Skip to content

Burung-burung Kota Bandung (Ekspedisi Kutilang)

April 26, 2009

Executive Summary


Berdasarkan survey yang telah dilakukan BICONS dan data Ramdhani 2006, telah tercatat 86 jenis
burung yang menghuni Kota Bandung. Survey dilakukan di beberapa lokasi yang memiliki kelimpahan
burung yang tinggi, dan dilakukan di tiga tipe habitat burung antara lain: Taman kota, Lahan basah,
dan Ladang/kebun.
Hasilnya adalah:

  1. Terdapat 13 jenis burung endemik (15,12 %) yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa atau di Indonesia saja,
  2. Tercatat 15 jenis burung migran (17,44 %) yang melakukan perpindahan dari Wilayah Utara bumi pada musim dingin ke wilayah selatan bumi, dan kembali lagi ke utara pada musim panas.
  3. Terdapat 24 jenis burung (27,91 %) yang memiliki status dilindungi berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia, Apendiks CITES (Convention on Trade in Endangered Species of wild fauna and flora), dan IUCN (International Union for Conservation of Nature)

Dari 86 jenis burung yang tercatat, sebagian besar ditemukan di tipe habitat taman kota, yaitu 57
jenis burung (66,28 %) seperti di taman lingkungan, jalur hijau jalan, dan tempat pemakamam umum.
Hal ini menandakan jenis burung yang ditemukan di Bandung sangat tergantung dengan pepohonan
(arboreal) baik sebagai tempat untuk berkembangbiak, berlindung, dan mencari makan.
Lahan basah di Bandung menyediakan habitat bagi 41 jenis burung (47,67 %), lahan basah tersebut
berupa sawah, kolam atau sungai. Sedikitnya ditemukan 8 jenis (9,30 %) burung yang dikategorikan
sebagai burung air (kelompok burung yang mencari makannya tergantung pada keberadaan air).
Keberadaan lahan basah di Kota Bandung semakin terancam oleh pembangunan, dimana sebagian
besar terdapat di wilayah Bandung Timur dan Selatan yang memiliki tingkat perubahan fungsi lahan
yang tinggi.
Tipe habitat ladang/kebun yang terdapat di Bandung Utara dan Timur merupakan habitat yang baik
bagi beberapa jenis burung tertentu, seperti kelompok burung semak. Pada habitat tersebut tercatat
38 jenis burung (44,19 %) yang menghuni ladang dan kebun.
Kota Bandung menyediakan sumber makanan yang melimpah bagi burung. Sebagian besar (61 jenis
burung atau 70,93 %) sumber makanannya berupa serangga (insektivor). Dengan demikian burung
merupakan predator yang efektif yang berfungsi sebagai pengendali hama serangga, baik serangga
pada pohon, tanah, maupun serangga yang terbang di udara. Kelompok burung lainnya yang dapat
ditemukan di Kota Bandung adalah kelompok pemakan buah (frugivor 20,93 %), dan kelompok
burung pemakan biji (granivor 20,93 %). Kedua kelompok tersebut berfungsi secara alami sebagai
penyebar bibit tumbuhan yang berasal dari biji pohon tersebut. Kelompok burung yang lain berfungsi
membantu di dalam penyerbukan bunga, yaitu burung penghisap madu (nektarivor 3,49 %).
Kelompok burung air yang dapat ditemukan di kawasan lahan basah di Bandung menggantungkan
sumber makanannya pada ikan dan biota air lainnya (piscivor 13,95 %). Selain itu juga Kota Bandung
dihuni oleh kelompok burung pemangsa yang berfungsi sebagai top predator (karnivor 12,79 %).
Beberapa jenis burung pemangsa tersebut ditemukan hanya pada waktu tertentu saja yaitu pada
musim migrasi yang terjadi sekitar bulan September atau Oktober.

Keterangan status IUCN:
1. Extinct (Punah):
Species (dan taksa lain, seperti subspesies dan varietas) yang tidak ditemukan lagi di alam
2. Endangered (Genting):
Spesies yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk punah dalam waktu dekat
3. Vulnerable (Rentan):
Spesies yang genting dalam waktu dekat, karena populasinya menurun dan sebenarnya
menyusut
4. Rare (Langka):
Spesies yang mempunyai jumlah individu sedikit, seringkali disebabkan oleh sebaran geografis
yang terbatas atau kepadatan populasi yang rendah

Cucak-cucakan/The Bulbuls Family (Pycnonotidae)


Karakteristik : memiliki leher dan sayap pendek, ekor agak panjang dan paruh ramping.
Mempunyai bulu yang halus dan lembut, beberapa jenis berjambul tegak. Bulu burung jantan dan
betina mirip, kebanyakan mempunyai warna bulu yang buram dengan pola warna kuning, jingga,
hitam dan putih.
Burung cucak-cucakan terutama merupakan burung pemakan buah-buahan, walaupun mereka
juga memakan serangga. Merupakan burung yang penuh percaya diri, dengan kicauan yang ramai,
dan sangat musikal pada beberapa jenis. Cenderung hidup di pohon dan membuat sarang berbentuk
mangkuk yang tidak rapi. Tidak satu pun merupakan burung migran.
Di Sunda Besar terdapat 29 burung cucak, merbah, dan brinji.
Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Memiliki ukuran ± 20 cm, dengan kepala bertopi hitam. Pada bagian tunggir keputih-putihan
dan bagian tungging berwarna jingga kuning. Bagian dagu dan kepala atas hitam. Kerah, tunggir, dada,
dan perut putih. Sayap berwarna hitam dengan ekor berwarna coklat. Bagian iris mata berwarna
merah, sedangkan paruh dan kaki berwarna hitam. Suaranya merdu dan nyaring “cuk-cuk”, dan
“cang-kur” yang diulang cepat.
Penyebaran burung ini secara global mulai dari Cina selatan, Asia tenggara (kecuali
Semenanjung Malaysia) dan Jawa. Diintroduksi ke Sumatera dan Sulawesi selatan, juga baru-baru ini
mencapai Kalimantan selatan. Sedangkan penyebaran lokalnya sampai Sumatera, Jawa dan Bali. Di
Jawa dan Bali, merupakan salah satu jenis yang tersebar paling luas dan umum, sampai ketinggian
sekitar 1.600 mdpl.
Burung ini memiliki kebiasaan hidup dalam kelompok yang aktif dan ribut, sering berbaur
dengan jenis cucak lain. Lebih menyukai pepohonan terbuka atau habitat bersemak, di pinggir hutan,
tumbuhan sekunder, taman, dan pekarangan, atau bahkan kota besar seperti halnya di Kota Bandung.

Di Kota Bandung burung ini hidup di taman-taman kota dan pekarangan yang ditumbuhi oleh
pepohonan berbiji yang menjadi sumber makanannya.
Status perlindungan jenis burung ini tidak termasuk ke dalam burung yang dilindungi. Akan
tetapi burung ini dijadikan sebagai simbol fauna Kota Bandung yang disandingkan dengan
Patrakomala (Caessalpinia pulcherima) sebagai simbol floranya
Populasi dan Distribusi Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Dari sekitar 36 lokasi yang disurvey, tidak seluruhnya ruang terbuka hijau yang di dalamnya terdapat
burung kutilang. Hanya sekitar 27 lokasi yang tercatat adanya kutilang, dimana lokasi yang paling
besar jumlah populasinya adalah di Taman Merdeka, yaitu sekitar 26 individu atau sekitar 9,85%.

Populasi dan Distribusi Kutilang di Bandung

No. Nama Lokasi Jumlah individu % No. Nama Lokasi Jumlah individu

%

1 Taman Merdeka 26 9.85 15 Jl. Dago 8 3.03
2 Jl. Diponegoro 19 7.20 16 TPU Pandu 7 2.65
3 Taman Maluku 16 6.06 17 Jl. Riau 6 2.27
4 Taman UPI 16 6.06 18 TPU Sirnaraga 6 2.27
5 Taman Tegalega 15 5.68 19 TPU Babakan Ciparay 5 1.89
6 Tahura Djuanda 15 5.68 20 Taman GOR Pajajaran 5 1.89
7 Taman Pramuka 14 5.30 21 Punclut 5 1.89
8 Taman Lalulintas 14 5.30 22 Taman Kangkung 4 1.52
9 Babakan Siliwangi 13 4.92 23 Jl. Pajagalan 4 1.52
10 Taman Pendopo 12 4.55 24 TPU Ranca Cili 3 1.14
11 Jl. Supratman 12 4.55 25 TPU Astana Anyar 3 1.14
12 Taman Cilaki 10 3.79 26 TPU Cikutra 3 1.14
13 Taman Ganesha 10 3.79 27 Patal Cipadung 3 1.14
14 JL Cipaganti 10 3.79 264 100.00


Iklan
3 Komentar leave one →
  1. Catur permalink
    Mei 20, 2009 5:07 am

    Dear Mas Deri,
    Bisa kirim artikelnya ke email cool_joja@yahoo.com
    Saya tertarik untuk membaca, cuman karena tampilannya kurang jelas jadi cukup memganggu. Bisakah Mas Deri kirim artikelnya
    Thx

    Cheers,

    CSU

  2. mursidin permalink
    Juni 26, 2009 8:14 am

    maju terus pengamatan d pelestarian burung-burung di indonesia

  3. Abu rizal permalink
    Juli 8, 2009 10:13 am

    Mas deri, kapan nih survey di kota2 se indonesia?
    Nanti bikin tulisan lagi ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: