Skip to content

CERITA DI BALIK LOMBA PENGAMATAN BURUNG TINGKAT NASIONAL ”UJUNG PANGKAH WATER BIRD WATCHING RACE 2008”

April 24, 2010

Cerita ini berawal ketika kami “Biconers” melakukan evaluasi event Hari Bumi “Dago Walking Day “ di Sasana Budaya Ganesha ITB. Ketika itu kami membahas mengenai acara yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan ke depannya seperti memperingati Hari Cinta Satwa Puspa Nasional dimana salah satu acaranya akan diisi oleh lomba pengamatan burung (bird race) yang rencananya akan diselenggarakan sekitar bulan November 2008. Seiring dengan rencana kegiatan tersebut kami pun sepakat untuk memulai menginformasikan dan mempromosikannya melalui pendelegasian anggota BICONS pada kegiatan bird race yang diadakan oleh Himabio ITS – Surabaya yang akan berlangsung dari tanggal 25 – 27 April 2008. Singkat cerita terbentuklah satu tim Bicons yang terdiri dari tiga orang anggota Bicons yaitu Puput, Ima dan saya sendiri.

Dengan diiringi oleh doa dan restu dari biconers yang lain kami pun berangkat pada hari Kamis tanggal 24 April 2008 diantarkan oleh koordinator Bicons Kang Tedi menuju Stasion Bandung. Kami berangkat menuju Surabaya menggunakan Kereta Api Mutiara Selatan sekitar pukul 5 sore bersama dengan tim dari Himbio Unpad yang waktu itu mengirimkan 2 tim…

Ketika di perjalanan kami belajar dan berdiskusi mengenai burung air (water bird), karena bagi kami sebagai orang Bandung yang kesehariannya tinggal di gunung dan jauh dari laut, burung air adalah sesuatu yang selalu menjadi “tantangan” untuk diamati. Beberapa jenis burung air pun sempat terlihat dan menjadi bahan untuk berdiskusi pada saat kereta melewati areal persawahan Gedebage dan Rancaekek. Dua jenis diantaranya adalah jenis yang cukup umum ditemukan, yaitu Blekok sawah (Ardeola speciosa) dan Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) yang sering terlihat terbang membentuk formasi huruf V pada saat sore hari.

Kereta pun berlalu meninggalkan burung-burung dan kota Bandung menuju ke arah timur menjauhi matahari yang waktu itu tenggelam di ufuk barat…

Banyak kota kami lewati dan beberapa kota kami singgahi karena kereta yang kami tumpangi memang harus singgah di kota tersebut. Kroya, Gombong, Kebumen, Yogyakarta, Solobalapan, Madiun, Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojokerto…

14 jam berlalu tibalah kami di Stasion Gubeng yang merupakan salah satu stasion besar di Kota Surabaya. Setibanya di sana kami disambut oleh kawan kami yang bernama Asih yang baru lulus dari Universitas Airlangga. Kami kenal dengannya lewat event bird race yang biasa kami ikuti. Dia pun ikut dan mengantarkan kami sampai ke kampus ITS. Di sana kami disambut oleh panitia bird race ITS.

Perjalanan yang jauh dan suhu Surabaya yang panas membuat kami semua menanyakan hal yang sama pada panitia, “Mba mba… kamar mandinya dimana yah?”. Sambil mengantri kamar mandi, kami pun bersosialisasi dengan para peserta yang lain. Jumlah total peserta adalah 22 tim terdiri dari organisasi mahasiswa, LSM, kelompok pecinta burung, dan satu tim dari SMA. Peserta yang hadir waktu itu yang paling jauh berasal dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan peserta yang berasal dari luar Jawa adalah Himabio Universitas Udayana Bali.

Sekitar pukul 13.00 kami bersama peserta lainnya mengikuti technical meeting dan pembukaan acara yang dibuka oleh Dekan FMIPA ITS dengan acara simbolik pelepasan beberapa ekor burung Bondol peking (Lonchura punctulata).

Lokasi perlombaan dibagi menjadi tiga lokasi yaitu Kampus ITS, Pertambakan Ujung Pangkah Gresik, dan Muara Sungai Bengawan Solo Gresik.

Tepat pada pukul 15.00 perlombaan pun dimulai di lokasi yang pertama yaitu Kampus ITS. Para peserta tampak mempersiapkan senjatanya masing-masing, mereka bergegas menuju lokasi yang diperkirakan menjadi habitat burung yang paling melimpah. Dengan binokuler yang menggantung di leher dan tiang tripod yang terpasang berikut monokulernya telah disiapkan untuk membidik sasaran buruan burung-burung kawasan Kampus ITS, dan perlombaan pun dimulai… the battle has begun… Biconers!!!..let’s beat them all!!!…

Kawasan kampus ITS dihuni oleh 56 jenis burung, data tersebut didapatkan dari salah seorang teman kami yang selalu melakukan pengamatan burung kampus secara rutin. Akan tetapi pada sore itu kami hanya dapat menemukan 28 jenis saja, yaitu jenis yang biasanya umum terlihat dan terdapat di Bandung juga. Sebagian besar burung yang berhasil kami catat ditemukan di wilayah hutan kampus. ITS memang memiliki kawasan hutan kampus yang cukup luas dengan komposisi vegetasi yang beranekaragam. Beberapa bagian lahannya dijadikan tambak atau tempat pemancingan, sedangkan sebagian lagi ditanami pohon-pohon pelindung jalan, pohon buah, tanaman budidaya, dan ada yang dibiarkan liar sehingga ditumbuhi semak-semak dan tumbuhan air lainnya. Kondisi demikian menjadikan beberapa jenis burung air seperti Kareo padi (Amarournis phoenicurus) dan burung semak seperti Kerakbasi kecil (Acrocephalus stentoreus) dan juga keluarga burung Perenjak (Prinia spp.) jumlahnya melimpah di kawasan tersebut.

Pengamatan pun berakhir ketika menjelang maghrib, para peserta mengumpulkan hasil pengamatan yang ditulis pada buku notes kepada panitia. Peraturan perlombaan pengamatan burung di ITS ini melarang peserta membawa buku panduan burung (field guide), sehingga apabila peserta menemukan satu jenis burung maka peserta diharuskan membuat sketsa beserta deskripsinya pada buku kecil yang telah dibagikan untuk meyakinkan tim juri bahwa peserta betul-betul telah melihat jenis tersebut, dan yang lebih penting lagi adalah agar peserta terbiasa dengan pengamatan burung yang baik dan benar.

Sekitar pukul 20.00 para peserta berangkat menuju lokasi pengamatan selanjutnya yaitu di Muara Sungai Bengawan Solo atau disebut dengan Delta Solo atau Ujung Pangkah yang terletak di kabupaten Gresik. Lokasi tersebut merupakan kawasan yang menjadi daerah penting bagi burung (important bird area/IBA) terutama burung air, yaitu berdasarkan publikasi dari BirdLife International tentang kawasan penting bagi burung di dunia. Waktu tempuh untuk menuju lokasi tersebut kurang lebih 2 jam dari kampus ITS. Kami menempuhnya menggunakan bis yang disediakan oleh panitia. Sesampainya di sana kami langsung mendirikan tenda di dekat pemukiman masyarakat dan letaknya tak jauh dari kantor nelayan yang biasanya dijadikan sebagai tempat pelelangan ikan.

Pada pagi harinya setelah sholat shubuh dan melakukan sarapan, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi pengamatan yang kedua yaitu di areal pertambakan Ujung Pangkah. Kami berjalan menyusuri tegalan-tegalan di pinggiran tambak sambil mengarahkan teropong yang menjadi senjata andalan kami. Iringan burung kuntul (Egretta spp.) yang berwarna putih menyambut kehadiran kami, diselingi dengan riuhnya suara Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) dan Kapasan kemiri (Lalage nigra) juga tak ketinggalan merdunya kicauan Cipoh kacat (Aegithina tiphia) menambah semaraknya perlombaan itu. Sesekali terlihat kelompok burung Dara-laut dari jenis Chlidonias spp. dan Sterna spp. terbang melintasi para peserta lomba pengamatan. Burung Cekakak sungai (Todirhampus chloris) yang hampir mirip dengan saudaranya Cekakak suci (Todirhampus sanctus) membuat kami sedikit berlama-lama mengamati, karena perbedaannya yang tipis pada warna perutnya, dimana pada Cekakak suci warnanya lebih kuning dan kusam, juga ukurannya yang lebih kecil. Menurut literatur, jenis tersebut migran selama musim dingin dari Australia, yaitu bulan April sampai September.

Saat mentari mulai naik dan udara semakin panas kami pun berteduh di bawah pohon bakau-bakau Rhizophora spp. dan Avicennia spp. sambil mengamati kelompok bebek yang sedang berenang dan sesekali terlihat menyelam mencari mangsa pada tambak ikan tepat di depan tempat kami sedang berteduh. Rupanya yang kami lihat adalah jenis Itik alis-putih (Anas querquedulla), dan jenis bebek lainnya yaitu Belibis batu (Dendrocygna javanica) terlihat sedang berkejaran satu sama lain. Tak jauh dari lokasi tersebut terdapat sarang-sarang kelompok Kuntul (Egretta spp) yang tersusun pada kanopi pohon-pohon bakau yang letaknya berada di tengah-tengah tambak. Tercatat diantaranya jenis Kuntul besar (Egretta alba), Kuntul kecil (Egretta garzetta), Kuntul perak (Egretta intermedia), dan keluarga Kuntul lainnya. Beberapa jenis burung air lainnya juga tercatat pada tempat yang sama, seperti jenis Kokokan laut (Butorides striatus), kelompok Bambangan dari mulai Bambangan merah (Ixobrychus cinnamomeus), Bambangan coklat (Ixobrychus eurhythmus), sampai Bambangan kuning (Ixobrychus sinensis) dan tak ketinggalan juga si Kowak-malam kelabu (Nycticorax nycticorax) yang sekarang menjadi burung air khas Kota Bandung, burung yang kini menjadi maskot Sunday Bird Watching-nya Bicons.

Selain burung air, kami juga mencatat jenis-jenis yang lain, diantaranya Raja-udang Biru (Alcedo coerulescens) yang terlihat sedang terbang melesat menyambar ikan dari pohon yang menjadi tenggerannya, dimana pohon tersebut dihuni juga oleh Kekep babi (Artamus leucorhynchus) yang bertengger pada puncak pohon kering tersebut. Beberapa meter dari sana terlihat burung Kipasan belang (Rhipidura javanica) yang sedang mengejar burung Kacamata jawa (Zosterops flavus), tampaknya dia merasa terganggu karena sarangnya di dekati oleh burung tersebut.

Beberapa jenis burung tercatat terbang tinggi melintasi areal pertambakan, satu diantaranya adalah jenis Gagang-bayam timur (Himantophus leucocephalus) yang bentuk tubuh dan kakinya memanjang dengan warna dominan putih dan warna hitam pada tubuh bagian belakang. Jenis burung lainnya adalah Cangak laut (Ardea sumatrana) yang arah terbangnya tampak menuju laut, kemudian beberapa menit setelahnya tampak tiga ekor Gagak hutan (Corvus enca) terbang dari arah yang berlawanan. Pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris) dan Pecuk-padi kecil (Phalacrocorax niger) berhasil kami identifikasi, sangat tipis memang perbedaan diantara keduanya, yaitu pada paruh yang berwarna kuning pada Pecuk-padi kecil dan warna hitam pada Pecuk-padi hitam.

Pengamatan waktu itu berakhir saat mentari tepat di atas kepala kita, dan seluruh peserta kembali menuju basecamp untuk melanjutkan pengamatan di lokasi yang ketiga.

Lokasi pengamatan selanjutnya adalah Muara Sungai Bengawan Solo yang dapat ditempuh dengan menggunakan perahu. Siang itu sebanyak 22 tim ditambah dengan panitia dan juri berangkat menuju muara sungai dengan menggunakan lima perahu nelayan.

Para peserta mulai melakukan pengamatan di sepanjang perjalanan dari atas perahu. Agak sulit memang pengamatan yang kami lakukan, karena perahu tidak bisa diam dan selalu terombang-ambing oleh gelombang ombak yang menghantam perahu. Kendati demikian, kami harus tetap berkonsentrasi penuh mengamati lingkungan sekitarnya, siapa tahu saja ada jenis burung yang belum tercatat oleh kami.

Tanpa terasa ke-empat perahu yang lainnya sudah jauh meninggalkan perahu yang kami tumpangi. Mungkin karena kekuatan motornya yang berbeda dengan ke-empat perahu tersebut akhirnya kami tertinggal jauh di belakang. Kami sedikit kecewa dengan keadaan tersebut, akan tetapi kami juga tidak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa memaksimalkan pengamatan dengan menyisir tepian sungai menggunakan teropong kami. Dan hasilnya cukup memuaskan, kami berhasil mencatat jenis-jenis baru, seperti sepasang Bubut besar (Centropus sinensis) yang terlihat terbang pada semak-semak di tepi sungai, dan tak jauh dari sana terlihat Kirik-kirik biru (Merops viridis) yang bertengger bersama kelompoknya di ranting-ranting pohon yang kering. Beberapa jenis burung terlihat menyebrangi sungai, tercatat diantaranya adalah Bambangan hitam (Dupetor flavicollis), Tiong batu (Eurystomus orientalis) dan Gemak loreng (Turnix suscitator).

Setelah beberapa jam berlalu akhirnya perahu sampai di lokasi yang dituju. Rupanya kami harus menunggu surutnya air laut untuk melihat hamparan lumpur (mudflat) pada tepi mangrove yang biasanya dijadikan tempat mencari makan yang paling disukai oleh berbagai jenis burung air.

Saat air laut surut mudflat pun terbentuk, lalu tiba-tiba datanglah rombongan burung air menyerbu lokasi tersebut. Mereka tertarik dengan mudflat karena menyediakan berbagai macam sumber makanan yang disukai, seperti ikan dan berbagai jenis invertebrata berupa kepiting, cacing, mollusca, dan udang-udangan. Selain kelompok burung air seperti Kuntul (Egretta spp.) dan keluarga Ardeidae lainnya, mudflat juga disukai oleh kelompok burung pantai migran (shore birds) yang waktu itu tercatat beberapa jenis, diantaranya dari kelompok Gajahan (Numenius spp.), Trinil (Tringa spp.), dan Biru-laut ekor-blorok (Limosa lapponica). Hadir juga kelompok burung laut (sea birds) dari keluarga Dara-laut (Sternidae) dan Camar (Laridae) yang ikut memeriahkan “pesta laut” waktu itu.

Pengamatan pun berakhir ketika penglihatan pada teropong kami sudah tak jelas lagi, dan ternyata mentari perlahan mulai menenggelamkan diri di ufuk barat. Padahal kami masih belum puas menyaksikan kemeriahan “pesta laut” para “pembelah angkasa” yang jarang sekali kami temui.

Menarik memang, kawasan tersebut kaya akan burung air dan burung liar lainnya. Bagi beberapa peserta, perjalanan tersebut memberikan kesan yang mendalam akan keindahan panorama dan burung-burungnya, pun bagi beberapa peserta lainnya yang tidak terbiasa dengan perjalanan air seperti itu, mereka merasakan pusing dan masuk angin setelah mengalami panas terik di siang harinya dan angin laut yang cukup besar disertai gelombang ombak yang menggoyang-goyang perahu di sepanjang perjalanan.

Pada malam harinya peserta berkumpul di kantor nelayan untuk mengikuti kuis sebagai tambahan poin penilaian tim juri, dan sebelumnya lembar pengamatan beserta buku notes dikumpulkan ke panitia. Setelah kuis selesai acara dilanjutkan dengan sosialisasi, dan tidak lupa kami menyampaikan informasi dan mempromosikan bahwa Bicons akan mengadakan lomba pengamatan burung di Bandung sekitar bulan November.

Setelah acara tersebut kami pun beristirahat untuk mempersiapkan acara keesokan harinya.

Pada Esok harinya peserta mengikuti kegiatan penanaman mangrove di sempadan Bengawan Solo, dan penanaman pohon Ketapang di sepanjang pinggiran sungai Bengawan Solo. Kegiatan tersebut layak ditiru, karena selain dapat memperbaiki habitat burung, penanaman pohon juga penting sebagai penyerap karbon dan pencegah global warming yang menjadi tema dari kegiatan perlombaan ini.

Setelah kegiatan tersebut selesai, peserta kembali dikumpulkan di kantor nelayan untuk mengikuti acara penutupan sekaligus pengumuman pemenang perlombaan. Acara diakhiri dengan pidato yang disampaikan oleh Camat Ujung Pangkah dan Ketua Nelayan Ujung Pangkah mengenai pentingnya menjaga kawasan mangrove sebagai habitat ikan dan burung air.

Kemudian pengumuman pemenang dibacakan oleh perwakilan juri dari Wetlands International Indonesia Program yaitu Kang Ferry Hasudungan, dan berikut susunan pemenang perlombaan:

  • Juara 1 diraih oleh BICONS
  • Juara 2 diraih oleh KPB Nycticorax Universitas Negeri Jakarta
  • Juara 3 diraih oleh Tim 2 KSSL Universitas Gadjah Mada
  • Juara Kawasan Ujung Pangkah Kab. Gresik diraih oleh BICONS
  • Juara Kawasan Kampus ITS Surabaya diraih oleh KSSL Tim 1 UGM

Untuk species kunci pada perlombaan ini adalah:

  1. Tikusan alis putih / White-browed Crake (Porzana cinerea)
  2. Bambangan hitam / Black Bittern (Dupetor flavicollis)
  3. Pecuk padi kecil / Little Cormorant (Phalacrocorax niger)

Dimana dua diantaranya berhasil kami catat keberadaannya.

Prestasi ini merupakan anugerah yang tak ternilai bagi kami yang diberikan Allah SWT, Alhamdulillah…

Ucapan terima kasih kami sampaikan pada pengurus Bicons atas kepercayaan yang telah diberikan, terima kasih juga buat kawan-kawan Biconers atas do’a dan dukungannya. Sebenarnya bagi kami ada yang jauh lebih penting dari sekedar berlomba, yaitu bersilaturahmi dengan komunitas pengamat burung se-Indonesia sehingga kami bisa berbagi pengalaman dan informasi mengenai kegiatan yang dilakukan di daerahnya masing-masing. Semoga Allah SWT meridhoi kegiatan ini, amin.

<Deri Ramdhani>

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. jihan permalink
    Desember 31, 2010 5:31 pm

    om,, gak ada fotonya?

  2. jihan permalink
    Desember 31, 2010 5:39 pm

    om dhani,, bisa minta foto-fotonya? saya mahasiswa pariwisata asal ujungpangkah, lagi ngerjain skripsi mengenai identifikasi potensi wisata alam di ujungpangkah. nah ini lagi butuh data foto macam-macam burung. sebagian saja gak apa..

  3. Januari 2, 2011 4:21 pm

    Oh gitu yah… ada sih fotonya, tapi kalo mau foto burung2nya yg lebih lengkap mah coba kontak aja ke Mas Agus, ini webnya http://asatrio.wordpress.com/
    kebetulan beliau kuncennya 😀 dan saya cuma bertamu beberapa hari aja disana…
    Makasih banyak de Jihan, en mohon maaf bila jawabannya kurang memuaskan… 🙂

    Deri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: