Skip to content

Burung-burung di Kawasan PATUHA Ciwidey (Kawah Putih dan Ranca Upas)

Januari 21, 2009

Burung-burung di Kawasan PATUHA Ciwidey (Kawah Putih dan Ranca Upas)

Oleh: Deri Ramdhani


Kawasan Pegunungan di Ciwidey yang terletak di sebelah selatan kota Bandung memiliki kelimpahan burung yang cukup beranekaragam. Keberadaan burung tersebut tidak terlepas dari kondisi habitat kawasan tersebut yang masih terjaga. Beberapa titik di kawasan Ciwidey merupakan ekosistem hutan alami, dan sebagian lagi sudah menjadi perkebunan dan pemukiman. Dua diantaranya yang masih memiliki ekosistem hutan adalah kawasan Kawah Putih dan Ranca Upas. Kedua kawasan tersebut merupakan kawasan wisata yang kini dikelola oleh Perhutani.

Kawah Putih dan Ranca Upas merupakan habitat bagi 103 jenis burung, baik jenis yang penetap ataupun jenis burung pengunjung dari Bumi Utara. Sedikitnya tercatat 10 jenis burung pengunjung (migran) yang terdapat di kawasan ini. Burung migran tersebut dapat teramati pada bulan-bulan tertentu yaitu dari bulan Oktober sampai bulan Maret. Salah satunya adalah burung Bubut-pacar jambul (Clamator coromandus) yang berukuran cukup besar dari kelompok Cuculidae. Selain itu terdapat burung kecil jenis Sikatan mugimaki (Ficedula mugimaki) yang berkunjung di kawasan ini.
Selain jenis migran, terdapat juga jenis burung endemik atau burung yang hanya terdapat di Pulau Jawa atau di Indonesia saja. Tak kurang dari 32 jenis burung yang endemik tercatat di kawasan ini. Dari 103 jenis burung yang ditemukan, 21 jenis termasuk burung-burung yang dilindungi, baik oleh Peraturan Pemerintah RI, Konvensi Perdagangan Internasional (Apendiks CITES), maupun Peraturan Konservasi Internasional (IUCN). Empat jenis burung yang ditemukan di kawasan ini masuk ke dalam kategori IUCN, antara lain: burung Cica matahari (Crocias albonotatus) dan Sikatan dada-merah (Ficedula dumetoria) yang memiliki status Near Threatened (hampir punah). Sedangkan dua jenis berikutnya memiliki status Endangered (terancam), yaitu: Luntur harimau (Harpectes reindwartii), dan Elang jawa (Spizaetus bartelsi) yang diidentikkan sebagai lambang Negara Indonesia.

No Nama Jenis Nama Lokal Distribusi Status Perlindungan
1 Acrocephalus orientalis Kerakbasi besar M
2 Aethopyga eximia Burung-madu gunung E A, D, E
3 Aethopyga mystacalis Burung-madu jawa E A, E
4 Alcippe pyrrhoptera Wergan jawa E D, E
5 Alophoixus bres Empuloh janggut
6 Amandava amandava Pipit benggala
7 Amaurornis phoenicurus Kareo padi
8 Arachnothera longirostra Pijantung kecil A, E
9 Arborophila javanica Puyuh-gonggong jawa E
10 Artamus leucorhynchus Kekep Babi
11 Brachypteryx leucophrys Cingcoang coklat
12 Brachypteryx montana Cingcoang biru
13 Centropus bengalensis Bubut alang-alang
14 Cettia vulcania Ceret gunung
15 Chloropsis cochinchinensis Cica-daun Sayap-biru
16 Cinclidium diana Berkecet biru-tua E
17 Clamator coromandus Bubut pacar jambul M
18 Collocalia linchi Walet linci
19 Coracina larvata Kepudang-sungu gunung E
20 Crocias albonotatus Cica matahari E D, E, NT
21 Cuculus saturatus Kangkok ranting
22 Cuculus sepulcralis Wiwik uncuing
23 Culicicapa ceylonensis Sikatan kepala-abu
24 Dendrocopus macei Caladi ulam
25 Dicaeum trochileum Cabai jawa E
26 Dicaeum sanguinolentum Cabai gunung E
27 Dicrurus leucophaeus Srigunting kelabu
28 Dicrurus remifer Srigunting bukit
29 Ducula lacernulata Pergam punggung-hitam E
30 Enicurus leschenaulti Meninting besar
31 Enicurus velatus Meniniting kecil E
32 Erythrura hyperythra Bondol-hijau dada-merah
33 Eumyias indigo Sikatan ninon E
34 Falco moluccensis Alap-alap sapi E B, E, II
35 Ficedula dumetoria Sikatan dada-merah NT
36 Ficedula hyperythra Sikatan bodoh
37 Ficedula mugimaki Sikatan mugimaki M
38 Ficedula westermanni Sikatan belang
39 Gallus varius Ayam-hutan hijau E
40 Halcyon cyanoventris Cekakak jawa E A, E
41 Harpactes reinwardtii Luntur harimau E A, EN
42 Hemipus hirundinaceus Jingjing batu
43 Hirundo striolata Layang-layang loreng
44 Hirundo tahitica Layang-layang batu
45 Ictinaetus malayensis Elang hitam B, E, II
46 Ixobrychus cinnamomeus Bambangan merah
47 Lanius schach Bentet kelabu
48 Lanius tigrinus Bentet loreng M
49 Lonchura leucogastroides Bondol jawa E
50 Lonchura punctulata Bondol peking
51 Lophozosterops javanicus Opior jawa E D
52 Macronous flavicollis Ciung-air jawa E
53 Macropygia ruficeps Uncal kouran
54 Malacocincla sepiarium Pelanduk semak
55 Megalaima armillaris Takur tohtor E D, E
56 Megalurus palustris Cica-koreng jawa
57 Motacilla cinerea Kicuit batu M
58 Napothera epilepidota Berencet berkening
59 Nectarinia jugularis Burung-madu sriganti A, E
60 Oriolus chinensis Kepudang kuduk-hitam
61 Orthotomus cuculatus Cinenen gunung
62 Orthotomus sepium Cinenen jawa E
63 Parus major Gelatik-batu kelabu
64 Passer montanus Burung Gereja Erasia
65 Pericrocotus miniatus Sepah gunung E
66 Pernis ptylorynchus Sikep madu asia M B, E, II
67 Phaenicophaeus curvirostris Kadalan birah
68 Phylloscopus borealis Cikrak kutub M
69 Phylloscopus trivirgatus Cikrak daun
70 Picus miniaceus Pelatuk merah
71 Pnoepyga pusilla Berencet kerdil
72 Pomatorhinus montanus Cica-kopi Melayu
73 Prinia familiaris Perenjak jawa E
74 Prinia inornata Perenjak padi
75 Prinia polychroa Perenjak coklat
76 Psaltria exilis Cerecet jawa E D
77 Pteruthius aenobarbus Ciu kunyit
78 Pteruthius flaviscapis Ciu besar
79 Ptilinopus porphyreus Walik Kepala-ungu E
80 Pycnonotus aurigaster Cucak kutilang
81 Pycnonotus bimaculatus Cucak gunung E
82 Pycnonotus goiavier Merbah Cerukcuk
83 Reindwardtipicus validus Pelatuk kundang
84 Rhinomyias olivacea Sikatan-rimba dada-coklat
85 Rhipidura phoenicura Kipasan ekor merah E D, E
86 Scolopax saturata Berkik-gunung merah
87 Seicercus grammiceps Cikrak muda E
88 Sitta azurea Munguk loreng
89 Spilornis cheela Elang ular bido B, E, II
90 Spizaetus bartelsi Elang jawa E B, E, EN, II
91 Spizaetus cirrhatus Elang brontok B, E, II
92 Stachyris melanothorax Tepus pipi perak E D, E
93 Stachyris thoracica Tepus leher-putih E D
94 Streptopelia chinensis Tekukur biasa
95 Sturnus sturninus Jalak cina M
96 Tesia superciliaris Tesia jawa E
97 Treron oxyura Punai salung
98 Tringa hypoleucos Trinil pantai M
99 Turnix suscitator Gemak loreng
100 Zoothera dauma Anis Sisik
101 Zoothera sibirica Anis Siberia M
102 Zosterops montanus Kacamata gunung
103 Zosterops palpebrosus Kacamata biasa

Sumber: Data Primer Bird Conservation Society 2008 dan Ramdhani 2006

Keterangan:
Peraturan Pemerintah RI
A = Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931
B = SK. Mentan No.421/kpts/um/8/1970
C = SK. Mentan No.66/kpts/um/2/1973
D = SK. Mentan No.757/kpts/um/12/1979
E = Peraturan Pemerintah No 7 th 1999
II = Apendiks CITES II
IUCN
EN = Endangered (terancam)
NT = Near Threatened (hampir punah)
Distribusi
M = Migran
E = Endemik Jawa/Indonesia

Kawasan Kawah Putih dan Ranca Upas memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Masing-masing memiliki ciri khas yang sulit ditemukan di tempat yang lain. Kawah Putih merupakan kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha, sedangkan Ranca Upas berada di bawahnya yang menjadi tempat bermuaranya sebagian air dari gunung-gunung yang ada disekitarnya. Kedua kawasan tersebut terletak pada suatu bentangan Gunung Patuha. Patuha sendiri berasal dari nama Pak Tua, dan masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh, dengan ketinggian 2.434 m dpl, dengan kisaran suhu 8-22°C, dan curah hujan 3740-4050 mm/th. Sedangkan Ranca upas berasal dari kata ranca yang artinya rawa, dan upas yang berarti serdadu Belanda. Dulunya dijadikan sarana tempat latihan militer tentara Belanda, dan beberapa titik di lokasi tersebut sampai kini dijadikan lokasi berlatih beberapa kesatuan militer tentara RI.
Ranca upas memiliki keunikan tersendiri, karena merupakan lahan basah yang berada di dataran tinggi, sehingga beberapa tumbuhan rawa hanya dapat ditemukan di sini. Oleh karena itu beberapa jenis burung air pegunungan tercatat menggunakan kawasan ini sebagai habitatnya. Salah satu diantaranya adalah burung Berkik-gunung merah (Scolopax saturata) yang hanya dapat ditemukan pada ekosistem lahan basah di pegunungan antara ketinggian 1200-2800 m dpl. Selain itu tercatat pula jenis burung air migran dari Bumi Utara, yaitu Trinil pantai (Tringa hypoleucos) yang biasanya ditemukan dalam kelompoknya di sekitar rawa-rawa Ranca upas.
Hutan alam di sekitar kawasan Gunung Patuha ditumbuhi oleh jenis pohon khas kawasan pegunungan, seperti Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argentea), Ki hujan (Engelhardia spicata), Huru (Litsea angurata), Ki huut (Glochidion obscorum), Hiur (Lithocarpus sundaicus), Pasang (Quercus sp.), Ki endog (Ilex pleiobrachiata), dsb. Selain tumbuhan alami, kawasan ini juga ditanami pohon produksi yang kini sudah tidak diambil kayunya, seperti pohon Kayu putih (Eucalyptus sp.), Pinus (Pinus merkusii), dan Akasia (Acasia decurens) yang biasanya mengelilingi area hutan alam. Selain itu terdapat juga hutan homogen jenis Rasamala (Altingia excelsa) tepatnya di sekitar bumi perkemahan Ranca upas yang berdekatan dengan tempat penangkaran rusa (Cervus timorensis).
Sedangkan fauna yang dapat ditemukan di kawasan ini antara lain aneka jenis primata seperti Lutung Jawa (Trachypithecus auratus sondaicus), Surili (Presbytis comata), dan mamalia lainnya seperti babi hutan (Sus vittatus), Ajag atau anjing hutan (Cuon alpinus), Mencek (Muntiacus muntjak), Jelarang (Ratufa bicolor), Kucing hutan (Felis bengalensis), Macan tutul (Panthera pardus pardus), Macan kumbang (Panthera pardus melas), serta berbagai jenis fauna lainnya.

Begitu kayanya hutan pegunungan di kawasan ini, sehingga kawasan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kita berharap kawasan ini dapat terus lestari, setidaknya luasan area hutannya tidak menyusut ataupun rusak di dalamnya yang dapat mengakibatkan berkurangnya species dan hilangnya keanekaragaman hayati lainnya. Sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang telah diberikanNya dengan beribadah hanya kepadaNya, yaitu dengan cara menjaga dan melestarikan kekayaan alam di negeri ini sebagai titipan Illahi.

Alhamdulillah….

Iklan
6 Komentar leave one →
  1. AGON permalink
    Mei 18, 2009 7:47 pm

    bisa ga minta referensinya ipa count

    • yadi permalink
      Desember 24, 2009 2:45 am

      kalo sekalian di liatin pitc gambar jenis burung2-nya mungkin lebih asik, jadi kita bisa tau bentuk sekalian namanya,,di tunggu ya om..

  2. Aldy permalink
    April 30, 2011 6:47 pm

    gambar burung sikatan spt apa?? apa warnanya hitam?

    • Mei 16, 2011 7:24 am

      Wahh… sikatan itu ada banyak jenisnya, pada umumnya tinggal di habitat hutan dengan warna bulu yang beranekaragam, memiliki ciri khas yang sama pada saat memburu serangga terbang yang merupakan makanan utamanya. Jenis Sikatan biasanya bergabung bersama dengan kelompoknya baik yang sejenis maupun dengan burung jenis yang lain yang satu suku atau berlainan suku, mereka beraktivitas secara bersama-sama di dalam hal mencari makan, selain itu supaya menghindari dari gangguan predator alaminya dan juga untuk memudahkan mencari pasangan. Istilah tersebut disebut juga dengan Flocking

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: