Skip to content

Bencana Alam sebagai Efek dari Pengkhianatan Manusia

Oktober 6, 2008

Merdunya kicauan burung, segarnya udara yang kita hirup, jernihnya air yang mengalir di sungai sangat sulit kita temui di lingkungan kita. Bagi masyarakat Kota Bandung pemandangan tersebut merupakan hal yang sangat langka, pun dengan masyarakat di pedesaan yang saat ini mengalami krisis yang sama. Kerusakan lingkungan yang terjadi merupakan sebuah efek kontinyuitas dari adanya perusakan atau penghilangan suatu komponen yang terdapat di alam ini.
Contoh saja ketika satwa liar seperti macan diburu oleh manusia maka tidak ada lagi binatang buas di hutan, sehingga manusia akan dengan leluasa mengambil segala sesuatu yang berada di hutan termasuk menebang pohon. Dan ketika sudah tidak ada lagi pohon di gunung maka malapetaka yang lain segera menyusul. Di musim kemarau manusia sangat sulit mendapatkan air bersih, tidak hanya di kota, di desa pun demikian. Sulitnya mendapatkan air bawah tanah merupakan dampak dari hilangnya pepohonan dan juga eksploitasi sumur artesis oleh sekelompok manusia, sehingga persediaan air tanah semakin menipis. Tidak hanya itu, air permukaan yang mengalir di sungai-sungai kini tak lebih dari aliran limbah berbahaya dan beracun yang siap membunuh semua biota air dan mahluk hidup yang tergantung dengan adanya air. Ketika musim penghujan tiba, aliran itu berubah menjadi malapetaka yang berbeda. Sungai yang meluap seakan-akan menjadi tamu tak diundang yang masuk ke dalam setiap rumah. Di beberapa tempat, luapan sungai dapat memporakporandakan rumah dan bangunan lainnya, tidak sedikit korban nyawa dan harta karena malapetaka tersebut. Di pegunungan kejadian longsor merupakan berita yang biasa didengar manakala musim penghujan tiba. Dan pada abad ini kita mengenal bencana alam yang paling mendunia, yaitu adanya pemanasan global (global warming) yang memiliki efek kontinyuitas yang sangat tinggi.
Hal demikian merupakan salah satu contoh musibah yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Tuhan Pencipta langit dan bumi dalam hal ini telah memperingatkan:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali”. (Ar Ruum, 30:41)

Musibah bencana alam yang terjadi adalah ulah tangan manusia sendiri sebagai akibat dari keserakahan dan kerakusan manusia. Selain itu sebab yang paling fatal adalah ketika manusia sudah tidak taat lagi kepada aturan-aturan yang diturunkan Sang Pencipta, mereka tidak sekalipun mengindahkannya, bahkan cenderung menutupi dan mengganti aturan yang telah diperintahkan oleh Sang Pencipta kepada mahlukNya. Sehingga musibah terjadi di segala bidang kehidupan, bukan saja bencana alam, musibah dalam bidang lainnya dari mulai bidang sosial, ekonomi, politik, sampai budaya adalah sebagai akibat kelalaian manusia terhadap aturan tersebut. Betapa tidak, pada hakikatnya manusia diturunkan ke bumi adalah sebagai wakil dari Sang Pencipta (mandataris Allah/khalifah).
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqoroh 2:30)

Tuhan telah memberikan amanah kepada manusia untuk menjadi wakilNya di muka bumi ini. Hal ini adalah amanah yang terbesar yang telah diberikan Tuhan kepada manusia, walaupun pada dasarnya manusia adalah mahluk yang membuat kerusakan, akan tetapi manusia lah yang dipilih Tuhan untuk menjadi khalifahNya. Manusia akan mampu menjaga amanah ini apabila mereka hanya tunduk, patuh dan taat kepada aturan yang Tuhan turunkan, apabila manusia menutupi (kafir) terhadap aturan-aturan itu maka akan terjadi kerusakan di segala bidang, tidak saja bencana alam melainkan kerusakan di seluruh alam raya ini.
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Al Anfaal 8:73)

Ayat-ayat di atas merupakan peringatan kepada kita sebagai manusia agar kembali kepada aturanNya. Apabila manusia kafir terhadap aturanNya maka kerusakan itu akan semakin besar seperti yang terjadi sekarang ini. Dan pastinya, jikalau kita masih dalam kondisi kafir (menutupi) aturanNya maka kerusakan yang lebih besar akan segera terjadi. Padahal telah jelas perintah yang diturunkan kepada manusia, hanya saja kita tidak menerapkannya, dan menggantinya dengan aturan yang dibuat oleh manusia sendiri. Hal tersebut merupakan sebuah pengkhianatan terhadap amanah yang telah diperintahkan oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu efek kontinyuitas dari berbagai musibah ini tidak dapat manusia hentikan sebelum manusia kembali kepada peraturan yang paling hakiki.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: