Skip to content

Avifauna (Burung) di Padalarang dan sekitarnya (Fokus Lokasi : Gua Pawon – Gunung Masigit)

April 24, 2010

Avifauna (Burung) di Padalarang dan sekitarnya

(Fokus Lokasi : Gua Pawon – Gunung Masigit)


Oleh : Deri Ramdhani


Waktu itu di pagi hari kami berenam yang tergabung dalam komunitas pengamat burung BICONS (Birds Conservation Society) berencana melakukan perjalanan ke Gua Pawon untuk melakukan pengamatan di kawasan yang terkenal sebagai salah satu situs sejarah dimana ditemukannya fosil manusia purba yang menghuni Gua tersebut. Kawasan ini terletak di sebelah barat Kota Bandung, tepatnya berada di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Perjalanan ke lokasi menyita waktu kurang lebih satu jam dengan mengunakan motor melewati Kota Cimahi dan Kota Padalarang menuju ke arah Cianjur. Semakin mendekati ke lokasi terlihat beberapa truk besar yang hilir mudik mengangkut batuan dari bukit-bukit yang tampak semakin terkikis. Truk-truk tersebut berumur puluhan tahun dan sering disebut dengan nama “bayawak” karena memang memiliki moncong yang khas.

Keluar dari jalan raya Padalarang kami mulai memasuki jalan menuju kawasan Gua Pawon. Jalan inilah yang digunakan sebagai jalur transportasi truk “bayawak” dari dan menuju lahan tambang galian C yang terdapat di bukit-bukit yang salah satunya bernama Gunung Masigit. Kawasan ini merupakan kawasan karst yang terbentuk dari cekungan danau Bandung purba selama jutaan tahun yang lampau. Tipe vegetasi di kawasan ini didominasi oleh vegetasi semak, karena lapisan tanah yang tipis yang hanya terdapat di permukaan saja, selebihnya berupa batuan kapur atau dikenal dengan karst.

Beberapa jenis tumbuhan dari kelompok semak yang jumlahnya melimpah adalah jenis Kipait (Tithonia diversifolia), Kirinyuh (Eupathorium odoratum), Babadotan (Ageratum conyzoides), Widelia (Wedelia triloba), Jarong (Stachytarpheta jamaicensis), kembang telang (Clitoria ternatea), dan beberapa jenis rumput (cyperaceae). Berlimpahnya rumput dan beberapa jenis semak di kawasan ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai pakan ternak. Selain itu beberapa jenis satwa liar juga tampak memanfaatkan semak-semak tersebut sebagai tempat bersarang, mencari makan, dan tempat berlindung. Mammalia kecil yang hidup di habitat tersebut seperti jenis tikus ladang (Rattus sp.), Musang (Paradoxiurus hermaproditus), dan Bajing (Tupaia sp.). Sedangkan untuk jenis burung semak yang tercatat adalah Bubut alang-alang (Centropus bengalensis), Cici padi (Cisticola juncidis), Bentet kelabu (Lanius schach), Cinenen jawa (Orthotomus sepium), Cinenen pisang (Orthotomus sutorius), Perenjak jawa (Prinia familiaris), Gemak loreng (Turnix suscitator), dan dua jenis burung pipit, yaitu Bondol jawa (Lonchura leucogatroides), dan Bondol peking (Lonchura punctulata).

Sedangkan di lahan yang sedikit landai masyarakat setempat menanaminya dengan tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian, yang diselingi beberapa tanaman kayu seperti Albasiah (Albizzia sp.), Pisang (Musa paradisiaca), Cebreng, dan bibit pohon Mahoni (Swietenia mahagoni). Pada habitat pepohonan ini beberapa jenis burung arboreal dapat ditemukan, seperti  Burung pelatuk dari jenis Caladi ulam (Dendrocopus macei) dan Caladi tilik (Picoides moluccensis), selain itu burung kosmopolit arboreal dari jenis Cabe jawa (Dicaeum trochileum), burung Madu sriganti (Nectarinia jugularis), dan Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus) menambah keanekaragaman burung di kawasan Gua Pawon ini.

Luasnya semak-semak yang terdapat di kawasan ini turut mengundang kelompok burung pemangsa (raptor), yaitu jenis Alap-alap sapi (Falco molucensis) yang dapat dengan leluasa berburu dari tenggerannya atau mengintai ketika sedang terbang melayang (soaring). Pada malam harinya giliran kelompok burung nokturnal yang melakukan perburuan, dua jenis diantaranya adalah Serak jawa (Tyto alba) yang gemar berburu mammalia kecil atau burung, dan Cabak kota (Caprimulgus affinis) yang berburu serangga malam. Cabak kota biasanya bersarang dan beristirahat pada siang hari di lantai tanah yang tertutupi oleh semak-semak. Sedangkan Serak jawa atau koreak bersarang dan beristirahat pada siang hari di atap bangunan atau di gua-gua.

Adalah Gua Pawon yang kini dijadikan situs bersejarah ditemukannya fosil manusia Bandung Purba. Di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit yang terbentuk dari proses pengendapan mineral oleh tetesan air dalam jangka waktu yang lama. Lorong gua yang gelap dan lembab menjadikan habitat yang cukup nyaman bagi beberapa satwa liar seperti mammalia terbang dari kelompok kelelawar yang hidup bergantungan pada atap-atap gua. Terlihat juga beberapa sarang burung dari kelompok burung walet atau burung layang-layang, yaitu dari jenis Walet linci (Collocalia linchi), Kapinis rumah (Apus affinis), Layang-layang batu (Hirundo tahitica), dan Layang-layang loreng (Hirundo striolata), mereka menggantung dan bersarang pada dinding dan atap gua. Berdasarkan wawancara terhadap penduduk sekitar, beberapa tahun yang lalu masih dapat ditemukan jenis Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), namun sekarang ini tampaknya sudah menghilang keberadaannya.

Adanya eksploitasi yang berjalan sangat cepat terhadap habitat kawasan Gua Pawon turut mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati khas kawasan karst atau tepatnya kawasan Gua Pawon. Gangguan habitat yang paling besar adanya penambangan batu yang dari tahun ke tahun areal tambangnya semakin meluas, sehingga mempersempit habitat satwa liar. Selain hilangnya habitat satwa liar, dampak dari kegiatan tambang Galian C tersebut adalah hilangnya sarana penelitian sejarah berupa situs geologi yang berumur jutaan tahun.

Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena nilai keanekaragaman hayati dan geologi tidak kalah pentingnya dengan kegiatan penambangan yang mengatasnamakan pembangunan ekonomi. Dari segi keanekaragaman hayatinya yaitu spesifik pada keanekaragaman burungnya, kawasan Gua Pawon sejauh ini merupakan habitat bagi 27 jenis burung, dimana sebanyak 5 jenis diantaranya merupakan burung yang dilindungi oleh peraturan perundangan RI dan Internasional.

-Sekian-

Iklan
6 Komentar leave one →
  1. indiana jods permalink
    Juni 24, 2010 8:07 am

    menarik Mang Deri.. Komo mun ngajak2 :p

  2. Juni 25, 2010 10:44 am

    Alhamdulillah atuh…
    Sumuhun siap mang jods, iraha atuh tiasa diajakna? 😛

  3. Agustus 15, 2010 2:09 am

    salam, kang tentang agama rakyat itu memang benar,
    ngomong-ngomong, jika saat bulan ramadhan kita jalan-jalan (tadabur) pasti menyenangkan. salam kenal @kang

    Budi

  4. Agustus 18, 2010 4:34 pm

    Pastinya Pak, gabung aja sama komunitas pelestari lingkungan, kebetulan di bandung ada, dan saya ikutan gabung juga…seru n menarik tadabur n iqro alam ini…

  5. Februari 27, 2011 4:49 am

    nuhun data na kang,, hehee.. 🙂

  6. Maret 10, 2011 4:47 am

    Sami2 Ei, syukur Alhamdulillah tiasa kaanggo n mangpaat mah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: