menarik bagi para ilmuwan di seluruh dunia, sebagai contoh kegiatan tahunan yang dilakukan oleh Wetlands International Indonesia-Program dengan jaringan kerjasamanya melakukan sensus burung pantai yang bermigrasi di jalur terbang Asia Timur – Australasia. Atau pengamatan migrasi burung pemangsa (Raptor) yang dikoordinasi oleh Asian Raptor Research & Conservation Network (ARRCN).

Sejak tahun 1992 Himbio Unpad juga turut aktif dalam penelitian ilmiah berskala internasional mengenai migrasi burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica) dan migration pathway-nya yang terangkum dalam kegiatan Bird Banding atau Pencincinan burung yang bekerjasama dengan Yamashina Institute for Ornithology Jepang dan melibatkan organisasi lokal pecinta burung. Selain kegiatan bird banding, beberapa tahun terakhir ini Himbio Unpad juga aktif dalam pengamatan migrasi raptor (burung pemangsa) yang setiap tahunnya melewati bumi Jatinangor.

Jatinangor yang menjadi kampus terbesar Unpad menyediakan berbagai macam kebutuhan bagi avifauna (burung) yang menghuninya. Tata guna lahannya yang terdiri dari berbagai macam tipe vegetasi menjadikan Unpad Jatinangor sebagai habitat alami bagi burung. Kantung-kantung habitat tersebut salah satu contohnya adalah Arboretum yang menjadi habitat bagi lebih dari 40 jenis burung, baik statusnya penetap secara lokal maupun pengunjung (migran).

Pada tanggal 13 September 2005 jam 09.30 WIB tercatat burung jenis Kicuit batu (Motacilla cinerea) di selokan pinggiran sawah Arboretum. Jenis ini bercirikan ukurannya yang sedang (19 cm) dengan warna keabu-abuan, ekornya yang panjang dan tubuh bagian bawah kekuning-kuningan. Ketika diamati dia terlihat sedang menggerak-gerakkan ekornya secara vertikal di pematang sawah. Karena kebiasaannya ini maka dia diberi nama Wagtail (dalam bahasa Inggris) yang berarti mengibas-ngibaskan ekor atau dalam bahasa Sunda burung ini disebut “Entot leuncang”.

Kehadiran jenis burung ini merupakan catatan terbaru bagi inventarisasi avifauna yang terdapat di Kampus Jatinangor. Oleh karena itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai kehadirannya di Arboretum yang dipilih sebagai habitatnya, dan menurut literatur yang didapatkan Arboretum khususnya sawah dan perairan yang mengalir merupakan habitat dari burung jenis wagtail ini. Selain itu kehadirannya yang tercatat pada bulan September (awal migrasi burung) semakin memperkuat literatur yang ada, bahwa jenis tersebut merupakan pengunjung musim dingin yang hanya berbiak di belahan bumi Utara seperti Eropa sampai Siberia dan Alaska. Tertarikkah anda untuk melakukan birdwatching di Arboretum, atau terlalu takut dengan H5N1 ??

 

 

 

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: