Skip to content

Fauna Pulau Bintan

Februari 27, 2008

Fauna Pulau Bintan

Fauna yang berada di alam merupakan komponen ekosistem yang memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Di alam, satwa liar ada yang berfungsi sebagai pemangsa, sebagai penyerbuk, penyebar biji, dan bahkan sebagai pemberantas hama pertanian.  Disamping itu, satwa liar juga berfungsi sebagai indikator perubahan lingkungan, dimana dampak perubahan lingkungan berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku di luar kebiasaan, perubahan populasi, perubahan komposisi jenis atau bahkan hilangnya suatu jenis. Khusus untuk jenis-jenis burung juga dapat digunakan sebagai bio-monitor) perubahan lingkungan, polusi (pestisida, logam berat, pencemaran udara, kontaminasi radio aktif, dll.) dan perubahan kualitas air. Sehingga keberadaan jenis-jenis liar di suatu kawasan adalah penting di dokumentasikan untuk tujuan-tujuan tertentu, termasuk sebagai bahan masukan penting untuk pengelolaan kawasan. Yang dapat mengancam kelestarian satwa-satwa di alam diantaranya adalah perburuan dan kerusakan habitat (konversi lahan, fragmentasi dan alterasi habitat).

a) Burung

Burung merupakan salah satu kelompok terbesar vertebrata yang banyak dikenal, diperkirakan ada sekitar 8.600 jenis burung yang tersebar di dunia (MacKinnon, 1995). Mereka menempati setiap tipe habitat mulai dari khatulistiwa sampai daerah kutub.  Pulau Bintan  yang memiliki beragam tipe ekosistem dari ekosistem pesisir termasuk hutan mangrove yang masih relatif luas sampai ekosistem  hutan dataran kering, merupakan habitat ideal bagi  beragam jenis burung untuk menetap, mencari makan dan berkembangbiak.

Pengamatan burung dilakukan dengan metode jelajah,  yaitu menggunakan  teknik penghitungan Point Count (titik hitung). Radius pengamatan sekitar 50 meter dengan waktu pengamatan 20 menit di setiap titik hitung. Dari hasil pengamatan tersebut, teridentifikasi sebanyak 62  jenis burung (Tabel 3.18 ).

Tabel 3.18.  Kelimpahan Jenis Burung di Sepanjang Rencana

Jalur  SUTT 70 kV Pulau Bintan.

No

Nama Ilmiah

Nama Lokal

KR

FR

INP

1

Collocalia linchi

Walet linci

6,74

3,74

10,48

2

Pycnonotus goiavier

Merbah cerukcuk

5,97

3,74

9,71

3

Pycnonotus aurigaster

Cucak kutilang

5,20

3,27

8,47

4

Passer montanus

Gereja erasia

5,59

2,80

8,39

5

Zosterops palpebrosus

Kacamata biasa

4,82

2,34

7,15

6

Lonchura leucogastroides

Bondol jawa

3,85

2,80

6,66

7

Apus affinis

Kapinis rumah

3,85

2,34

6,19

8

Hirundo striolata

Layang-layang loreng

3,08

2,80

5,89

9

Hirundo tahitica

Layang-layang batu

2,89

2,80

5,69

10

Dicaeum trochileum

Cabai Jawa

2,89

2,34

5,23

11

Cuculus sepulcralis

Wiwik uncuing

2,31

2,34

4,65

12

Cacomanthis merulinus

Wiwik kelabu

1,73

2,80

4,54

13

Lonchura punctulata

Bondol peking

2,12

2,34

4,46

14

Ardea purpurea

Cangak merah

1,93

2,34

4,26

15

Orthotomus ruficeps

Cinenen kelabu

2,31

1,87

4,18

16

Streptopelia chinensis

Tekukur biasa

1,73

2,34

4,07

17

Ardeola speciosa

Blekok sawah

1,73

2,34

4,07

18

Nycticorax nycticorax

Kowak-malam kelabu

1,73

1,87

3,60

19

Geopelia striata

Perkutut

1,73

1,87

3,60

20

Egretta alba

Kuntul besar

1,73

1,87

3,60

21

Pernis ptylorhynchus

Sikep-madu Asia

2,12

1,40

3,52

22

Ardea cinerea

Cangak abu

2,12

1,40

3,52

23

Egretta garzetta

Kuntul kecil

1,93

1,40

3,33

24

Cuculus saturatus

Kangkok ranting

1,35

1,87

3,22

25

Ixobrychus cinnamomeus

Bambangan merah

1,16

1,87

3,03

26

Bubulcus ibis

Kuntul kerbau

1,54

1,40

2,94

27

Arachnotera longirostra

Pijantung kecil

0,96

1,87

2,83

28

Seicercus grammiceps

Cikrak muda

0,96

1,87

2,83

29

Caprimulgus pulchellus

Cabak gunung

1,35

1,40

2,75

30

Anthreptes malacensis

Burung-madu Kelapa

1,16

1,40

2,56

Tabel 3.18 (Lanjutan)

31

Merops viridis

Kirik-kirik biru

1,16

1,40

2,56

32

Enicurus leschenaulti

Meninting besar

1,16

1,40

2,56

33

Dicaeum concolor

Cabai polos

0,96

1,40

2,37

34

Dendrocopus macei

Caladi ulam

0,96

1,40

2,37

35

Lanius schach

Bentet kelabu

0,96

1,40

2,37

36

Nectarinia jugularis

Burung-madu sriganti

0,96

1,40

2,37

37

Ictinaetus malayensis

Elang hitam

0,96

1,40

2,37

38

Nectarinia sperata

Burung-madu pengantin

0,96

1,40

2,37

39

Turnix suscitator

Gemak loreng

0,96

1,40

2,37

40

Accipiter soloensis

Elang-alap Cina

0,77

1,40

2,17

41

Halcyon pileata

Cekakak cina

0,77

1,40

2,17

42

Malacocincla sepiarium

Pelanduk semak

0,77

1,40

2,17

43

Todirhampus chloris

Cekakak sungai

0,77

1,40

2,17

44

Accipiter gularis

Elang-alap Nipon

0,58

1,40

1,98

45

Streptopelia bitorquata

Dederuk jawa

0,77

0,93

1,71

46

Aethopyga siparaja

Burung-madu Sepahraja

0,77

0,93

1,71

47

Amaurornis phoenicurus

Kareo padi

0,58

0,93

1,51

48

Eumyas indigo

Sikatan Ninon

0,58

0,93

1,51

49

Motacilla cinerea

Kicuit batu

0,58

0,93

1,51

50

Acridotheres tristis

Kerak ungu

0,58

0,93

1,51

51

Ducula aenea

Pergam hijau

0,58

0,93

1,51

52

Megalurus palustris

Cica-koreng Jawa

0,58

0,93

1,51

53

Haliaeetus leucogaster

Elang Laut Perut Putih

0,39

0,93

1,32

54

Corvus macrorhyncus

Gagak kampung

0,39

0,93

1,32

55

Dicrurus paradiseus

Srigunting batu

0,39

0,93

1,32

56

Egretta sacra

Kuntul Karang

0,58

0,47

1,05

57

Treron fulvicollis

Punai bakau

0,58

0,47

1,05

58

Ficedula westermanni

Sikatan belang

0,39

0,47

0,85

59

Haliastur Indus

Elang bondol

0,39

0,47

0,85

60

Loriculus galgulus

Serindit melayu

0,19

0,47

0,66

61

Pelargopsis capensis

Pekaka emas

0,19

0,47

0,66

62

Gracula religiosa

Tiong emas

0,19

0,47

0,66

100,00

100,00

200,00

Sumber: Data Primer, 2007

Keterangan :

KR     = Kelimpahan Relatif

FR      = Frekuensi Relatif

INP    = Indeks Nilai penting

Berdasarkan hasil analisis tersebut, diketahui jenis burung di lokasi studi yang dikategorikan dominan adalah jenis walet linchi (Collocalia linchi) dengan nilai INP  sebesar 10,48%, merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) INP 9,71 %, cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) INP 8,47, Gereja Erasia (Passer montanus) INP 8,39 % dan Kaca mata biasa (Zosterops palpebrosus) INP  7,15 %.  Besarnya nilai INP   jenis-jenis  burung dominan  tersebut karena sebagian besar merupakan pemakan serangga kecil, buah-buahan serta nektar yang terdapat cukup berlimpah di sepanjang rencana jalur SUTT 70 kV, ketersediaan pakan sangat mendukung kehidupan jenis-jenis burung tersebut.

· Status Perlindungan dan burung endemik

Status perlindungan yang dimaksud adalah mengacu pada perundang-undangan Nasional yaitu UU No. 5 Tahun 1990; tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931, SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970, SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979   dan PP No. 7 tahun 1999; tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selain itu digunakan pula nilai Apendiks CITES II serta IUCN. Sedangkan untuk distribusi dan aktifitas jenis burung digolongkan menjadi jenis burung migran dan burung penetap. Dan jenis burung endemik dibedakan berdasarkan daerah tempat hidup jenis jenis burung tersebut yang biasanya berdasarkan pulau, yaitu masing-masing jenis burung endemik Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok dan Timor.

Mengacu pada sistem perundang-undangan  serta peraturan internasional tersebut, dari hasil pengamatan  terdapat  20 jenis  burung  yang dilindungi (Tabel 3.19).

Sedangkan untuk burung endemik, di kawasan tersebut dijumpai sebanyak 6 jenis burung endemik, yaitu 1 jenis endemik Sumatera-Jawa, 2 Jenis endemik Sumatera-Kalimantan, 1 jenis endemik Sumatera-Jawa-Bali, 2 jenis endemik Sumatera-Kalimantan-Jawa-Bali-Lombok.

Berdasarkan distribusi dan aktifitas jenis burung, terdapat 5 jenis burung migran.

Dengan dijumpainya jenis-jenis burung yang dilindungi dan jenis yang endemik, menunjukkan bahwa wilayah Pulau Bintan  memiliki nilai yang penting bagi pelestarian burung.

Tabel 3.19. Jenis-Jenis Burung Endemik dan Dilindungi di Wilayah Studi

No

Jenis Burung

Nama Lokal

Distribusi

Status Perlindungan

1

Accipiter gularis

Elang-alap Nipon

M

B, D, II

2

Accipiter soloensis

Elang-alap Cina

M

B, D, II

3

Acridotheres tristis

Kerak ungu

SK

4

Aethopyga siparaja

Burung-madu Sepahraja

A, D

5

Anthreptes malacensis

Burung-madu Kelapa

A, D

6

Arachnotera longirostra

Pijantung kecil

A, D

7

Caprimulgus pulchellus

Cabak gunung

SJ

NT

8

Dicaeum trochileum

Cabai Jawa

SKJBL

9

Egretta alba

Kuntul besar

A, C, D

10

Egretta garzetta

Kuntul kecil

A, C, D

11

Egretta sacra

Kuntul Karang

A, C, D

12

Gracula religiosa

Tiong emas

II

13

Halcyon pileata

Cekakak cina

M

A, D

14

Haliaeetus leucogaster

Elang Laut Perut Putih

B, D, II

Tabel 3.19 (Lanjutan)

15

Haliastur Indus

Elang bondol

B, D, II

16

Ictinaetus malayensis

Elang hitam

B, D, II

17

Lonchura leucogastroides

Bondol jawa

SKJBL

18

Loriculus galgulus

Serindit melayu

II

19

Motacilla cinerea

Kicuit batu

M

20

Nectarinia jugularis

Burung-madu sriganti

A, D

21

Nectarinia sperata

Burung-madu pengantin

A, D

22

Pelargopsis capensis

Pekaka emas

A, D

23

Pernis ptylorhynchus

Sikep-madu Asia

M

B, D, II

24

Seicercus grammiceps

Cikrak muda

SJB

25

Todirhampus chloris

Cekakak sungai

A, D

26

Treron fulvicollis

Punai bakau

SK

Sumber: Data Primer, 2007

Keterangan :

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931

A

SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970

B

SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979

C

Peraturan Pemerintah No 7 th 1999

D

Apendiks CITES II

II

IUCN

Endangered (terancam)

EN

Near Threatened (hampir punah)

NT

Distribusi & Aktivitas

Migran

M

Endemik:

Sumatera

S

Kalimantan

K

Jawa

J

Bali

B

Lombok

L

Timor

T

b) Mamalia

Berdasarkan hasil survey (pengamatan langsung dan wawancara dengan masyarakat setempat), di wilayah Kabupaten Bintan  terdapat sedikitnya  11 jenis satwa mamalia liar (Tabel 3.20). Dari 11 jenis tersebut, lima jenis yang teramati secara langsung, 1 jenis diketahui dari feses dan sisanya (lima jenis) berdasarkan informasi dari masyarakat setempat.

Tabel  3.20. Jenis Mamalia di Wilayah Studi

No

Nama Ilmiah

Nama Lokal

Keterangan

Status

1

Calosciurus sp.

Bajing

I; L (3 ekor)

2

Hystrix javanica

Landak

I

D

3

Macaca fascicularis

Monyet Ekor Panjang

L (4 ekor)

4

Manis javanicus

Landak

I

5

Muntiacus muntjak

Kijang

I

D

6

Paradoxurus hermaproditus

Musang

I; Feses

D

7

Petaurista petaurista

Bajing terbang/Tando

I; L (1 ekor)

D

8

Pterapus vampyrus

Kelelawar

L

9

Sus scrofa

Babi hutan

I

10

Tupaia sp.

Tupai

I; L (1 ekor)

11

Tragulus javanicus

Pelanduk

I

D

Sumber: Data Primer, 2007

Keterangan :      I  = Informasi masyarakat

L  = Pengamatan langsung di lapangan

D = Dilindungi

Terdapat lima jenis mamalia yang dilindungi berdasarkan peraturan perundangan. Keberadaan jenis-jenis yang dilindungi tersebut memiliki peranan penting bagi keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut. Kawasan Pulau Bintan yang memiliki ekosistem yang beragam sangat mendukung kehidupan satwa-satwa liar tersebut.

c) Reptilia dan Amfibia

Jenis-jenis reptilia yang umum ditemukan di wilayah studi yaitu Kadal (Mabouia multifasciata), dan beberapa jenis ular diantaranya ular kobra (Naja sp.) dan ular hijau (Ahaetulla prasina). Sedangkan jenis reptilia yang dilindungi adalah buaya muara (Crocodilus porosus). Jenis-jenis amfibia yang umum terdapat di wilayah studi ialah katak (Rana sp.) dan kodok buduk (Bufo melanosticus).

Iklan
6 Komentar leave one →
  1. Mei 28, 2008 6:09 am

    ah tepu.. iraha maneh kadieu..

  2. Juni 3, 2008 3:04 pm

    cicing mpas saguru saelmu ulah ganggu hehe..
    nu pasti mah data sekunder ieu mah

  3. Juli 2, 2008 12:02 pm

    bisaan euy

  4. tomu permalink
    September 18, 2008 7:26 am

    boleh minta tentang habitat bondol peking ngga untuk daerah jawa dan juga daerah india yang penelitian sharma. makasih ya sebelumnya.

  5. jou permalink
    Oktober 2, 2008 5:07 am

    halow bos..aku mahasiswa s2 environmental science di pilipine. rencana thesis nya nh d konservasi d alam kepulauan bintan, ada rekomendasi daerah mn yah yg cocok? thQ.

  6. Oktober 6, 2008 2:06 am

    Buat Tomu henri_9tak@yahoo.co.id
    Habitat Bondol peking biasanya ditemukan di padang rumput terbuka di lahan pertanian, sawah, kebun dan semak sekunder.
    Hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil, sering bergabung dengan kelompok bondol lainnyam contohnya dengan Bondol Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: